POJOKSATU.ID - Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, agama, dan bahasa. Dengan lebih dari 17.000 pulau, ratusan suku bangsa, dan beragam keyakinan, Indonesia menjadi contoh kehidupan multikultural yang dinamis.

Keberagaman ini tidak hanya menjadi kekayaan budaya, tetapi juga tantangan dalam membangun persatuan nasional.

Dalam forum ilmiah internasional 'The 11th International Conference on Community Development' (ICCD-11) yang berlangsung di Ho Chi Minh City, Vietnam, 25-27 Juli 2025, Indonesia tampil menonjol.

Baca Juga: Fakta Terbaru Ponsel Arya Daru Hilang Bak Ditelan Bumi, Terakhir Aktif Sebelum ke Gedung Kemlu

Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai pengusung ide pendidikan multikultural berbasis nilai kemanusiaan.

Gagasan tersebut disampaikan oleh Dr Muhsyanur, dosen Universitas Islam As’adiyah Sengkang, Sulawesi Selatan.

Dalam presentasinya, ia memaparkan makalah berjudul 'Reconstruction of the Indonesian Language in a Love-Based Curriculum: Building Love and Humanist Values in a Religious Society.'

Baca Juga: Siswa Sukabumi Mengeluh Kebijakan Rombel 50 Per Kelas: Terlalu Ramai

Makalah tersebut memperkenalkan konsep Kurikulum Cinta sebagai pendekatan alternatif dalam pendidikan multikultural.

Kurikulum ini dirancang untuk menjawab kompleksitas identitas budaya, agama, dan sosial yang hidup berdampingan di Indonesia.

Menurut Dr Muhsyanur, Kurikulum Cinta merupakan buah gagasan Prof Dr KH Nasaruddin Umar.

Baca Juga: PANDUAN RESMI KSP 2025, Download dan Simak Langkah Praktis MENYUSUN KSP, Dilengkapi CONTOH DOKUMEN, Pendekatan Lebih Fleksibel

Model pendidikan ini mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang, empati, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Nilai-nilai tersebut dijadikan sebagai inti pembelajaran, baik di lingkungan formal maupun non-formal.

“Indonesia hidup dan tumbuh dari perbedaan. Justru di situlah kekuatan utama kami,” ujar Dr Muhsyanur di hadapan peserta forum global itu.

Ia menambahkan bahwa Kurikulum Cinta adalah refleksi nyata dari falsafah Bhinneka Tunggal Ika.

Falsafah ini diterjemahkan dalam bentuk sistem pembelajaran yang humanis dan spiritual.

Pendekatan Kurikulum Cinta diyakini mampu membangun generasi yang inklusif dan menghargai sesama.

Dalam makalahnya, Dr Muhsyanur juga menyoroti peran Bahasa Indonesia dalam memperkuat semangat kebersamaan.

Baca Juga: Seskab Teddy Bersama Menteri Imipas Dorong 65 Ribu Pegawai Wujudkan Layanan Imigrasi yang Cepat dan Mudah

Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi nasional, tetapi juga sarana membangun kesadaran kolektif dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks Kurikulum Cinta, bahasa digunakan sebagai jembatan antara budaya, agama, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode naratif untuk menggali realitas pendidikan di Indonesia.

Penelitian dilakukan di berbagai lingkungan pendidikan, seperti pesantren, madrasah, dan sekolah-sekolah umum.

Baca Juga: SIAP-SIAP! BKN Umumkan Sistem Baru Pada Seleksi CPNS, Benarkah Tidak Ada Tes Lagi? Simak Penjelasan Prof Zudan!

Hasilnya menunjukkan bahwa nilai cinta dan toleransi dapat dibangun secara efektif dalam ruang belajar yang terbuka dan dialogis.

Pendidikan berbasis cinta tidak hanya membentuk kecerdasan kognitif, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual peserta didik.

ICCD-11 menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk memperkenalkan model pendidikan yang berakar pada realitas sosial.

Gagasan ini mendapat sambutan positif dari peserta forum yang berasal dari berbagai negara.

Banyak peserta mengakui pentingnya pendekatan pendidikan berbasis kasih sayang dalam merespons tantangan global saat ini.

Krisis identitas, polarisasi sosial, dan ekstremisme menjadi ancaman nyata di berbagai negara multikultural.

Indonesia, dengan segala tantangan keberagamannya, berhasil menunjukkan praktik pendidikan yang bersifat inklusif dan adaptif.

Baca Juga: Warga Karawang Utara Geram, Minta Oknum HRD PT FCC Diusut

Melalui Kurikulum Cinta, pendidikan tidak lagi sekadar transfer ilmu, tetapi proses membentuk manusia seutuhnya.

Manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam menyikapi perbedaan.

Muhsyanur menegaskan bahwa dunia pendidikan harus menjadi ruang aman bagi semua identitas.

Kurikulum Cinta memungkinkan terjadinya transformasi nilai di dalam kelas dan kehidupan sosial secara lebih luas.

Ia berharap model ini bisa menjadi rujukan global, terutama bagi negara-negara yang tengah menghadapi disintegrasi sosial.

Forum ICCD-11 menjadi ajang penting untuk pertukaran gagasan, praktik baik, dan model pendidikan transformatif.

Kehadiran Indonesia dalam forum ini membuktikan bahwa bangsa ini tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkontribusi.

Kontribusi itu diwujudkan dalam bentuk solusi pendidikan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Dengan Kurikulum Cinta, Indonesia menunjukkan bahwa pendidikan bisa menjadi alat untuk membangun perdamaian.

Forum internasional ini ditutup dengan diskusi interaktif yang menggali lebih dalam tentang pendekatan Kurikulum Cinta.

Para peserta dari berbagai negara tertarik untuk menerapkan model ini dalam konteks lokal mereka masing-masing.

Langkah ini menjadi awal dari dialog global tentang pendidikan yang memanusiakan dan menyatukan umat manusia.***