POJOKSATU.id - Persoalan keamanan dan keaslian pangan kini menjadi isu yang kian sering ditemui di tengah masyarakat.
Kasus keracunan siswa usai menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis di sekolah hingga peredaran produk pangan palsu di pasaran maupun e-commerce menjadi bukti bahwa sistem pengawasan pangan masih menghadapi tantangan besar.
Selama ini, pengujian keamanan dan keaslian pangan umumnya membutuhkan proses laboratorium yang memakan waktu berhari-hari.
Keterbatasan tersebut membuat deteksi dini sulit dilakukan, terutama ketika dibutuhkan keputusan cepat untuk melindungi konsumen.
Di tangan dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., persoalan itu dijawab melalui inovasi metode deteksi cepat keamanan, keaslian, dan kualitas pangan.
Melalui riset berjudul Green Analytical Method for Rapid Assessment of Food Safety, Authenticity, and Functional Quality in Diverse Food Systems, Widiastuti mengembangkan pendekatan analisis kimia yang mampu menghasilkan hasil uji dalam hitungan menit, bahkan detik.
Baca Juga: Bahlil Blak-blakan: Saya Menteri Gagal Kalau Masih Ada Desa Gelap dan Rakyat Belum Nikmati Listrik
Metode ini menjadi terobosan karena menggunakan bahan kimia dalam jumlah sangat minimal, bahkan pada beberapa pengujian tidak memerlukan bahan kimia sama sekali.
Pendekatan tersebut hadir sebagai alternatif metode konvensional yang cenderung lambat dan bergantung pada bahan kimia berbahaya bagi lingkungan.
Widi, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa inovasi ini berfokus pada tiga pilar utama, yakni food safety atau keamanan pangan, authenticity atau keaslian produk, serta functional quality atau kualitas fungsional.
Baca Juga: KABAR GEMBIRA HONORER! Pemkab Mubar Usul Tambahan PPPK Paruh Waktu
Pendekatan ini dinilai relevan untuk menjawab kebutuhan pengawasan pangan modern yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan keberlanjutan.
Dalam pengembangannya, Widi menerapkan teknik ekstraksi tingkat lanjut seperti ultrasound-assisted extraction dan microwave-assisted extraction.
Teknik ini memungkinkan proses analisis berlangsung lebih cepat dengan penggunaan pelarut yang jauh lebih sedikit.
“Metode ini lebih cepat dan menggunakan solvent lebih minimal, sehingga lebih ramah lingkungan. Karena itulah disebut green analytical method,” jelasnya dikutip dari portal resmi UGM, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga: Mendikdasmen Tegaskan Nilai TKA Tak Gantikan Rapor di SNBP 2026
Selain itu, proses analisis dipercepat melalui pemanfaatan metode spektroskopi, yakni teknik analisis yang memanfaatkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan materi untuk mengkaji sifat kimia dan fisika senyawa.
Dibandingkan metode kromatografi konvensional, spektroskopi memungkinkan analisis dilakukan tanpa tahapan ekstraksi panjang dan dalam beberapa kasus bersifat non-destruktif terhadap sampel.
Meski demikian, metode kromatografi tetap dikembangkan sebagai pembanding dan pelengkap.
Baca Juga: TKA SD-SMP 2026 Dibuka, Ini Jadwal, Mekanisme Pendaftaran dan Cara Ikut Simulasinya
Dengan penerapan Ultrahigh Performance Liquid Chromatography (UPLC), waktu analisis yang semula sekitar 30 menit dapat dipangkas menjadi hanya 3 menit.
Tak hanya mengidentifikasi senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, metode ini juga mampu mendeteksi senyawa berbahaya seperti mikotoksin, termasuk aflatoksin dan okratoksin, serta NAPZA yang berpotensi disalahgunakan dalam produk pangan.
Widi berharap metode ini dapat diadopsi oleh BPOM dan institusi terkait untuk memperkuat sistem pengawasan pangan nasional.
Baca Juga: Indeks Sekolah, Ini Pengaruhnya di SNBP 2026, Pahami Cara Membaca Peluang dan Strategi Siswa
Metode yang dikembangkan juga dapat digunakan untuk menganalisis kualitas fungsional pada berbagai sistem pangan, seperti potensi antidiabet, antidepresan, hingga senyawa bioaktif lainnya.
Selama ini, Widi telah mengembangkan berbagai riset, mulai dari pengujian antidepresan pada edible flowers yang mendapat hibah dari L’Oreal, riset antidiabetes pada bunga rosella yang didukung Kalbe, hingga kolaborasi regional terkait senyawa bioaktif jamur dan pemetaan kualitas makroalga di Indonesia.
Baca Juga: Cara Cek Daya Tampung SNBP 2026 Seluruh Universitas di Indonesia
“Nah, tapi di sini kan yang saya ajukan itu diverse food system, jadi tidak hanya satu tetapi beragam sistem pangan. Edible flowers-nya juga tidak hanya bunga pisang atau rosella, tapi kecombrang, senggani, turi, safflower, dan banyak lainnya,” jelasnya.
Menariknya, Widi juga mengembangkan aplikasi berbasis website untuk analisis makroalga dan cokelat. Melalui platform ini, laboratorium yang memiliki data spektroskopi cukup mengunggah data untuk mengetahui keaslian, jenis, hingga asal bahan pangan tersebut secara cepat.
Baca Juga: Tunjangan Kinerja Dosen 2020–2024 Tak Bisa Dibayarkan, Ini Penjelasan Resmi Kemendiktisaintek
Raih Penghargaan Internasional
Berkat konsistensinya mengembangkan metode analisis pangan sejak 2012, Widiastuti Setyaningsih meraih Encouragement Award dari Hitachi Global Foundation.
Penghargaan internasional ini diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan metode analisis kimia yang cepat, akurat, dan aplikatif untuk pengujian pangan.
Menurut Widi, capaian tersebut menjadi pemacu semangat untuk terus menghadirkan riset yang berdampak nyata.
Baca Juga: SEGERA, LOWONGAN KERJA Dosen dan Tenaga Kependidikan 2026 UNIMMA, Ini Formasi, Syarat, dan Jadwalnya
Ia berharap metode yang dikembangkan tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat diadopsi oleh industri, laboratorium pemerintah, BPOM, Bea Cukai, hingga kementerian terkait.
“Harapannya research saya tidak hanya sampai di lab saja, tapi bisa langsung bermanfaat bagi masyarakat,” tutup Widi, menegaskan komitmennya menghadirkan inovasi pangan yang aman, autentik, dan berkelanjutan. ***




