POJOKSATU.id - Apa yang selama ini tumbuh di sekitar kawasan pesisir ternyata bisa memiliki nilai guna yang jauh lebih besar.

Di Desa Pantai Sederhana, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, daun mangrove jenis api-api atau Avicennia marina mulai diperkenalkan sebagai bahan alami untuk membuat sabun cuci cair.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui pendampingan dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan serta Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Unika Atma Jaya, Jakarta.

Sasaran programnya adalah Kelompok Perempuan Pesisir di Desa Pantai Sederhana.

Baca Juga: 10 Universitas dengan Jurusan Kedokteran Terbaik di Asia Tenggara Versi QS 2026, Indonesia Masuk Daftar

Program ini menarik bukan hanya karena menghasilkan produk pembersih alternatif, tetapi juga karena mencoba mengubah sesuatu yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi.

Produk tersebut diberi nama MUGRIN, sabun cuci cair berbahan ekstrak mangrove api-api dengan aroma jeruk nipis.

Ukuran awal yang diperkenalkan adalah 100 mL, dan produk tersebut disiapkan untuk diperkenalkan sekaligus dipasarkan di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

Selama Ini Daun Api-api Belum Dimanfaatkan
Bagi masyarakat setempat, pemanfaatan daun api-api sebagai bahan sabun cuci merupakan pengetahuan baru.

Ketua Kelompok Perempuan Pesisir, Saonah, mengungkapkan bahwa masyarakat sebelumnya belum mengetahui potensi daun tersebut untuk produk pembersih.

Baca Juga: 21 Kampus Masuk Daftar, Ini Universitas dengan Jurusan Teknik Terbaik di Indonesia 2026 Versi QS dan THE

“Terus terang baru tahu kalau daun api-api bisa dibuat sabun. Biasanya cuma buahnya dibikin kue klepon,” kata Saonah.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya potensi bahan lokal yang selama ini belum banyak disentuh untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Pendampingan kemudian tidak berhenti pada pengenalan manfaat tanaman.

Kelompok perempuan juga dilibatkan dalam proses pengolahan sehingga mereka mempunyai pengalaman untuk membuat produk secara mandiri.

Ada Alasan Mengapa Daun Mangrove Dipilih
Pemanfaatan daun mangrove api-api bukan semata-mata karena bahan tersebut mudah ditemukan di lingkungan pesisir.

Daun Avicennia marina diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif.

Baca Juga: Beasiswa Paragon 2026 Dibuka hingga 10 September, Dapat UKT Rp7 Juta per Semester, Dana Rp20 Juta, Cek Syarat dan Cara Daftar

Ketua Pelaksana PKM, dr. Linawati Hananta, menjelaskan bahwa kandungan flavonoid dan tanin menjadi salah satu alasan daun mangrove tersebut dipilih dalam inovasi sabun cuci cair.

“Kandungan flavonoid dan tanin di dalam daun mangrove membuatnya aman untuk diolah menjadi sabun cuci. Itulah yang membedakan MUGRIN dengan sabun cuci lainnya,” ujar Linawati.

Senyawa tersebut juga dikaitkan dengan aktivitas yang dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroba serta memiliki sifat antioksidan.

Meski demikian, manfaat tersebut perlu dipahami dalam konteks formulasi produk. Kandungan alami bahan tidak dengan sendirinya menentukan keamanan seluruh produk akhir.

Baca Juga: Team OVERDOSE Gandeng Gerakan Anak Negeri Bantu Penyintas Gempa NTT Wujud Aksi Nyata Cinta Indonesia

Keamanan sabun tetap bergantung pada proses ekstraksi, komposisi bahan, konsentrasi, pH, pengawet bila digunakan, serta pengujian produk secara keseluruhan.

Dari Kebutuhan Rumah Tangga Menjadi Peluang Usaha
Ada alasan praktis mengapa sabun cuci dipilih sebagai produk yang dikembangkan.

Sabun cuci merupakan kebutuhan sehari-hari rumah tangga, terutama untuk membersihkan peralatan makan dan berbagai perangkat dapur.

Bagi kelompok perempuan pesisir, produk tersebut juga mempunyai peluang untuk menjawab kebutuhan yang mereka hadapi sendiri.

Baca Juga: Download Soal OMI KSM IPS Terpadu MTs Tahun 2020-2023 PDF, Lengkap Link Google Drive, Gratis

Selama ini, sabun cuci dibeli dari warung-warung terdekat dengan frekuensi sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Dengan adanya alternatif produk yang dapat dibuat dari bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, masyarakat diharapkan dapat mengurangi sebagian pengeluaran sekaligus melihat kemungkinan mengembangkan produk untuk dijual.

Di sinilah program tersebut mempunyai dua sisi sekaligus.

Di satu sisi, masyarakat memperoleh keterampilan baru.

Di sisi lain, bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi.

