POJOKSATU.id - Guru honorer di Muaro Jambi, Tri Wulansari, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan pengalamannya di hadapan Komisi III DPR. 

Ia mengungkapkan bagaimana dirinya ditetapkan sebagai tersangka usai menepuk mulut seorang siswa yang memaki dirinya saat razia rambut di sekolah, Selasa, 20 Januari 2026.

Di hadapan anggota dewan, Tri menjelaskan kejadian bermula saat ia meminta siswa tersebut memotong rambutnya. 

Baca Juga: Banyak Dicari! Contoh Soal CAT PPPK KemenHAM 2026 Lengkap dengan Jawaban dan Kisi-Kisinya

“Saya bilang, ‘dipotong sedikit saja’, seperti itu. Akhirnya dia mau dipotong,” tutur Tri saat menyampaikan kronologi.

Namun, situasi berubah setelah rambut siswa itu dipotong. 

Setelah siswa tersebut justru memutar badan, ia mengucapkan kata-kata kotor kepadanya. 

Baca Juga: Viral! 8 Tahun Mengabdi, Guru di Depok Baru Diangkat PPPK Paruh Waktu dengan Gaji Rp2,5 Juta

Kondisi itu membuat Tri bereaksi spontan. 

“Setelah rambutnya dipotong, dia putar badan. Putar badan itu ngomong kotor, Pak. Jadi setelah dia ngomong kotor, saya refleks menepuk mulutnya,” lanjutnya.

Tindakan refleks itulah yang kemudian berbuntut panjang. 

Baca Juga: Mahasiswa UPI Kembangkan Alat Pengering Singkong Tenaga Surya, Jawab Masalah Pascapanen di Desa

Tri harus berhadapan dengan proses hukum dan ditetapkan sebagai tersangka, sebuah kondisi yang ia akui sangat berat sebagai guru honorer yang selama ini hanya berupaya menegakkan kedisiplinan di sekolah.

Kisah Tri Wulansari pun memantik perhatian banyak pihak, terutama soal posisi guru dalam mendidik sekaligus menghadapi persoalan hukum. 

Di ruang rapat Komisi III DPR, suasana haru terasa saat Tri menyampaikan beban psikologis yang ia rasakan akibat kasus tersebut.

Baca Juga: LPDP Buka Beasiswa Tahap I 2026, Lengkap Daftar Kampus Tujuan Dalam Negeri untuk S2 dan S3

Peristiwa ini membuka ruang refleksi tentang perlindungan bagi guru di tengah tugas mendidik yang penuh tantangan. 

Di balik niat menegakkan disiplin, ada manusia yang juga rentan, berharap keadilan dan kebijaksanaan hadir dalam dunia pendidikan.***