POJOKSATU.id, PANYABUNGAN— Puluhan guru honorer calon Pegawai Pemerintah Perjanjian Kerja (PPPK) Mandailing Natal (Madina) 2023 yang merasa dicurangi kembali melakukan demo ke Kantor Bupati Madina, Rabu (10/1).
Demo pekan ketiga guru honorer calon PPPK ini tidak membuahkan hasil sebab puluhan guru-guru tak berhasil menemui Bupati Madina Jafar Suhairi Nasution dan Wakil Bupati Atika Azmi Nasution.
Demo guru calon PPPK yang merasa dicurangi Pemkab Madina ini hanya berhasil menemui Sekda Madina Alamulhaq Daulay.
Baca Juga: Madina Care Audiensi ke BKN RI di Jakarta, Bupati Madina Didesak Kirimkan Surat Pembatalan SKTT
Selain melakukan orasi, terlihat guru honorer ini juga membawa spanduk berisi kritikan dan sindiran pada pejabat Pemkab Madina.
Spanduk itu bertuliskan antara lain ; Dollar dan Hamid Ditunggu Malaikat Malik, SKTT Bukan Kewajiban Tapi Adalah Opsi yang Bisa Dilaksanakan atau Tidak Dilaksanakan oleh Pemda, Batalkan Kelulusan Siluman Kami Hanya Menuntut Keadilan.
Demikian sebagian isi spanduk yang dibentangkan guru-guru dalam aksi demo itu.
Dalam aksi itu, Ketua Solidaritas Guru Tertindas (Sodigas) Madina, Rahmad Mora Pulungan, mengatakan, guru honorer masih dengan tuntutan yang sama, yakni pembatalan nilai SKTT (Seleksi Kompetensi Teknis Tambahan) dan umumkan hasil seleksi PPPK Madina sesuai CAT BKN.
Baca Juga: Aliansi Mahasiswa Bersatu Minta Kapoldasu Segera Tetapkan Kadis Pendidikan Madina Tersangka
Mereka juga berharap bisa bertemu dengan Bupati Madina Jafar Suhairi Nasution.
“Bapak Bupati diharapkan keluar. Dengarkan isi hati kami Pak. Jangan zolimi kami Pak. Kembalikan hak kami Pak,” kata Rahmad dalam orasinya.
“SKTT bukan kewajiban tapi adalah opsi yang bisa dilaksanakan atau tidak dilaksanakan. Bupati Mandailing Natal punya hak veto untuk membatalkannya,” jelasnya.
Setelah lama menunggu, akhirnya Sekda Madina Alamulhaq Daulay datang menemui mereka.
Namun, para guru terlihat kurang puas karena tidak bisa bertemu dengan Bupati Jafar Sukhairi Nasution.
Baca Juga: Kinerja Herman Khaeron di Apresiasi Mahasiswa Jadi Caleg Terfavorit
“Kami minta kepada Pak Sekda untuk melakukan panggilan video dengan Pak Bupati agar kami bisa secara langsung menyampaikan aspirasi kami ini,” tegas Rahmad.
Menanggapi hal itu, Alamulhaq Daulay mengaku tak bisa sembarangan menelepon bupati. Ada etika yang harus dijaga.
“Kami ini etikanya hanya nilai satu (1) sebagaimana hasil SKTT. Kami tidak beretika. Jadi tolong telepon bupati,” teriak pengunjuk rasa dengan nada mencemooh pada Sekda Madina.
Tak ada titik temu antara Sekda Madina dan peserta demo. Dan Sekda bersama pejabat lain meninggalkan lokasi. Sementara para pengunjuk rasa masih bertahan di sana hingga beberapa jam.***