Baca Juga: Wagub Jatim Ungkap 19 Lembaga Pendidikan Terdampak Keracunan MBG dari SPPG Kalitengah

MUGRIN Tidak Berhenti Sebagai Produk Pelatihan
MUGRIN saat ini tidak hanya diperkenalkan sebagai hasil kegiatan pelatihan.

Produk sabun cuci cair tersebut telah diarahkan untuk masuk ke tahap pengenalan dan pemasaran di wilayah Bekasi serta daerah sekitarnya.

Aroma jeruk nipis dipilih untuk memberikan karakter tersendiri pada produk dengan volume 100 mL tersebut.

Tahap pemasaran menjadi bagian penting karena keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membuat produk.

Produk juga harus mempunyai kualitas yang konsisten, kemasan yang layak, identitas merek yang jelas, serta mampu menjangkau konsumen.

Baca Juga: Download Soal OMI KSM Matematika MI 2020-2025 File PDF, Lengkap Link Google Drive Tidak Perlu Bayar

Pendampingan dalam aspek tersebut menjadi penting agar inovasi tidak berhenti ketika kegiatan pelatihan selesai.

Didukung Hibah Pemerintah untuk Pemberdayaan Masyarakat
Program pembuatan sabun cuci berbahan daun mangrove api-api tersebut mendapatkan dukungan dana hibah tahun anggaran 2026.

Pendanaan berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program tersebut masuk dalam skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PMB) dengan lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).

Skema tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pemberdayaan.

Artinya, kegiatan tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan produk, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar dapat mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya.

Baca Juga: Download Soal OMI KSM Kimia MA 2020-2023 PDF, Lengkap Link Google Drive Gratis

Dimulai April, Pendampingan Berlanjut hingga November
Program pendampingan ini telah dimulai sejak April 2026.

Kegiatan belum berakhir pada tahap pelatihan pembuatan sabun.

Tim masih akan melakukan pendampingan dan monitoring hingga November 2026.

Tahap lanjutan tersebut menjadi penting untuk melihat bagaimana kelompok masyarakat menerapkan keterampilan yang sudah diperoleh, sekaligus mengevaluasi perkembangan produk MUGRIN.

Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, keberlanjutan menjadi tantangan tersendiri.

Produk yang berhasil dibuat ketika pelatihan belum tentu otomatis menjadi usaha yang berjalan setelah program selesai.

Baca Juga: Bukan 293, Kini 500 Santri Tumbang Usai Santap MBG, SPPG Kalitengah Disuspend

Karena itu, pendampingan secara berkala dapat menjadi ruang untuk mengevaluasi kualitas produk, proses produksi, pengemasan, pemasaran, hingga kemampuan kelompok dalam mengelola kegiatan secara mandiri.

Perempuan Pesisir Mendapat Ruang Mengembangkan Potensi
Kegiatan di Desa Pantai Sederhana juga memperlihatkan bagaimana program pengabdian perguruan tinggi dapat diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat.

Kelompok perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pengembangan produk.

Baca Juga: Cinta atau Obsesi? Kenali Tanda Hubungan Mulai Berubah Jadi Sikap Mengontrol

Pendekatan semacam ini membuka peluang agar keterampilan yang diperoleh dapat diteruskan kepada anggota kelompok lainnya.

Jika pengembangan MUGRIN dapat berjalan konsisten, produk tersebut berpotensi menjadi salah satu contoh bagaimana sumber daya yang tersedia di kawasan pesisir dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.

Namun, pengembangan produk berbahan mangrove juga perlu berjalan beriringan dengan prinsip konservasi.

Mangrove mempunyai fungsi ekologis penting bagi kawasan pesisir, termasuk membantu melindungi wilayah pantai, menyediakan habitat bagi berbagai organisme, dan mendukung ekosistem pesisir.

Baca Juga: MBG Bikin Santri Tumbang, BBPOM Turun Tangan: Ada Apa dengan Dapur SPPG?

Karena itu, pemanfaatan bahan dari mangrove perlu memperhatikan keberlanjutan dan tidak boleh mendorong eksploitasi tanaman secara berlebihan.

Dari Daun Mangrove ke Produk yang Punya Nilai Tambah
Inovasi MUGRIN pada akhirnya memperlihatkan satu hal sederhana: bahan yang selama ini dianggap biasa dapat mempunyai nilai baru ketika dipadukan dengan pengetahuan, penelitian, dan pendampingan yang tepat.

Daun api-api yang sebelumnya belum diketahui masyarakat dapat diolah menjadi bahan dalam sabun cuci cair.

Keterampilan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi peluang penghematan rumah tangga maupun peluang ekonomi baru.

Baca Juga: Hujan Salat

Masih terlalu dini untuk menyebut MUGRIN sebagai produk usaha yang telah mapan karena program pendampingannya sendiri masih berlangsung hingga November 2026.

Jawabannya akan terlihat dari proses pendampingan dan perkembangan MUGRIN dalam beberapa bulan ke depan. ***