POJOKSATU.ID - Dalam menghadapi seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun 2025, para peserta diwajibkan memahami berbagai situasi pembelajaran nyata yang terjadi di dalam kelas.
Salah satu bentuk ujian yang diujikan adalah studi kasus yang menguji kemampuan guru dalam menangani permasalahan pembelajaran berdasarkan pengalaman autentik.
Berikut ini adalah contoh soal studi kasus PPG 2025 untuk jenjang SMA, yang diadaptasi dari pengalaman nyata seorang guru SD dalam menangani siswa yang hiperaktivitas, dengan 500 kata.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film dan Kartun Bertema Pramuka untuk Anak, Seru dan Edukatif!
Masalah: Menghadapi Siswa Hiperaktif di Kelas
Sebagai guru kelas XI SMA, saya pernah menghadapi tantangan saat mengajar seorang siswa yang tergolong hiperaktif. Sebut saja namanya Rio.
Ia sangat aktif, sering berjalan-jalan di kelas, berbicara terus-menerus, bahkan terkadang mengganggu temannya saat kegiatan belajar berlangsung.
Kondisi ini membuat suasana kelas tidak kondusif dan mengganggu konsentrasi siswa lain.
Baca Juga: Kemensetneg Keluarkan Surat Edaran Soal Pengibaran Bendera Merah Putih Serentak Jelang HUT ke-80 RI
Awalnya, saya merasa frustrasi karena teguran lisan yang saya berikan hampir setiap hari tidak membuahkan hasil.
Bahkan, ketika saya mencoba memindahkan tempat duduknya ke depan agar lebih mudah diawasi, ia tetap menunjukkan perilaku yang sama.
Saya menyadari bahwa pendekatan disiplin semata tidak cukup untuk menghadapi anak dengan kebutuhan khusus seperti Rio.
Saya kemudian mencari tahu lebih lanjut mengenai karakteristik anak hiperaktif melalui membaca literatur dan berdiskusi dengan guru BK di sekolah.
Saya mulai memahami bahwa Rio sebenarnya bukan anak nakal, tetapi ia memiliki kebutuhan khusus dalam cara belajar dan berperilaku. Dari situ, saya mencoba mengubah pendekatan saya secara menyeluruh.
Pertama, saya mulai memberi tugas-tugas kecil yang bersifat aktif dan melibatkan gerak, seperti membagikan lembar kerja atau menjadi pemimpin kelompok diskusi.
Baca Juga: Pendaftaran KJP Plus 2025 Tahap II Resmi Dibuka, Ini Syarat & Jadwal Lengkapnya
Aktivitas ini membuat energi Rio tersalurkan secara positif. Kedua, saya menggunakan sistem reward sederhana untuk perilaku baik, seperti stiker atau pujian di depan kelas ketika ia berhasil menyelesaikan tugas tanpa mengganggu.
Saya juga menjalin komunikasi yang lebih dekat dengan orang tuanya, agar bisa mengetahui rutinitasnya di rumah dan menyamakan strategi pendampingan.
Di waktu senggang, saya sesekali mengajak Rio berbicara secara personal, agar ia merasa diperhatikan dan diterima.
Baca Juga: Persiapan Pelaksanaan TKA Tahun 2025 : Begini Pentingnya Peran Guru dan Sekolah
Lambat laun, perubahan mulai terlihat. Meskipun ia masih aktif, Rio menjadi lebih terkontrol. Ia mulai tahu kapan harus diam dan kapan boleh aktif.
Ia juga tampak lebih percaya diri karena tidak lagi sering dimarahi. Suasana kelas pun menjadi jauh lebih kondusif, dan teman-temannya mulai lebih bisa menerima keberadaan Rio.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda.
Baca Juga: 15 Contoh Kegiatan Motorik Kasar dan Halus Anak TK Usia 4–5 Tahun yang Seru dan Edukatif
Guru harus peka, sabar, dan terus belajar agar bisa memberikan pendekatan yang tepat.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Menghadapi anak hiperaktif bukan hanya soal mendisiplinkan, tetapi bagaimana kita membantu mereka menemukan cara terbaik untuk belajar dan mengekspresikan diri secara positif. ***




