POJOKSATU.id - Digitalisasi pendidikan menjadi kata kunci penting dalam diskusi literasi masa kini.

Di tengah kemajuan teknologi dan akses internet, penggunaan gawai (smartphone, tablet, laptop) dalam proses belajar mengajar serta aktivitas sehari-hari nyatanya membawa dampak ganda terhadap literasi.

Di satu sisi, gawai mempermudah akses informasi; di sisi lain, gawai ikut menyumbang pada menurunnya minat baca tradisional dan membentuk generasi yang lebih cenderung konsumsi cepat .

Sebuah tanda bahaya bagi budaya literasi mendalam di Indonesia.

Baca Juga: Jelang Laga Persija Jakarta vs PSIM Yogyakarta, Polda Metro Imbau Hindari Kawasan Stadion GBK Sore Ini

Transformasi Literasi: Dari Buku ke Layar Digital

Perkembangan teknologi digital telah merombak cara generasi muda mengakses bacaan.

Sumber belajar bukan lagi hanya buku cetak, tetapi e-book, artikel daring, media sosial, hingga video.

Banyak siswa yang kini memilih membaca lewat layar perangkat karena kemudahan akses dan fleksibilitas waktu.

Penelitian menunjukkan bahwa perubahan ini membawa pergeseran kebiasaan, siswa lebih sering melakukan digital reading membaca artikel daring, konten singkat, atau tugas daring ketimbang membaca buku fisik.

Namun, pergeseran ke digital tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan minat baca mendalam.

Baca Juga: CMNP Menang Gugatan Perdata, PN Jakpus Tegaskan Legalitas Pengelolaan Tol Cawang–Tanjung Priok–Pluit

Banyak bacaan digital bersifat ringan, singkat, dan lebih bersifat hiburan daripada pendidikan.

Hal ini membuat literasi menjadi lebih permukaan, kurang pada pemahaman mendalam, refleksi, dan penghayatan teks dibandingkan dengan literasi tradisional melalui buku.

Kenyamanan Digital, Tapi Juga Distraksi Besar

Kemudahan akses lewat gawai memang memberi keuntungan: siswa bisa mengakses materi pelajaran, literatur, artikel, dan informasi dari mana saja, kapan saja.

Literasi digital dan ketersediaan bahan bacaan digital bisa meningkatkan akses terhadap pengetahuan, terutama di daerah terpencil atau bagi mereka yang sulit mendapatkan buku fisik.

Tetapi kenyamanan itu datang bersama tantangan serius.

Baca Juga: Ini Dia Tahap Menentukan Rekrutmen Mitra Statistik BPS 2026, Simak Jadwal Contoh Soal Wawancara, Cek Jadwal

Banyak siswa yang menggunakan gawai lebih banyak untuk media sosial, video, game, atau hiburan, bukan untuk membaca materi berkualitas.

Aktivitas yang bersifat hiburan sering mengambil porsi besar dan membuat waktu untuk membaca tradisional berkurang.

Bahkan ada kecenderungan bahwa bacaan digital yang dikonsumsi sebagian besar bersifat cepat dan konsumtif, misalnya artikel ringan, posting media sosial, atau konten viral bukan bacaan mendalam seperti buku.

Ini mempengaruhi kualitas literasi: siswa terbiasa pada bacaan singkat, bukan bacaan panjang yang membutuhkan konsentrasi dan refleksi.

Baca Juga: Skor PISA Merosot, Nilai Matematika TKA 2025 Jeblok, Ada Apa dengan Fondasi Pendidikan Kita?

Literasi Digital vs Literasi Mendalam, Mana yang Hilang?

Literasi digital, kemampuan menggunakan perangkat digital, mencari informasi, memahami teks daring menjadi skill penting di era sekarang.

Banyak sekolah dan institusi pendidikan mendorong literasi digital agar siswa bisa mengikuti tuntutan zaman.

Namun literasi tradisional, yaitu budaya membaca buku, memahami teks panjang, berpikir kritis terhadap bacaan sekarang terancam.

Banyak siswa lupa betapa pentingnya membaca mendalam.

\Waktu dan perhatian mereka tersita oleh scrolling konten digital tanpa arah.

Baca Juga: IKN Belum Siap, ASN Masih Bertahan di Jakarta Meski Gibran Dikabarkan Mulai Tugas Tahun Depan

Hal ini berisiko menghasilkan generasi dengan minat baca rendah meski mereka punya akses internet luas.

Sebuah tinjauan literatur menunjukkan: di Indonesia, sejak sekitar tahun 2019 hingga 2024, kebiasaan membaca siswa menurun, terutama karena dominasi penggunaan gawai untuk hiburan dibanding bacaan serius.

Peluang dan Risiko Digitalisasi, Bagaimana Memanfaatkannya Tanpa Mengorbankan Literasi
Digitalisasi sebenarnya punya potensi besar.

Bila dikelola dengan tepat, gawai bisa jadi alat literasi yang efektif, e-book, artikel ilmiah, jurnal, materi interaktif bisa menjangkau lebih banyak siswa daripada buku fisik.

Bahkan di masa pandemi, literasi digital terbukti membantu proses belajar ketika sekolah tatap muka terhenti.

Baca Juga: PSI Pasang Badan! Jokowi Tak Pernah Resmikan Bandara IMIP, Jangan Putar Fakta! Kok Kaya Membela Banget?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa literasi digital yang dibarengi pemanfaatan perpustakaan (fisik atau digital) dapat meningkatkan minat baca siswa secara signifikan.

Namun untuk itu diperlukan pengaturan: literasi digital bukan semata soal akses, tetapi soal kualitas bahan bacaan, manajemen penggunaan gadget, dan pembiasaan membaca mendalam.

Kurikulum dan sekolah perlu mendukung, misalnya dengan menciptakan program literasi digital & tradisional yang seimbang.

Selain itu, perlunya pengawasan dan pembiasaan: orang tua, guru, dan komunitas perlu mengarahkan agar gawai digunakan produktif.

Waktu membaca buku fisik atau e-book berkualitas bisa dibiasakan, bukan sekadar konsumsi konten ringan.

Baca Juga: Ini PENJELASAN Seleksi CASN 2026 Jika Tidak Dilaksanakan, BKN Ungkap Kondisi dan LEDAKAN DATA ASN 2025, Begini Bacaannya

Membangun Kebiasaan Literasi di Tengah Era Digital Adalah Bentuk Keseimbangan

Menumbuhkan kembali budaya literasi tradisional bukan berarti menolak digitalisasi.

Tapi literasi tradisional dan digital perlu berjalan beriringan.

Setiap siswa perlu dibekali kemampuan literasi digital sekaligus dilatih untuk membaca mendalam, buku, teks panjang, artikel analitis, karya ilmiah, dan sejenisnya.

Sekolah bisa membangun program literasi gabungan, seperti klub baca, pojok baca digital dan fisik, penggunaan e-book dan buku cetak, serta waktu khusus membaca untuk menumbuhkan kebiasaan membaca rutin.

Peran orang tua dan komunitas juga penting.

Baca Juga: Hanya Ada 37.244 Guru yang Terpanggil di PPG Guru Tertentu Tahap 5 Tahun 2025, CEK Rinciannya!

Dukungan lingkungan yang menghargai bacaan, menyediakan akses buku atau e-book, serta memberi teladan kebiasaan membaca bisa jadi fondasi kuat.

Dengan keseimbangan antara literasi digital dan tradisional, generasi muda tidak hanya melek teknologi, tetapi juga melek literasi mendalam, mampu berpikir kritis, memahami teks dengan baik, serta siap bersaing di era informasi. ***