POJOKSATU.id - Kabar membanggakan datang dari Universitas Airlangga (Unair).

Dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unair, Elly Munadziroh, berhasil mengembangkan inovasi biomaterial yang kini telah memperoleh hak paten.

Inovasi tersebut berpotensi besar untuk mempercepat dan mengoptimalkan proses penyembuhan luka maupun tulang.

Baca Juga: Cara Login ASN Digital di asndigital.bkn.go.id dan Aktivasi MFA Langkah Demi Langkah, Simak Lengkapnya

Biomaterial yang dikembangkan Elly berupa metode pembuatan biokomposit membran amnion sapi yang dikombinasikan dengan hidroksiapatit.

Kombinasi ini dinilai memiliki kemampuan mendukung regenerasi jaringan secara lebih optimal, khususnya dalam bidang kedokteran gigi dan medis.

Elly mengungkapkan, motivasi utama riset ini berangkat dari keinginannya menghadirkan produk medis karya anak bangsa.

Baca Juga: LOWONGAN KERJA Kementerian ATR-BPN hingga 11 Januari 2026, Dibuka untuk D3–S1 di Berbagai Posisi Strategis

Selama ini, kata dia, sebagian besar material medis yang digunakan dokter gigi masih bergantung pada produk impor.

“Karena selama ini sebagian besar material yang digunakan oleh dokter gigi mayoritas berasal dari produk luar negeri atau impor,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 2 Januari 2025.

Pemanfaatan Membran yang Selama Ini Terbuang
Penelitian ini merupakan riset berkelanjutan yang bermula dari disertasi Elly saat menempuh pendidikan doktoral.

Baca Juga: Alhamdulillah! Gaji PPPK Paruh Waktu Nganjuk Cair, Bupati Tegaskan Tak Boleh Lebih Rendah dari Gaji Honorer

Fokus penelitiannya tertuju pada membran amnion, yakni selaput bayi yang umumnya terbuang setelah proses persalinan.

Padahal, membran amnion diketahui mengandung berbagai nutrisi penting, kolagen, serta komponen biologis lain yang sangat mendukung proses penyembuhan luka dan regenerasi tulang.

Potensi inilah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut hingga menjadi biomaterial berpaten.

Baca Juga: Seleksi CPNS 2026 Dosen Segera DIBUKA, Bukan PPPK, Kemendiktisaintek Siapkan 47 Ribu Formasi, Kualifikasi S2 dan S3

“Inovasi ini memanfaatkan material yang bersifat alami dan berasal dari tubuh manusia, sehingga harapannya memiliki tingkat kompatibilitas yang baik dan meminimalkan risiko penolakan oleh tubuh,” jelas Elly.

Ia berharap, pemanfaatan material yang sebelumnya terbuang ini bisa memberikan nilai tambah dalam dunia medis.

Dalam proses risetnya, Elly juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan dan kesiapan fasilitas laboratorium.

Baca Juga: PPPK 2026 Kapan Dibuka? Ini Bocoran Terbaru Pemerintah yang Wajib Diketahui Pelamar

Penelitian biomaterial, menurutnya, membutuhkan dukungan dari berbagai laboratorium dengan spesifikasi berbeda.

Untuk mengatasi hal tersebut, Elly menekankan pentingnya membangun jejaring riset dengan berbagai laboratorium dan pusat penelitian.

Kolaborasi menjadi kunci agar riset dapat terus berjalan dan berkembang.

Ke depan, Elly berencana mengembangkan inovasi ini ke tahap yang lebih luas melalui uji klinis.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan Terungkap! Ibu yang Tewas Bersama Dua Anaknya Ternyata Single Parent

Setelah seluruh tahapan uji klinis terpenuhi dan sesuai standar, produk biomaterial tersebut diharapkan bisa dikomersialisasikan melalui kerja sama dengan industri.

Di akhir, Elly berpesan kepada para peneliti muda agar tidak mudah menyerah dan terus bersemangat melakukan penelitian.

Menurutnya, dunia riset masih terbuka luas dan menyimpan banyak peluang untuk dikembangkan demi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. ***