POJOKSATU.id - Dalam artikel ini tersedia contoh studi kasus BK atau Bimbingan Konseling untuk PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 1.
Nantinya studi kasus ini harus dikerjakan guru saat menjalani UTBK atau Ujian Tertulis Berbasis Komputer.
Sewajarnya sebuah ujian, pengerjaan studi kasus juga memiliki limitasi waktu.
Dimana dalam UKPPPG nanti, peserta hanya diberikan waktu 30 menit saja untuk mengerjakan studi kasus ini.
Dengan waktu yang cukup singkat tersebut, guru dituntut untuk bisa menguraikan studi kasus tersebut dengan runut dan benar.
Sebagai informasi, studi kasus akan dikerjakan langsung melalui apilkasi UTBK.
Selain limitasi atau waktu pengerjaan, studi kasus juga wajib memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan.
Yakni terdiri dari minimal 350 kata dan maksimal sampai 600 kata.
Jika tidak menguasai betul materi, maka dipastikan ujian ini akan jadi penghalang bagi guru untuk mendapatkan sertifikat pendidik atau serdik.
Dengan kata lain, guru peserta tersebut bisa dinyatakan tidak lulus.
Tips lain yang harus diperhatikan adalah menjawab pertanyaan nomor 1, 2, 3 dan 4 dengan jawaban singkat atau intinya saja.
Jika memang setelah mengerjakan studi kasus masih ada waktu, Bapak/Ibu guru bisa menambahkan uraian detil pada jawaban untuk pertanyaan nomor 1 sampai 4 tadi.
Dalam artikel ini, redaksi Pojoksatu.id menghadirkan contoh studi kasus BK atau Bimbingan Konseling.
Berikut di bawah ini contohnya:
Bapak/Ibu sebagai seorang guru pasti mengalami permasalahan dalam pembelajaran. Tuliskan pengalaman riil (nyata) Bapak/Ibu minimal 350 kata, maksimal 600 kata
Studi Kasus Reflektif: Menangani Kasus Perundungan Secara Preventif dan Restoratif
Baca Juga: PANDUAN PRAKTIS Video Praktik Pembelajaran UKIN PPG Guru Tertentu dan Contoh Video Terbaik
Sebagai guru Bimbingan dan Konseling di salah satu SMP, saya pernah menangani kasus perundungan verbal yang dilakukan oleh beberapa siswa terhadap salah satu teman sekelasnya.
Korban menjadi pendiam, sering menyendiri, dan menunjukkan penurunan semangat belajar yang signifikan.
Masalah ini tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga mengganggu suasana sosial kelas dan menurunkan rasa aman di lingkungan sekolah.
1. Identifikasi Masalah
Masalah utama yang saya identifikasi adalah terjadinya perundungan verbal yang berulang.
Para pelaku merasa bahwa ejekan atau candaan kasar merupakan hal yang lumrah, tanpa memahami dampak psikologis yang dirasakan oleh korban.
Sementara itu, korban tidak berani melapor karena takut dikucilkan.
Guru mata pelajaran juga mulai mengeluhkan ketidakterlibatan siswa tersebut dalam diskusi kelompok.
2. Upaya Mengatasi Masalah
Saya melakukan langkah awal dengan pendekatan individual, memanggil korban secara personal dan menciptakan suasana yang aman dan nyaman agar ia mau terbuka.
Setelah itu, saya mengonfirmasi kepada wali kelas dan beberapa guru mata pelajaran.
Setelah informasi terkumpul, saya memanggil pelaku dan melakukan konseling secara individu dan kelompok.
Saya tidak langsung memberi label negatif, tapi mengajak mereka memahami dampak perundungan dan mengembangkan empati.
Selain itu, saya melaksanakan layanan klasikal dengan tema anti bullying di kelas tersebut.
Saya menggunakan media video pendek dan permainan peran untuk menggambarkan dampak perundungan serta pentingnya empati dan menghargai perbedaan.
Saya juga mengajak wali kelas untuk membuat kesepakatan kelas yang mendukung lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua siswa.
3. Hasil dari Upaya yang Dilakukan
Setelah beberapa sesi konseling dan kegiatan klasikal, perubahan mulai tampak.
Korban mulai lebih terbuka dan berani berpartisipasi kembali dalam kegiatan kelas. Pelaku mulai menunjukkan sikap yang lebih peduli dan sopan dalam berinteraksi.
Beberapa siswa bahkan meminta maaf secara langsung. Lingkungan kelas pun menjadi lebih positif dan saling mendukung.
Saya juga melihat peningkatan dalam kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga komunikasi yang sehat.
Selain itu, beberapa siswa yang dulunya diam mulai melapor bila melihat perlakuan yang tidak pantas di kelas, menunjukkan bahwa budaya saling menjaga mulai tumbuh.
4. Pengalaman Berharga
Pengalaman ini menjadi titik penting bagi saya dalam memahami bahwa penanganan kasus perundungan tidak bisa hanya bersifat reaktif, tetapi juga harus disertai dengan pendekatan preventif dan restoratif.
Membangun kesadaran melalui layanan klasikal dan kolaborasi dengan wali kelas menjadi kunci keberhasilan intervensi.
Refleksi ini memperkuat keyakinan saya bahwa peran guru BK sangat penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat secara sosial dan emosional.
Saya juga belajar bahwa setiap siswa, baik pelaku maupun korban, membutuhkan bimbingan, bukan hukuman semata.
Ke depan, saya lebih proaktif membuat program layanan pencegahan perundungan dan memperkuat kolaborasi dengan guru lain, wali murid, dan siswa.
Sebagai informasi tambahan, studi kasus di atas terdiri lebih dari 400 kata sehingga sudah memenuhi ketentuan.
Untuk tambahan, Bapak/Ibu guru ada baiknya terus berlatih menulis dan mengerjakan studi kasus.
Ini perlu dilakukan agar nanti pada saatnya bisa mengerjakan dengan lebih mudah dan lancar.
Gunakan aplikasi MS Word untuk mengetahui persis jumlah kata yang sudah dituliskan.
Letaknya ada di bagian kiri bawah ketika Anda mengerjakan di halaman tersebut.
Agar lebih mudah mendapatkan artikel Pojoksatu.id bisa unduh Apss:
Ikuti juga update artikel kami melalui Channel Whatsapp
Khusus informasi terkait dunia pendidikan, tunjangan dan seputar ASN klik Fanpage Facebook Edugov Pojoksatu.id
Semoga contoh studi kasus BK atau Bimbingan Konseling untuk PPG Guru Tertentu 2025 Tahap 1 ini bisa membantu memberikan gambaran dan latihan.***




