POJOKSATU.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkap hasil nilai rerata Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 untuk jenjang SMA sederajat.

Data ini memperlihatkan peta capaian akademik siswa secara nasional, sekaligus menjadi bahan refleksi bersama bagi sekolah, guru, dan pemerintah daerah.

Hasilnya cukup kontras. Mata pelajaran dengan nilai rerata tertinggi justru datang dari Antropologi, sementara Bahasa Inggris Wajib dan Matematika Wajib berada di posisi terbawah. Penilaian TKA sendiri menggunakan skala maksimum 100,00.

Baca Juga: Pendaftaran Dibuka 19 Januari, Ini Jadwal Lengkap Tahapan TKA 2026 untuk Jenjang SD dan SMP

Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyebut capaian ini tidak dimaksudkan sebagai peringkat atau penentu kelulusan siswa.

“Rerata tertinggi tercatat pada beberapa mata pelajaran pilihan, antara lain antropologi dengan rata-rata sekitar 70,4,” kata Toni di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Senin, 22 Desember 2025.

Bahasa Inggris dan Matematika Jadi Perhatian

Selain Antropologi, data TKA 2025 juga menunjukkan tantangan serius pada mata pelajaran wajib tertentu. Bahasa Inggris Wajib mencatat rerata terendah, disusul Matematika Wajib.

“Sementara ini rata-rata dari mata pelajaran wajib Bahasa Inggris Wajib kita lihat 24,9. Kemudian Matematika Wajib rata-ratanya 36,1,” ujar Toni.

Baca Juga: Hasil TKA SMA 2025 Diumumkan Hari Ini 23 Desember, Berikut Cara Cek Hasil dan Langkah Mengunduh Sertifikat

Meski begitu, ia menegaskan nilai tersebut tidak boleh dimaknai sebagai kegagalan siswa. Data TKA justru diposisikan sebagai cermin untuk melihat kompetensi dan arah perbaikan pembelajaran.

“Data ini akan menjadi bahan evaluasi kebijakan, penguatan pendampingan satuan pendidikan, dan peningkatan kualitas pembelajaran ke depan,” jelasnya.

Soal TKA Lebih Menuntut Penalaran

Senada, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Rahmawati menjelaskan rendahnya nilai Matematika dan Bahasa Inggris tidak lepas dari karakter soal TKA yang menekankan penalaran dan pemahaman konteks naratif.

“Rendahnya nilai yang diperoleh siswa kemungkinan disebabkan soal yang diujikan lebih menekankan pada aspek penalaran dan bersifat naratif,” ujar Rahmawati dalam Taklimat Media TKA 2025.

Baca Juga: Bagaimana Perguruan Tinggi Menilai Rapor dan Hasil TKA, Berpengaruh di Seleksi SNBP 2026, Begini Korelasinya

Ia mencontohkan soal data dan peluang yang tidak lagi sekadar meminta siswa menghitung rata-rata secara langsung, melainkan mengaitkan tabel data dengan berbagai syarat dan ketentuan. Banyak siswa dinilai luput membaca petunjuk naratif yang menjadi kunci jawaban.

Daftar Nilai Rerata TKA SMA Sederajat 2025

Berikut data lengkap nilai rerata TKA SMA sederajat tahun 2025 yang dirilis Kemendikdasmen.

Mata pelajaran wajib:

  • Bahasa Indonesia Wajib: 55,38

  • Matematika Wajib: 36,10

  • Bahasa Inggris Wajib: 24,93

  • PPKN: 60,91

  • Antropologi: 70,43

  • Projek Kreatif dan Kewirausahaan: 56,34

  • Bahasa Indonesia Lanjut: 68,02

  • Matematika Lanjut: 39,32

  • Bahasa Inggris Lanjut: 45,23

  • Biologi: 54,40

  • Sosiologi: 60,07

Baca Juga: Kemendiktisaintek Tegaskan Kampus Inklusif Jadi Keharusan, Metrik Inklusi Disabilitas Mulai Diterapkan Nasional

Mata pelajaran pilihan:

  • Ekonomi: 31,68

  • Kimia: 34,92

  • Sejarah: 62,72

  • Fisika: 37,65

  • Geografi: 70,36

  • Bahasa Arab: 64,97

  • Bahasa Jepang: 55,21

  • Bahasa Mandarin: 57,66

  • Bahasa Jerman: 36,57

  • Bahasa Korea: 28,55

  • Bahasa Perancis: 45,05

Baca Juga: Download Panduan Penelitian dan Pengabdian 2026, Jadi Arah Baru Transformasi Pendidikan Tinggi Nasional

Jadi Baseline Perbaikan Pembelajaran

Melihat hasil tersebut, Rahmawati menyebut TKA 2025 sebagai titik awal atau baseline untuk perbaikan ke depan. Ia mendorong forum guru di sekolah hingga daerah agar membedah hasil TKA secara lebih mendalam.

“Harapannya forum guru membedah sekolahnya masing-masing, bandingkan dengan wilayah yang masih kurang di materi tertentu. Kalau ada sekolah lain yang menguasai, bisa sharing,” katanya.

Kemendikdasmen juga berencana merilis tindak lanjut secara lebih detail, mulai dari tingkat satuan pendidikan hingga dinas provinsi dan kantor wilayah. 

Tujuannya agar pembelajaran ke depan lebih adaptif terhadap tuntutan penalaran dan pemahaman konteks. ***