POJOKSATU.id, JAKARTA— Beberapa tokoh publik mengajukan protes atas dihapusnya kegiatan ekstrakurikuler (eskul) pramuka dari kegiatan wajib di sekolah.
Deretan tokoh yang protes itu antara lain Kadiv Hubinter Polri Irjen Pol Krishna Murti, Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid, mantan anggota DPR RI Akbar Faizal, dokter Tifauzia Tyassuma dokter sekaligus ahli saraf nutrisi asal Jakarta.
Kadiv Hubinter Polri Irjen Pol Krishna Murti memberikan masukan terkait dihapusnya ekskul Pramuka tersebut.
Bagi Krishna Murti, Pramuka menjadi salah satu kegiatan yang mampu membangun karakter terbaik di dalam hidupnya.
Baca Juga: Nadiem Makarim Hapuskan Pramuka Dari Wajib Ekstrakurikuler, Begini Sejarahnya di Indonesia
"CUMA MASUKAN:Agak panjang tapi pantas dibaca sampai selesai," tulis Krishna Murti di akun Instagram pribadinya @krishnamurti_bd91 seperti dilihat Pojoksatu.id, Senin (1/4/2024).
"Yth Siapapun para pengambil kebijakan: Pengalaman hidup saya, salah satu momen pembangunan karakter terbaik dalam hidup saya adalah saat saya bergabung jadi Pramuka. Dari SD, SMP, SMA hingga Akpol, saya belajar kepramukaan," sambungnya.
Diakui oleh Krishna Murti bahwa dulu saat ikut kegiatan Pramuka dia belajar disiplin, belajar kerjasama, belajar penghormatan, hingga belajar kegembiraan.
"Jaman itu adalah jaman kami disibukkan dalam permainan kegembiraan sehingga tidak sempat untuk nongkrong-nongkrong, tidak tertarik untuk tawuran, dan lebih memilih menggunakan waktu luang untuk lelah dengan kegiatan keterampilan," terangnya.
Baca Juga: Memperingati Dedikasi Baden Powell, Bapak Pramuka Dunia di Hari Khusus
Ada sedikit protes yang dilayangkan oleh Krishna Murti soal ekskul Pramuka tidak lagi diwajibkan untuk diikuti di sekolah.
Bagi Krishna Murti, apabila pramuka tidak wajib maka bisa disalahartikan karena anak-anak tidak bisa diajak sukarela.
Menurut pandangan Krishna Murti, setidaknya harus ada paksaan positif yang diberikan kepada anak-anak.
"Mereka akan lebih rela menghabiskan waktunya untuk ber tiktok ria daripada belajar," tuturnya.
"Cobain deh bapak ikut pramuka seminggu aja, awalnya mungkin gak suka, setelah itu bapak tau manfaatnya, Ya namanya juga masukan, ini bukan paksaan," imbuhnya.
"Kesimpulan saya (bukan kesimpulan orang lain): Pramuka bagus untuk jd ekskul wajib, bahkan bila perlu ada anggaran untuk melatih kakak kakak pembina baru, ada anggaran untuk bikin jambore daerah tingkat kecamatam, kabupaten/ kota, tingkat provinsi dan tingkat nasional. Wong Jambore tingkat dunia aja ada," paparnya.
Baca Juga: Nadiem Makarim Jadi Bulan-bulanan Usai Cabut Ekskul Pramuka di Sekolah
Dihapusnya ekskul Pramuka sebagai kegiatan wajib di sekolah itu tercantum dalam Peraturan Menteri Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, Pramuka.
Pramuka ditempatkan sebagai kegiatan yang dapat dipilih dan diikuti sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat peserta didik.
Berikutnya Hidayat Nurwahid, politisi PKS ini menyebut Pramuka sebagai kegiatan yang banyak manfaatnya bagi pembentukan karakter positif.
“Sayang sekali kalau ekstrakurikuler Pramuka benar resmi dihapus Mas Menteri dari Kurikulum. Saya dulu aktif di Pramuka sejak usia SD (Siaga),” kata Wakil Ketua MPR ini.
Baca Juga: 3 Sistem Perekrutan 1 Juta PPPK Guru Usulan Nadiem di PP Manajemen ASN, Sekolah Bisa Merekrut
Dia mengaku merasakan banyak sekali manfaat Pramuka bagi pembentukan karakter positif dan alternatif kegiatan yang visioner.
Selanjutnya Akbar Faizal. Dia merespon keras pencabutan ekskul Pramuka ini. Melalui akun X miliknya @akbarfaizal68, dia menyatakan protes keras kepada Nadiem.
“Menteri Nadiem Makarim ‘sempurnakan’ kinerja buruknya dengan merusak tools pembentukan karakter siswa.
Padahal Pramuka bentuk jiwa siswa jadi tangguh. Nadiem anak kota yang kaya. Gak paham yang gini-ginian. Jiwanya adalah cuan. Saya protes keras. Menteri online ini merusak karakter bangsa.
Akbar Faizal juga menautkan akun Presiden Jokowi dalam postingan X nya.
Dokter Tifa juga ikut memberikan tanggapan atas kebijakan Nadiem Makarim ini.
“Kenapa Pramuka mesti dihapus, sih. Saya termasuk orang yang sangat terasah leadership, skill dan curiosity akan banyak hal di Pramuka sejak SD,” katanya.
“Dan pelajaran P3K cara bebat luka dan menolong orang digotong pake dragbar menginspirasi saya jadi Dokter,” jelas dokter yang terkenal ini.***




