POJOKSATU.id - Beberapa waktu lalu, media sosial dihebohkan dengan video yang memperlihatkan kekhawatiran seorang guru takut dipolisikan karena menegur siswa.

Dalam video tersebut, seorang siswa tampak rebahan di atas kursi saat pelajaran sedang berlangsung, dan guru tersebut menuliskan bahwa ia enggan menegur karena takut dipolisikan.

Kejadian ini menimbulkan perbincangan tentang tantangan yang dihadapi oleh para guru dalam mendidik siswa di era sekarang. Bahkan beredar juga video parodi guru cuek tak mau menegur kejadian buruk di lingkungan sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti akhirnya angkat bicara. Ia menanggapi hal tersebut dengan menyatakan bahwa para guru tidak perlu khawatir untuk menegur siswa yang berperilaku tidak baik.

Baca Juga: Guru SMP Swasta di Bogor Dipolisikan dan Dinonaktifkan, Aniaya Murid Hingga Memar, Pingsan Terus Ditendang

Ia menegaskan bahwa mendisiplinkan siswa sangat penting, tetapi cara mendisiplinkannya harus sesuai dengan zaman.

"Mendisiplinkan itu penting, tapi cara mendisiplinkan murid juga tidak kalah pentingnya. Cara mendisiplinkan tahun 50 tidak sama dengan cara mendisiplinkan 2025," ujar Mu'ti saat mengunjungi SDN 59 Palembang, Sumatera Selatan, pada Jumat (1/11/2024).

Mu'ti juga mengingatkan bahwa hak-hak guru sudah dilindungi dalam Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mengatur perlindungan bagi guru dalam menjalankan tugasnya.

Selain itu, ia menyebutkan bahwa terdapat peraturan menteri yang mendukung perlindungan terhadap guru.

Baca Juga: Mirip KASUS Supriyani, Guru Wonosobo Dipolisikan, Dituntut Ganti Rugi Rp70 Juta Setelah Melerai Keributan Siswa

"Kalau secara aturan, secara undang-undang, sebenarnya sudah ada pasal di dalam undang-undang guru dan dosen yang mengatur tentang perlindungan guru. Bahkan juga sudah ada turunannya di dalam Peraturan Menteri yang waktu itu diterbitkan oleh Pak Muhadjir Effendy," ungkap Mu'ti.

Menurut Mu'ti, masalah yang dihadapi guru bukan karena tidak ada perlindungan hukum, melainkan bagaimana penerapan dan penegakan hukum tersebut.

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus memastikan penegakan undang-undang tersebut berjalan dengan baik.

Mu'ti juga menyoroti kurangnya komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua yang menjadi salah satu penyebab masalah ini.

Baca Juga: Menuai Kontroversi, GURU PENGGERAK Disebut DISKRIMINASI, Cek Fakta Langsung Suara Para Guru,

Ia menjelaskan bahwa masalah seperti ini sering muncul karena kurangnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan serta kurangnya kompetensi guru dalam mengelola kelas dan menangani siswa secara individu.

"Dan kalau kita lihat, persoalan yang sekarang ini dialami oleh para guru itu terjadi karena kurangnya komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua," ujar Mu'ti.

"Kemudian yang kedua mungkin juga sebagian karena kurangnya kompetensi pedagogik para guru, terutama yang berkaitan dengan classroom management, penanganan anak secara individual," tambahnya.

Baca Juga: Siswa BAKAR SEPEDA MOTOR Kepala Sekolah, Burhan Pilih Memaafkan Muridnya, Bahkan Diminta LANJUTKAN SEKOLAH

Selain itu, Mu'ti juga mengingatkan bahwa guru perlu memberikan perhatian khusus kepada siswa.

Ia menyarankan agar guru bisa lebih memahami kebutuhan individu siswa dan memperhatikan harapan orang tua agar dapat mengurangi masalah yang muncul.

"Tapi juga tidak kita pungkiri memang ada anak-anak yang dia memerlukan perhatian khusus dari gurunya. Dan juga mungkin ada ekspektasi yang terlalu tinggi dari orang tua terhadap guru yang karena itu kemudian terjadi kasus-kasus yang tidak kita inginkan," pesan Mu'ti.

Untuk membantu para guru menghadapi tantangan ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sedang mempersiapkan program konseling bagi guru.

Baca Juga: GANTI MENTERI Ganti Kurikulum, Mendikdasmen Abdul Mu'ti Inginkan Skema Kebijakan TIDAK BURU-BURU, Begini PERUBAHAN KURIKULUM Hingga Pemberlakuan NEM

Program ini bertujuan untuk memperkuat mental guru dan memberikan keterampilan yang dibutuhkan dalam menjalankan tugasnya.

"Karena itu solusi yang kami lakukan untuk jangka pendek ke depan adalah bagaimana guru-guru ini memiliki kemampuan yang berkaitan dengan bimbingan konseling, penanaman pendidikan nilai, dan penguatan kerjasama antara sekolah, guru dengan masyarakat, dan dengan orang tua," kata Mu'ti. ***


#Ikuti aplikasi berita [Pojok Satu] di Play Store dan App Store: [Android] dan [iOS] untuk mendapatkan informasi terbaru.