POJOKSATU.id - Honorer di sejumlah daerah dibuat ngamuk karena progres penetapan NI PPPK 2023 lemot bak bekicot.
Lemotnya penetapan NI PPPK 2023 itu tentu saja disesalkan honorer yang sudah dinyatakan lulus seleksi PPPK 2023.
Padahal mereka sudah sangat menantikan SK pengangkatan dan resmi menyandang ASN pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja.
Terlebih setelah BKN atau Badan Kepegawaian Negara merilis update rekap CASN 2024 per 16 April 2024.
Dalam data terbaru itu, masih banyak daerah yang pencapaiannya di bawah 50 persen.
Bahkan yang lebih ironis lagi, banyak juga daerah yang progres penerbitan NIP masih 0.
Tidak hanya itu, daerah yang sama sekali belum mengajukan usulan NIP ke BKN juga tidak sedikit.
Padahal berdasarkan data yang dilihat Pojoksatu.id, hampir seluruh daerah rata-rata sudah mencapai 90 persen.
Malah tidak sedikit daerah yang nomor induk pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja seluruhnya sudah diterbitkan oleh BKN.
Sebagai informasi, dalam hal penerbitan NIP sepenuhnya merupakan kewenangan Badan Kepegawaian Negara.
Akan tetapi BKN baru bisa memproses jika sudah ada usulan dari instasi pengusul dalam hal ini pemerintah daerah.
Setelah BKN menerbitkan NIP selanjutnya diserahkan kembali ke pemerintah daerah masing-masing.
Barulah kemudian pemda menerbitkan SK pengangkatan dan pelantikan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja.
Dengan resmi melepas status honorer, tentunya gaji pertama sebagai PPPK di 2024 pun langsung diterima.
Bagi mereka yang SK pengangkatan dan pelantikannya sebelum lebaran kemarin, maka dipastikan juga menerima THR atau tunjangan hari raya.
Honorer Ngamuk
Kondisi ini tentu saja memantik amarah honorer yang sudah dinyatakan lulus seleksi PPPK 2023 lalu.
Mereka merasa diperlakukan tidak adil. Padahal honorer tersebut juga menjalani proses seleksi yang sama dengan honorer lain yang sudah diangkat.
Akibatnya, honorer di sejumlah daerah ngamuk dan menggeruduk pemkab setempat.
Di Kabupaten Langkat misalnya. Tidak kurang dari 300an guru lulus PPPK 2023 menggeruduk kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) setempat pada Rabu 17 April 2024.
Kedatangan ratusan guru ke kantor BKD Langkat adalah mempertanyakan progres penetapan NI PPPK 2023 dan penerbitan SK pengangkatan yang tidak jelas kapan diberikan.
Guru honorer tersebut juga menuntut BKD Langkat secepatnya memproses NIP dan SK pengangkatan.
Sayangnya, upaya para guru honorer tersebut tak membuahkan hasil.
Mereka lantas berencana menemui DPRD Langkat dan menggelar aksi di BKN Kanreg VI Medan.
Berikut ini daftar daerah dengan progres NIP masih di bawah 50 persen berdasarkan rilis terbaru BKN per 16 April 2024:
PPPK Tenaga Kesehatan
1. Pemkab Mandailing Natal: 0 persen
2. Pemkab Labuhanbatu Selatan: 0 persen
3. Pemkab Labuhanbatu Utara: 47 persen
4. Pemkab Sorolangun: 0 persen
5. Pemkab Rejang Lebong: 19 persen
6. Pemkot Cilegon: 27 persen
7. Pemkab Purworejo: 35 persen
8. Pemkab Bangkalan: 15 persen
9. Pemkab Bojonegoro: 2 persen
10. Pemkab Tuban: 25 persen
11. Pemprov Sulawesi Utara: 0 persen
12. Pemkab Minahasa: 0 persen
