POJOKSATU.ID - Dunia militer sering kali dipandang sebagai simbol kedaulatan nasional yang kaku.

Namun sejarah dan realita masa kini menunjukkan bahwa institusi ini sangat terbuka terhadap keberagaman latar belakang etnis.

Fenomena menarik terlihat dari banyaknya putra-putri berdarah Indonesia yang memilih karier di militer Amerika Serikat (US Army).

Beberapa nama yang mencuat dalam penelusuran media sosial antara lain Letkol Bill Kadarusman yang bertugas di US Army Reserve, Letkol Rosita Aruan Orchid Baptiste, hingga perwira muda seperti Letda Voga Firandy Warsitoningrat.

Baca Juga: Persiapan Test PPPK Kemenham 2026: Bedah Kisi-Kisi Formasi Penata Layanan Operasional

Tak hanya di jenjang perwira, dedikasi ini juga terlihat dari sosok seperti Specialist Kezia Syifa di US Army Maryland National Guard dan Private Zharfan Taftazani.

Kehadiran mereka membuktikan bahwa kualitas disiplin dan profesionalisme prajurit berdarah Indonesia mampu bersaing di panggung militer global.

Di sisi lain, Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga memiliki sejarah panjang yang diwarnai oleh sosok-sosok tangguh dari latar belakang keturunan asing yang memilih setia kepada Ibu Pertiwi.

Salah satu tokoh paling ikonik adalah Rokus Bernardus Visser, atau yang lebih dikenal sebagai Mohamad Idjon Djanbi.

Pria kelahiran Belanda ini merupakan sosok kunci yang mendirikan dan menjadi Komandan pertama Kopassus.

Baca Juga: Bocoran Menteri PANRB: CPNS 2026 Bukan untuk Semua Orang, Ini Kriteria Yang Punya Peluang Daftar!

Selain itu, Indonesia mengenal Kapten Anumerta Pierre Tendean, pahlawan revolusi berdarah Belanda-Prancis-Indonesia yang pengabdiannya berakhir dengan pengorbanan nyawa bagi negara.

Hingga saat ini, tradisi inklusi di tubuh TNI terus berlanjut.

Kita mengenal sosok Letnan Jenderal Rui Fernando Guedes Palmeiras Duarte, perwira tinggi kelahiran Timor-Timur yang menjabat sebagai Irjen Kemhan.

Serta Letda Enzo Zenz Allie, perwira muda keturunan Prancis-Indonesia yang sempat viral saat masuk ke akademi militer.

Kehadiran para perwira keturunan ini menegaskan bahwa nasionalisme tidak hanya ditentukan oleh garis keturunan, tetapi oleh komitmen dan sumpah prajurit untuk menjaga kedaulatan bangsa.

Pada akhirnya, baik diaspora Indonesia di luar negeri maupun warga keturunan yang mengabdi di tanah air, keduanya merupakan cerminan dari kosmopolitanisme dalam kedisiplinan militer.***

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android

Versi iOS

Channel WhatsApp

Fanpage Edugov

Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Ferdy Wamala