POJOKSATU.id - Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag tengah mematangkan desain asesmen literasi beragama untuk guru dan siswa di sekolah bersama BRIN dan Badan Moderasi Beragama.

Dirjen Pendis Amien Suyitno menekankan krusialnya literasi dasar beragama, sejalan dengan komitmennya pada Gerakan Nasional Literasi Qur'an (GNLQ).

Direktur PAI Ditjen Pendis M Munir menegaskan asesmen ini tak hanya mengukur, tapi juga bertujuan menghasilkan peta kualitas layanan Pendidikan Agama Islam secara nasional.

Baca Juga: Strategi Tangsel Imbas Pemangkasan Transfer Daerah: Gaji ASN Ditunda, TPP Dipotong 6 Persen

Kawal Aspek Ilmiah dan Metodologi

Munir menuntut penguatan aspek akademik agar hasil asesmen memiliki pertanggungjawaban ilmiah yang kuat.

"Saya ingin kegiatan ini dapat menghasilkan produk akademik yang andal. Tidak boleh ada cacat ilmiah sedikit pun," ujarnya saat memberi arahan di Jakarta, Kamis 23 Oktober 2025.

Baca Juga: Pemkot Tangsel Jawab Tudingan Dana Mengendap Rp1,13 Triliun

Keterlibatan BRIN dan Pustrajak Penda, adalah untuk memastikan legitimasi akademik dan mengawal pelaksanaan asesmen agar tetap dalam koridor ilmiah.

Munir juga menekankan pentingnya ketepatan metodologi agar implementasi di lapangan tidak bergeser dari desain teknis yang sudah dirumuskan secara ilmiah.

"Metodologi ini harus ilmiah dan konsisten. Jangan sampai kajian akademiknya baik, tetapi pelaksanaannya tidak sama dengan desain. Instrumen ke guru dan siswa harus tepat sasaran," tuturnya.

Baca Juga: Gubernur Banten Dorong ASN Tingkatkan Akuntabilitas, Targetkan SAKIP Naik ke Kategori Lebih Tinggi

Doktor jebolan UIN Jakarta ini juga meminta agar timeline disusun rinci, termasuk pembagian kerja surveyor hingga manajemen data pasca-pelaksanaan.

Rancangan asesmen ini akan memotret siswa PAI di semua jenjang sekolah umum, dengan data yang akan diintegrasikan ke Sistem Informasi Administrasi Guru Agama (SIAGA).

"Ada 41.8 juta siswa muslim yang menjadi sasaran. Karena skalanya nasional, maka timeline, instrumen, dan proses monitoring harus tertata," tambah Munir.

Munir turut menyinggung perlunya sosialisasi yang lebih masif dan terukur kepada guru PAI agar mereka memahami maksud serta tujuan asesmen.

Terkait teknis ujian, Munir membuka peluang penggunaan skema gelombang agar asesmen lebih efisien, serupa ujian elektronik lain, dengan durasi proporsional.

Baca Juga: Aksi Kabur Tanpa Bayar di SPBU Ciputat, Polisi Lacak Pelat Nomor Mobil

"Durasi waktu jangan terlalu lama. Kalau perlu dibuat berjilid, seperti 08.00-12.00 lalu 13.00-16.00. Terpenting tepat sasaran dan beban asesmen terukur," jelasnya.

Ditargetkan rancangan desain dan timeline ini final dalam dua pekan, sehingga mampu menghasilkan potret kualitas pembelajaran PAI berbasis data faktual.

Sasar Tiga Masalah Literasi Dasar

Baca Juga: SPPG Cibungur Indah Perketat Kualitas Menu Program MBG di Karawang

Peneliti BRIN Muhammad Murtadlo memaparkan bahwa kegiatan ini menggagas instrumen pengukuran nasional terkait kompetensi dan pengamalan keagamaan siswa di sekolah.

'Hal ini didasari beberapa permasalahan serius yang ditemukan dalam evaluasi di lapangan. Pertama, masih rendahnya kemampuan dasar siswa membaca Al-Qur'an," ujar Murtadlo.

Masalah kedua, lanjutnya adalah ketiadaan instrumen yang mengukur praktik ibadah, baik ritual maupun sosial, lingkungan, budaya, serta kebangsaan.

Baca Juga: Gubernur Banten Tekankan Peran Strategis Pesantren dalam Membangun SDM Unggul

"Hal ini penting untuk dilaksanakan mengingat aspek-aspek literasi dasar beragama selama ini belum pernah terukur secara nasional, karena fokus asesmen hanya pada literasi dan numerasi," tandasnya.

Survei ini direncanakan mengambil sampel 13.600 siswa, yang dipilih acak dari 4 kabupaten/kota per provinsi, 5 sekolah per kabupaten/kota, dan 20 siswa per seklah.

Giat yang berlangsung tiga hari (22-24 Oktober 2025) ini dihadiri oleh peneliti BRIN, analisis kebijakan Pustrajak Penda, serta jajaran Direktorat PAI Kemenag.***