POJOKSATU.id - Kadang, ide besar memang lahir dari waktu yang sempit.

Tapi siapa sangka, dari persiapan yang cuma hitungan hari, hasilnya justru bisa tembus panggung dunia.

Sekelompok mahasiswi dari Universitas Negeri Malang (UM) kembali bikin publik akademik acungkan jempol.

Tim lintas fakultas mereka berhasil meraih Gold Award kategori Social Sciences dalam ajang International Tinker Innovation and Entrepreneurship Competition 2026 yang digelar oleh Universiti Teknologi MARA, Malaysia, Rabu (17/4).

Tim ini dipimpin oleh Zaara Safira, bersama Alifia Shafarotuz Zahra dan Valenia Citra Amartha sebagai UI/UX designer, serta Nabila Salsa Billa yang berperan sebagai penulis artikel sekaligus presenter.

Baca Juga: Bukan Cuma Sawit, Dana Riset 2026 Buka Jalan Besar untuk Kakao dan Kelapa

Lahir dari Kebingungan, Berakhir dengan Kemenangan

Inovasi yang mereka usung bernama NeuLearn, sebuah platform Learning Management System (LMS) yang dirancang dengan pendekatan pengalaman pengguna yang lebih intuitif dan adaptif.

Ide ini bukan muncul begitu saja. Zaara mengungkapkan, awalnya tim sempat kebingungan menentukan konsep.

"Awalnya kami cukup bingung, tetapi setelah berdiskusi dengan kakak tingkat, kami mulai mengembangkan ide LMS dengan pendekatan berbeda," ujarnya.

Baca Juga: Karawang Half Marathon 2026 Bakal Diikuti 1.587 Pelari, 34 Peserta Asing Ikut Ambil Bagian

Yang bikin makin menarik, seluruh konsep ini disusun hanya dalam waktu sekitar 10 hari.

Waktu yang terbilang sangat singkat untuk sebuah kompetisi internasional.

Riset Global, Solusi Lokal

Tim tidak asal membuat konsep.

Mereka melakukan riset komparatif terhadap berbagai sistem LMS di sejumlah negara seperti Australia, China, Taiwan, dan Malaysia.

Dari situ, mereka merancang fitur yang tidak hanya inovatif, tapi juga relevan dengan kebutuhan pengguna di Indonesia, khususnya di Malang.

Baca Juga: Jangan Salah Daftar! Ini Standar Umur SPMB SD-MI 2026, Orang Tua Wajib Tahu Biar Tak Gagal Masuk

NeuLearn hadir dalam dua versi utama:

Versi pengajar: dilengkapi fitur berbasis AI untuk membuat modul, mengelola tugas, hingga sistem penilaian otomatis berbasis rubrik.

Bahkan, dosen bisa mengatur perpanjangan deadline secara fleksibel.

Versi mahasiswa: memudahkan pengumpulan tugas, terintegrasi dengan video conference, serta menyediakan akses AI dalam satu platform tanpa perlu berpindah aplikasi.

Tantangan di Balik Layar

Perjalanan mereka tidak mulus. Selain waktu yang terbatas, proses pengerjaan juga bertepatan dengan bulan puasa.

Baca Juga: Iran Klaim Serang 2 Kapal AS di Selat Hormuz, Komando Pusat Militer Amerika Beri Tanggapan

Namun justru di situlah letak kejutan terbesar.

“Kami tidak menyangka bisa meraih Gold Award, ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim,” kata Nabila.

Bukan Sekadar Juara, Tapi Solusi Masa Depan

Inovasi NeuLearn tidak berhenti sebagai karya kompetisi.

Platform ini juga selaras dengan tujuan United Nations melalui program Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas.

Harapannya, NeuLearn bisa benar-benar diimplementasikan di lingkungan kampus, mendorong sistem pembelajaran yang lebih efektif, inklusif, dan berbasis teknologi.

Di balik medali emas itu, ada cerita tentang keberanian mencoba di tengah keterbatasan.

Dan dari situ, terlihat jelas satu hal—bahwa perubahan besar di dunia pendidikan kadang dimulai dari langkah kecil yang nekat, tapi penuh keyakinan.***