POJOKSATU.ID - Dua guru SMAN 1 Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Abdul Muis dan Rasnal baru saja menjalani kisah pilu bak roller coaster. Bisa disebut sebagai pejuang kemanusiaan namun tindakannya berujung penjara, meski akhirnya dimaafkan negara.
Api Kecil yang Dijaga Dua Guru
Sekolah mereka sudah lama bergulat dengan kekurangan anggaran. Gaji guru honorer tertunda berbulan-bulan.
Sepuluh bulan tanpa pemasukan adalah waktu yang sangat panjang bagi siapa pun yang hidup dari pekerjaan mengajar.
Baca Juga: Penantian TPG di Akhir Tahun 2025, Diskusi Grup Guru Berharap Kepastian dari Pemerintah
Melihat rekan-rekannya mulai goyah, Muis dan Rasnal tidak sanggup berdiam diri.
Pada saat itu, Rasnal masih memimpin sekolah, dan Muis menjadi sosok yang selalu menguatkan para guru.
Dari ruang rapat kecil, lahirlah ide sederhana: meminta iuran sukarela dari orang tua, Rp20 ribu saja.
Mereka tahu jumlah itu kecil. Namun bagi guru-guru yang dapurnya hampir padam, jumlah itu berarti harapan.
Baca Juga: Guru Agama Belum Terima THR dan Gaji 13 Sejak 2023, Begini Penjelasan Kemenag
Niat Baik yang Menabrak Tembok Hukum
Namun langkah yang mereka kira benar justru menjadi awal badai. Iuran yang diniatkan untuk menyelamatkan para guru ditafsirkan sebagai tindakan melanggar hukum.
Mereka dianggap melakukan pungutan liar atau pungli di SMAN 1 Luwu Utara.
Putusan pengadilan datang tanpa banyak jeda. Mahkamah Agung menyatakan mereka bersalah.
Vonis itu bukan hanya menjatuhkan status ASN mereka, tetapi juga mematahkan martabat yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Suara Rasnal hampir tak terdengar ketika ia menyampaikan kabar pemecatan itu kepada keluarga.
Sementara Muis menghabiskan malam yang panjang tanpa dapat menjelaskan bagaimana kebaikan berubah menjadi kesalahan.
Kasus ini kemudian membesar. Di berbagai daerah, para guru saling mengirim pesan solidaritas.
Banyak yang takut mereka suatu hari bisa mengalami hal serupa. PGRI pun bergerak, mereka berunjuk rasa pada 5 November 2025 lalu, hingga mengajukan permohonan pemulihan hak dan grasi kepada Presiden.
Menunggu di Antara Harapan dan Takut
Hari-hari berikutnya menjadi penantian yang berat. Tak ada hal yang lebih menyakitkan bagi seorang guru selain kehilangan kehormatan dalam profesi yang ia cintai.
Beberapa kali Muis mengatakan pada sahabatnya, “Kami hanya ingin menolong. Apakah itu salah?” Suaranya selalu lirih setiap kali mengucapkannya.
Rasnal tetap datang ke sekolah, meski bukan lagi sebagai kepala sekolah. Ia duduk jauh di belakang halaman, hanya untuk merasakan lagi suasana tempat ia pernah berjuang.
Baca Juga: Deadline Malam Ini! 87.632 Lowongan Magang Nasional 2025 Batch 2 Siap Diperebutkan
Pagi yang Mengubah Segalanya
Lalu tibalah hari yang tak pernah mereka bayangkan. Rabu, 13 November 2025, sinar pagi Jakarta membawa berita yang akan mengubah hidup mereka.
Di Bandara Halim Perdanakusuma, Presiden Prabowo Subianto menyerahkan langsung surat pemulihan hak mereka.
Saat amplop putih itu diberikan, Muis menunduk. Air matanya jatuh satu per satu, bukan karena kalah, tetapi karena akhirnya didengar.
“Alhamdulillah,” katanya terbata. “Terima kasih kepada Bapak Presiden yang melihat kami sebagai manusia.”
Rasnal, yang biasanya tegar, ikut mengusap wajahnya dalam diam. Pemulihan itu bukan hanya tentang status ASN. Itu tentang harga diri yang kembali utuh.
Lebih dari Sekadar Surat Keputusan
Keputusan Presiden menjadi titik balik. Bagi banyak guru, langkah itu menunjukkan bahwa penegakan hukum tetap harus menyisakan ruang bagi empati.
Perjalanan Muis dan Rasnal mengingatkan bahwa di ruang-ruang kelas terpencil, guru sering mengambil keputusan yang tidak tertulis. Mereka memilih bertindak demi murid dan rekan mereka, meski risikonya besar.
Kini keduanya kembali mengajar. Rasnal kembali menyapa siswa dengan senyum yang lebih hangat. Muis kembali menata buku pelajaran dengan tangan yang lebih mantap.
Mereka tidak ingin dibalas dengan pujian. Mereka hanya berharap satu hal: tidak ada guru yang kembali dipaksa memilih antara mengikuti aturan atau mempertahankan nurani.
Dan seperti langkah mereka setiap pagi, kehidupan pun berjalan lagi. Namun kali ini, negara berdiri bersama mereka.***



