POJOKSATU.id - Perlindungan anak di lembaga pendidikan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi perhatian Kementerian Agama (Kemenag).

Kemenag menggandeng Yayasan Save the Children Indonesia untuk memperkuat perlindungan anak, termasuk mencegah bullying atau perundungan yang masih menjadi persoalan di lingkungan pendidikan.

Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan, Save the Children Indonesia telah memiliki sejumlah praktik baik yang dapat disinergikan dengan program Kemenag.

"Di daerah-daerah 3T, ya. Jadi sudah ada praktik baik yang oleh Save the Children sudah lakukan, nanti disinergikan dengan program Kementerian Agama," kata Kamaruddin usai menandatangani nota kesepahaman dengan Save the Children di Kantor Thamrin, Jakarta Pusat, Senin, 21 September 2026.

Baca Juga: Oloan Tertimpa Tong Pengolahan Emas Ilegal di Simalagi Hingga Tewas, Ini Kata Camat Hutabargot

Kolaborasi tersebut nantinya diarahkan pada lembaga pendidikan keagamaan, termasuk madrasah dan pesantren.

Menurut Kamaruddin, anak-anak yang menempuh pendidikan di lembaga keagamaan harus memperoleh ruang yang aman dan berkualitas untuk belajar sekaligus tumbuh dan berkembang.

“Anak-anak kita yang belajar di lembaga pendidikan keagamaan mendapatkan kesempatan yang baik untuk belajar, tumbuh, dan mendapatkan perlindungan,” ujarnya.

Pencegahan bullying menjadi salah satu perhatian dalam kerja sama tersebut. Kemenag juga menyoroti praktik diskriminatif yang berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak.

"Poinnya adalah perlindungan anak, bagaimana anak-anak mendapatkan kesempatan yang berkualitas untuk tumbuh, berkembang, tanpa ada praktik-praktik yang tidak produktif, tanpa ada praktik-praktik yang diskriminatif misalnya atau bullying," kata Kamaruddin.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Naik Jadi Penuh Waktu, BKN Mulai Hitung Kebutuhan Anggaran

Kemenag bahkan membuka kemungkinan Menteri Agama Nasaruddin Umar melihat langsung pelaksanaan program bersama Save the Children Indonesia di lapangan.

"Mungkin nanti suatu saat kalau Pak Menteri berkenan dan ada waktu, bahkan akan turun langsung ke lapangan," tuturnya.

Sementara itu, CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukas menjelaskan bahwa salah satu pengalaman program yang menjadi bagian dari kolaborasi tersebut adalah Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia atau KREASI.

Program yang mendapat dukungan Global Partnership for Education (GPE) itu telah dilaksanakan di delapan kabupaten dan empat provinsi.

Baca Juga: Cara Kerja Ad Network Buat Advertiser, dan Apa yang Perlu Dicek Sebelum Pilih

"Dalam implementasinya di delapan kabupaten dan empat provinsi, KREASI telah menjangkau 89 Raudhatul Athfal dan Madrasah Ibtidaiyah dari total 530 sekolah yang didampingi," ujar Dessy.

Program tersebut juga telah menjangkau seluruh madrasah yang berada di Kabupaten Nias Selatan dan Nias Utara, Sumatera Utara.

Kolaborasi Kemenag dan Save the Children Indonesia ini diharapkan dapat memperkuat upaya perlindungan anak, terutama bagi peserta didik di lembaga pendidikan keagamaan yang berada di wilayah 3T. ***