POJOKSATU.id - Kawasan Turi, Sleman, sejak lama dikenal sebagai pusat utama salak pondoh yang berjaya bukan hanya di pasar nasional, tapi juga tembus Tiongkok, Kamboja, Vietnam, Hong Kong, hingga Timur Tengah.

Nah, tingginya permintaan itu ternyata kerap terbentur masalah klasik: serangan lalat buah yang bikin kualitas panen menurun dan menghambat standar ekspor.

Ketua Kelompok Tani Salak Kapanewon Turi, Suroto, bilang kalau hama ini masih jadi momok besar buat petani, terutama pas musim panen.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Siapkan Uang Pribadi untuk Produksi Bobibos Skala Kecil, APBD Sengaja Tak Dipakai?

“Pada periode tertentu, populasi hama bisa meningkat hingga 40–60 persen,”ungkapnya.

Selama ini mereka mengandalkan atraktan methyl eugenol (ME), tapi efektivitasnya terbatas, apalagi menjelang panen raya ketika serangan makin gencar.

“Kondisi ini menunjukkan perlunya metode pengendalian yang lebih efektif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Baca Juga: Rendy Iqbal, Dosen UPR Raih Gelar Ph.D. dengan IPK Sempurna di UTM, Boyong Chancellor Award

Menjawab kegelisahan petani, tim dosen dari Fakultas Pertanian dan FMIPA Universitas Gadjah Mada bergerak cepat. Dipimpin Dr. Suputa, tim ini beranggotakan Dr. Deni Pranowo, Dr. Sri Wahyuni Buadiarti (BRIN), Prof. Dr. Subejo, serta Dr. Panjisakti Basunanda.

Mereka mengembangkan metode pengendalian lalat buah berbasis protein umpan yang dinilai lebih adaptif dan ramah kawasan.

Sejak 2022, tim sudah turun langsung memberikan edukasi ke kelompok tani: mulai dari siklus hidup lalat buah, prinsip kerja atraktan, sampai pentingnya pengendalian berbasis kawasan.

Baca Juga: Jawara Modifikator Unjuk Karya Keren di Pesta Akbar Honda Modif Contest 2025

Kolaborasi itu berlanjut pada 2024 lewat kerja sama dengan Direktorat Perlindungan Hortikultura (Ditlin Horti), memperkenalkan sistem Area-Wide Management (AWM), yakni pengendalian lalat buah skala luas yang melibatkan banyak pihak sekaligus.

Dua inovasi utama pun diperkenalkan: Augmentarium dan Protein Bait.

Menurut Dr. Deni Pranowo, Augmentarium berfungsi meningkatkan populasi musuh alami, seperti parasitoid dan predator lalat buah.

Baca Juga: Wamen Diktisaintek Beri Apresiasi untuk Dosen Unsrit yang Menginspirasi

Sementara Protein Bait mampu menarik lalat buah jantan dan betina sekaligus—sesuatu yang tak bisa dilakukan ME.

“Keduanya diaplikasikan langsung oleh mitra tani di Turindo sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kami,” jelasnya.

Hasilnya mencengangkan. Penerapan metode AWM menunjukkan penurunan populasi lalat buah hingga 96 persen di area uji lapangan.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu Resmi Diatur, Minimal Setara Honorer Lama atau UMR Daerah, Ini Penjelasannya

Kombinasi protein bait, wooden block, atraktan ME, dan sanitasi buah busuk terbukti bekerja efektif.

Dr. Suputa menjelaskan, protein umpan mampu menjangkau lalat buah betina, yang jadi penentu munculnya generasi baru hama.

“Petani di Wonokerto melaporkan bahwa hanya dalam dua minggu intensitas serangan menurun drastis dan jumlah buah rusak berkurang,” tuturnya.

Baca Juga: Loh Serius? Jika RUU KUHAP Sah Bolehkan Sadap Orang Tanpa Izin Hakim Cuma Karena ‘Mendesak’?

Kalau diterapkan secara konsisten, inovasi ini bukan cuma memperbaiki kualitas dan kuantitas salak pondoh, tapi juga memperkuat peluang ekspor dan kesejahteraan petani Turi.

Suputa berharap sinergi lintas pihak ini bisa jadi jalan baru agar produksi salak pondoh makin kokoh, berdaya saing, dan berkelanjutan. ***