POJOKSATU.ID - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pendirian Sekolah Rakyat dengan tujuan utama menampung sebanyak mungkin siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Instruksi ini disampaikan melalui Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, dalam sebuah rapat kerja bersama tim formatur Sekolah Rakyat, dengan tujuan memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Untuk mencapai target ini, diperlukan strategi khusus dan terobosan yang efektif.
Menteri Sosial, didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, menekankan pentingnya mengoptimalkan lokasi sekolah dan jumlah rombongan belajar (rombel) sebagai langkah percepatan.
Mereka menegaskan bahwa upaya ini harus dilakukan secara maksimal, mengingat banyaknya masyarakat dari lapisan ekonomi paling bawah yang berharap dapat mengakses pendidikan di Sekolah Rakyat.
Rapat tersebut menghasilkan keputusan untuk meningkatkan intensitas rombel di lokasi yang sudah siap, serta memperluas jumlah lokasi baru yang memenuhi syarat.
Dari 65 lokasi yang telah diverifikasi, diharapkan jumlahnya akan meningkat menjadi 100 lokasi pada akhir kuartal ini, dengan perkiraan daya tampung mencapai 10.000 siswa.
Strategi intensifikasi memungkinkan peningkatan jumlah rombel di setiap lokasi, tergantung pada kapasitas bangunan yang tersedia.
Baca Juga: Guru Non ASN! Bukan Cuma 2 Juta melainkan 3 Juta, Guru Ini Akan Dapat Dari Pemerintah!
Temuan lapangan menunjukkan bahwa banyak bangunan di daerah yang dapat dialihfungsikan menjadi Sekolah Rakyat tanpa pembangunan baru.
Renovasi ringan dengan anggaran negara menjadi opsi utama, dan Presiden menyatakan dukungannya asalkan pengelolaan dana dilakukan secara akuntabel dan efektif.
Ketua tim formatur Sekolah Rakyat, Prof. Mohammad Nuh, menekankan pentingnya mengelola persepsi publik.
Ia menegaskan bahwa perluasan lokasi dan optimasi rombel adalah bentuk efisiensi, bukan penurunan kualitas.
Wakil Menteri Sosial menambahkan bahwa ini adalah upaya kolektif untuk menyediakan pendidikan rakyat yang terjangkau, berkualitas, dan merata.
Sekolah Rakyat diharapkan menjadi simbol pendidikan transformatif, dengan target menjangkau ribuan siswa sebelum akhir tahun 2025.
Pemerintah optimis bahwa kombinasi efisiensi dan kolaborasi lintas sektor akan menjadi kunci keberhasilan program ini.
Baca Juga: Apa Saja yang Diawasi dalam Penggunaan Bahasa Indonesia? Ini Penjelasan Badan Bahasa
Sekolah Rakyat dijadwalkan mulai beroperasi pada Juli 2025 di 53 lokasi di seluruh Indonesia. Tahap awal akan memanfaatkan aset milik Kementerian Sosial, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.
Dengan 131 rombel yang masing-masing menampung 25 siswa, diperkirakan 3.275 siswa akan mengikuti program ini pada tahap awal. Komposisi rombel mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA.***