13. Pemkab Bolaang mongondow: 0 persen
14. Pemkab Kepulauan Sangihe: 0 persen
15. Pemkot Manado: 0 persen
16. Pemkab Tomohon: 46 persen
17. Pemkab Pohuwato: 0 persen
18. Pemkab Gowa: 35 persen
19. Pemprov Sulawesi Tenggara: 0 persen
20. Pemprov Maluku Utara: 39 persen
21. Pemkab Halmahera Tengah: 0 persen
22. Pemkab Halmahera Selaan: 0 persen
23. Pemkab Halmahera Utara: 0 persen
24. Pemkab Pulau Morotai: 0 persen
25. Pemkab Teluk Bintuni: 19 persen
26. Pemkab Nabire: 36 persen
27. Pemkab Mimika: 11 persen
28. Pemkab Deiyai: 0 persen
29. Pemkab Dogiyai: 0 persen
PPPK Tenaga Teknis
1. Pemprov Sumatera Utara: 14 persen
2. Pemkab Dairi: 17 persen
3. Pemkab Mandailing Natal: 19 persen
4. Pemkab Serdang Bedagai: 18 persen
5. Pemkab Labuhanbatu Selatan: 0 persen
6. Pemkab Padang Pariaman: 43 persen
7. Pemkab Tanjugn Jabung Barat: 0 persen
8. Pemkab Kerinci: 12 persen
9. Pemkab Sorolangun: 17 persen
10. Pemkab Musi Banyuasin: 24 persen
11. Pemkab Muara Enim: 45 persen
12. Pemkab Rejang Lebong: 12 persen
13. Pemkab Purworejo: 0 persen
14. Pemkab Malang: 36 persen
15. Pemkab Blitar: 36 persen
16. Pemkab Bojonegoro: 23 persen
17. Pemkab Pasuruan: 45 persen
18. Pemprov Sulawesi Utara: 0 persen
19. Pemkab Minahasa: 0 persen
20. Pemkab Kepulauan Sangihe: 0 persen
21. Pemkot Manado: 0 persen
22. Pemkab Pohuwato: 0 persen
23. Pemkab Bone Bolango: 37 persen
24. Pemkab Gowa: 3 persen
25. Pemprov Sulawesi Tenggara: 0 persen
26. Pemkab Halmahera Tengah: 0 persen
27. Pemkab Halmahera Selatan: 0 persen
28. Pemkab Halmahera Utara: 0 persen
29. Pemkab Halmahera Timur: 48 persen
30. Pemkab Pulau Morotai: 0 persen
31. Pemkab Dairi: 17 persen
PPPK Guru
1. Pemprov Sumatera Utara: 35 persen
2. Pemkab Langkat: 48 persen
3. Pemkab Mandailing Natal: 0 persen
4. Pemkab Serdang Begadai: 22 persen
5. Pemkab Labuhanbatu Selatan: 0 persen
6. Pemkab Pelalawan: 1 persen
7. Pemkot Pariaman: 0 Persen
8. Pemprov Jambi: 35 persen
9. Pemkab Tanjung Jabung Barat: 34 persen
10. Pemkab Sorolaggung: 27 persen
11. Pemkab Bengkulu Utara: 40 persen
12. Pemkab Purwoejo: 0 persen
13. Pemkab Malang: 16 persen
14. Pemkab Pasuruan: 31 persen
15. Pemkab Blitar: 15 persen
16. Pemkab Bojonegoro: 0 persen
17. Pemkot Surabaya: 31 persen
14. Pemprov Sulawesi Utara: 0 persen
15. Pemkab Minahasa: 0 persen
16. Pemkab Kepulauan Sangige: 0 persen
17. Pemkot Manado: 0 persen
18. Pemkab Pohuwato: 0 persen
19. Pemkab Gowa: 0 persen
20. Pemprov Maluku Utara: 11 persen
21. Pemkab Halmahera Tengah: 0 persen
22. Pemkab halmahera Selatan: 0 persen
23. Pemkab Halmahera Utara: 0 persen
24. Pemkab Pulau Morotai: 0 persen
25. Pemkab Jayapura: 43 persen
26. Pemkab Supiori: 0 persen
27. Pemkab Asahan: 0 persen
28. Pemkab Teluk Bintuni: 3 persen
29. Pemkab Teluk Wondama: 8 persen
30. Pemkab Fak-fak: 0 persen
31. Pemkab Asmat: 0 persen
32. Pemkab Deiyai: 0 persen
33. Pemkab Gogiyai: 0 persen
34. Pemkab Pegunungan Bintani: 0 persen
35. Pemkab Raja Ampat: 17 persen
36. Pemkab Tambrauw: 1 persen
37. Pemkot Sorong: 37 persen
Itulah daftar daerah lemot penetapan NI PPPK 2023 habis lebaran masih 0 persen sampai memicu kemarahan honorer.***




