POJOKSATU.ID - Upaya pemerintah Indonesia dalam memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitasnya mulai membuahkan hasil nyata.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dari tahun 2010 hingga 2023 menunjukkan bahwa intervensi pemerintah melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) telah memberikan dampak yang signifikan.

Salah satu indikator paling mencolok adalah peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang SMA/SMK/MA dan yang sederajat.

APK, yang mengukur perbandingan antara jumlah penduduk yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan dengan populasi yang seharusnya berada di jenjang tersebut, adalah cerminan langsung dari tingkat partisipasi pendidikan.

Baca Juga: PIP dan BOS: Memastikan Setiap Anak Indonesia Meraih Pendidikan Berkualitas dan Terhindar dari Jurang Putus Sekolah

Pada tahun 2010, APK jenjang SMA/SMK untuk penduduk dari kuintil termiskin (kuintil 1) hanya mencapai 34,82%.

Namun, setelah diluncurkannya Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) pada tahun 2013—pendahulu PIP—angka ini melonjak drastis menjadi 59,74%.

Tren positif ini terus berlanjut, dengan APK jenjang SMA meningkat menjadi 71,35% pada tahun 2020 dan mencapai 75,89% pada tahun 2023.

Ini adalah bukti konkret bahwa bantuan pemerintah telah berhasil menarik lebih banyak anak, khususnya dari keluarga kurang mampu, untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang menengah.

Baca Juga: Bantuan PIP Belum Cair? Segera Hubungi Sekolah dan Lakukan Hal Ini Segera!

Dampak positif program-program ini juga terlihat jelas pada penurunan drastis angka putus sekolah.

Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek, pada tahun 2013, sebelum BSM pertama kali digulirkan, tercatat ada 602,5 ribu siswa yang putus sekolah.

Angka ini kemudian turun secara signifikan menjadi 416,4 ribu siswa setelah BSM mulai berjalan.

Penurunan ini semakin tajam setelah BSM disempurnakan menjadi PIP Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) pada tahun 2015, di mana jumlah siswa putus sekolah berkurang menjadi 237,9 ribu.

Tren positif ini terus berlanjut, menunjukkan efektivitas program dalam mempertahankan siswa di bangku sekolah.

Pada tahun 2021, jumlah siswa putus sekolah dari semua jenjang pendidikan berhasil ditekan hingga hanya tersisa 83,7 ribu.

Melalui PIP dan BOS, pemerintah secara konsisten berupaya membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin. ***