POJOKSATU.id, KEKERASAN terhadap anak masih menjadi persoalan serius yang sering kali terjadi di lingkungan yang seharusnya aman, termasuk di sekolah.

Perundungan, hukuman fisik, hingga kekerasan verbal sering kali dianggap hal biasa, padahal dampaknya bisa sangat dalam bagi tumbuh kembang anak.

Anak yang mengalami kekerasan sejak dini cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, kehilangan rasa percaya diri, bahkan berisiko membawa trauma hingga dewasa.

Baca Juga: Kenapa Guru Non ASN Belum Dapat Tambahan 2 Bulan Tunjangan Sertifikasi? Ini Jawaban Resminya

Karena itu, pencegahan kekerasan tidak bisa hanya dimulai saat mereka remaja—harus dimulai sejak dini, bahkan dari ruang kelas pertama mereka.

Penting bagi setiap guru, orang tua, dan tenaga pendidik untuk memahami bahwa pendidikan bukan sekadar mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk rasa aman dan kasih sayang.

Anak-anak belajar dengan lebih baik ketika mereka merasa dihargai, bukan saat mereka ditekan dengan ketakutan.

Baca Juga: Menumbuhkan Literasi Digital Sejak Dini: Kunci Anak Tumbuh Cerdas, Kritis, dan Bijak di Dunia Maya

Kepala Pusat Studi Islam, Perempuan, dan Pembangunan (PSIPP) ITB Ahmad Dahlan Jakarta, Yulianti Muthmainnah, dalam kegiatan Sekolah Ramah Anak menegaskan bahwa pendidikan Islam sejati tidak boleh menormalisasi kekerasan dalam bentuk apa pun.

“Sekolah bukan tempat anak takut, tapi tempat mereka bertumbuh. Islam mengajarkan pendidikan yang lembut, penuh kasih, dan menghormati martabat manusia,” ujar Yulianti.

Ia menjelaskan bahwa kekerasan pada anak bisa muncul dari banyak arah: dari teman sebaya, tekanan sosial, bahkan cara mengajar yang terlalu keras.

Baca Juga: Sidang Kepailitan di Pengadilan Niaga Surabaya Diwarnai Dugaan Alamat Palsu, Panitera Pengganti Jadi Sorotan

Maka, membangun budaya sekolah ramah anak berarti mengubah cara berpikir semua pihak—bahwa disiplin bisa diajarkan tanpa kekerasan, dan tanggung jawab bisa tumbuh dari rasa percaya, bukan dari ketakutan.

Selain itu, anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang aman akan lebih mudah mengembangkan empati, kemampuan sosial, dan kecerdasan emosional.

Mereka belajar untuk menghargai perbedaan dan mengekspresikan diri tanpa rasa takut.

Baca Juga: Aturan Baru Kemenkeu Soal Tambahan 100 Persen TPG di THR dan Gaji 13

Itulah tujuan utama dari sekolah ramah anak—bukan sekadar menghapus kekerasan, tapi menumbuhkan generasi yang berkarakter.

Pemerintah melalui berbagai lembaga pendidikan turut mendorong konsep sekolah ramah anak ini agar menjadi budaya nasional, bukan hanya program sesaat.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk akademisi dan lembaga sosial seperti PSIPP ITB Ahmad Dahlan, harapannya semakin banyak sekolah yang benar-benar menjadi tempat anak tumbuh bahagia dan aman.

Baca Juga: Wagub Banten Buka Kejurda Tinju Amatir Junior Youth 2025, Dorong Generasi Muda Bermental Juara

“Cegah kekerasan sejak dini berarti menyiapkan generasi yang kuat secara mental, berempati, dan siap membangun masa depan tanpa luka,” tutup Yulianti. ***