POJOKSATU.id - Sudahkah Anda tahu cara membedakan jurnal Scopus yang asli dengan yang palsu?

Bagi dosen, hal ini bukan sekadar informasi tambahan, tapi kebutuhan penting. Sebab kalau salah pilih jurnal, publikasi bisa tidak diakui Ditjen Dikti.

Akibatnya, bisa berimbas pada penilaian BKD hingga gagal naik jabatan fungsional.

Baca Juga: Dukung Program 3 Juta Rumah, BNI Teken Kerja Sama dengan 9 Pengembang di Karawang

Mengenal Perbedaan Jurnal Scopus, SINTA, dan Jurnal Predator
Sebelum bicara soal cara mengecek keaslian, penting memahami perbedaan antara jurnal Scopus, jurnal SINTA, dan jurnal predator.

Secara sederhana, jurnal Scopus adalah jurnal internasional bereputasi yang masuk database Scopus.

Sementara jurnal SINTA merupakan jurnal nasional yang sudah terakreditasi ARJUNA dan dikelola oleh Kemdiktisaintek.

Baca Juga: Kabar Terbaru Gaji Pensiunan PNS 2025, Cair Satu November, tapi Belum Ada Kenaikan

Nah, beda lagi dengan jurnal predator. Berdasarkan Peraturan Rektor UII No. 2 Tahun 2020, jurnal predator adalah jurnal yang tidak memiliki proses peninjauan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Artinya, artikel diterbitkan tanpa peer review yang layak.

Jurnal seperti ini sering disebut jurnal abal-abal atau jurnal palsu.

Proses publikasinya cepat, tapi kualitasnya dipertanyakan. Bagi dosen, publikasi di jurnal semacam ini bisa berujung fatal karena tak diakui institusi akademik.

Baca Juga: Siapa yang Mengawasi Dana Bansos di Daerah? Sudahkah Mempertahankan Integritas?

Bahaya Terbit di Jurnal Palsu
Publikasi di jurnal predator bisa bikin dosen tak memenuhi beban kerja dosen (BKD). Bahkan, sanksi administratif bisa mengintai karena laporan dianggap tidak valid. Selain itu, pengajuan kenaikan jabatan akademik bisa otomatis ditolak.

Makanya, sebelum kirim artikel ke jurnal tertentu, wajib banget tahu bagaimana cara mengecek apakah jurnal tersebut benar-benar terindeks Scopus atau cuma mengaku-ngaku saja.

Tiga Cara Mengecek Keaslian Jurnal Scopus
Untuk memastikan keaslian jurnal, ada tiga cara mudah dan akurat:

Baca Juga: Pelayanan SKCK Polsek Ciputat Timur Tuai Pujian dari Kalangan Muda

Lewat Scopus Sources.
Masuk ke situs resmi Scopus, lalu pilih menu “Sources”. Ketik nama jurnal di kolom pencarian. Jika muncul, berarti jurnal tersebut benar-benar terindeks Scopus. Kalau tidak muncul, berarti palsu.

Lewat Scopus Discontinued Sources List.
Scopus juga menyediakan daftar jurnal yang sudah dicabut karena terindikasi predator.

Gulir halaman utama Scopus sampai menemukan “Scopus Discontinued Sources List”, lalu unduh dokumen Excel-nya. Kalau nama jurnal muncul di daftar itu, segera hindari!

Baca Juga: Bahasa Kunci Sukses, P2MI Siapkan Pelatihan Bahasa Asing untuk Siswa Sekolah Rakyat, Siap Melangkah Maju

Lewat Scimago Journal Rank (SJR).
Kunjungi www.scimagojr.com dan cari nama jurnal. Jika masih muncul dan detail informasinya jelas, berarti jurnal tersebut asli dan masih aktif di database Scopus.

Nah, dengan tiga langkah ini, dosen bisa lebih tenang dan aman dalam memilih tempat publikasi ilmiah.

Jadi, sebelum terburu-buru kirim artikel, pastikan dulu keaslian jurnalnya, ya.

Baca Juga: Kosan dan Apartemen Diduga Jadi Hotel Ilegal, PHRI Tangsel Buka Suara

Sedikit waktu untuk mengecek bisa menyelamatkan reputasi akademik Anda. Lebih baik berhati-hati daripada menyesal di kemudian hari. ***