POJOKSATU.id - Peneliti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menghadirkan inovasi nyata untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di sektor pertanian.
Program ini diimplementasikan langsung di lahan pertanian Sindangpalay, Desa Cugugur, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 2, yakni tanpa kelaparan atau zero hunger, yang mencakup ketahanan pangan, nutrisi, dan pertanian berkelanjutan.
Baca Juga: Sehari Usai Kejadian Ternyata Pemilik Warung Madura Sudah Damai dengan Anggota TNI AD
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si., menegaskan bahwa program ini memiliki nilai strategis, bukan hanya untuk pengembangan produk, tetapi juga membuka peluang kemitraan hingga pasar internasional.
“Salah satu produk penelitian dosen kita, Bionut, digunakan dalam pertanian yang sebenarnya. Jadi, ini ada sejumlah pohon sayuran: buncis, tomat, dan lain sebagainya.
Sangat kentara bahwa tumbuhnya tanaman hortikultura ini kelihatan.
Baca Juga: Hadirkan Kecoa, Mahasiswa Undip Sulap Jadi Teknologi Pencari Korban Bencana, Borong Emas di Malaysia
Seperti manusia juga kan kalau sehat keliatan bugar ini kira-kira seperti itu,” ujar Prof. Agus di Bandung Barat.
Tanaman Lebih Sehat, Biaya Lebih Hemat
Penggunaan bio nutrisi ini terbukti memberikan dampak signifikan pada kualitas tanaman.
Selain tumbuh lebih subur, daya tahan tanaman juga meningkat, sementara penggunaan pupuk dan pestisida bisa ditekan.
Prof. Agus menyebut inovasi ini sebagai langkah progresif yang perlu segera diperluas pemanfaatannya.
Baca Juga: Pilmapres 2026 di Unpad, Siapa Paling Siap Menyala di Masa Depan, Cek 12 Nama Mahasiwa Lolos Seleksi
“Ini sangat progresif sekali. Sebenarnya, produk-produk seperti inilah yang kita harapkan terhilirisasi bukti penggunaannya.
Nanti kita coba diskusikan bagaimana pemasaran lebih luas atau pengenalan produk ini lebih luas kepada para petani.
Harus ada salah satu program untuk mengenalkan produk ini kepada para petani secara lebih luas.
Kelihatan prospeknya akan sangat baik, karena di sekitar UPI masih banyak pertanian hortikultura seperti yang kita lihat pada hari ini,” jelasnya.
Baca Juga: Milangkala Tatar Sunda di Garut Pecah, Kirab Mahkota Binokasih Disambut Ribuan Warga
Produk yang digunakan dalam program ini dikenal sebagai Bionut, hasil riset panjang dari kelompok keahlian kimia lingkungan UPI yang dipimpin oleh Yaya Sonjaya, M.Si.
“Bio Nutrien ini bukan pupuk, tapi suplemen tumbuhan. Pertama, supaya pertumbuhannya bagus.
Kedua, produksi sayur atau buahnya akan berlangsung dengan sangat baik. Tidak hanya di Cigugur dikembangkan juga di daerah Cibodas,” jelas Yaya.
Riset ini sendiri telah dikembangkan sejak tahun 2006 hingga 2026, atau sekitar 20 tahun, dengan memanfaatkan ekstrak tumbuhan tropis sebagai bahan utama.
Dampak Nyata di Lapangan
Salah satu petani setempat, Ustad Iiin, merasakan langsung manfaat dari penggunaan bio nutrisi ini.
Lahan seluas 6.500 meter persegi yang ditanami cabai, tomat, dan buncis menunjukkan hasil yang lebih optimal.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan bio nutrien mampu menghemat pupuk secara signifikan, dengan perbandingan 1 banding 3.
Artinya, satu kali penggunaan bio nutrien bisa menggantikan tiga kali penggunaan pupuk konvensional.
Baca Juga: Pantau Nilai Secara Real Time! Ini Link Live Score Seleksi Manajer Koperasi 2026
“Tidak hanya lahan tersebut yang diberikan pendekatan dengan menggunakan bionutrient, tetapi juga akan dibentuk kelompok pertanian binaan langsung dalam mengimplementasikan bionutrient ini,”tambahnya.
Program hilirisasi hasil riset ini diharapkan memberi dampak langsung bagi petani, baik dalam meningkatkan hasil panen maupun menekan biaya produksi. ***




