POJOKSATU.id - Inovasi di dunia pertanian kembali datang dari kampus ternama. Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Muhamad Syukur, berhasil mengembangkan varietas cabai super pedas yang diberi nama Magda IPB.

Nama “Magda” sendiri diambil dari sosok Magdalenaf, seorang YouTuber kuliner yang dikenal gemar mengeksplorasi berbagai jenis cabai. Pemberian nama ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam mempopulerkan cabai Indonesia.

Awal Penelitian Sejak 2019
Penelitian cabai Magda IPB dimulai sejak 2019. Prof. Syukur melakukan persilangan antara cabai lokal Katokkon asal Sulawesi Selatan dengan Habanero Francisca yang diintroduksi dari luar negeri.

Baca Juga: Bayang-Bayang Batas 30 Persen APBD, Nasib PPPK di Daerah di Ujung Tanduk?

“Menyilangkan antara (cabai) Katokkon dengan Habanero Francisca introduksi dari luar. Katokkon dari Sulawesi Selatan sebagai sumber genetik lokal, kemudian kita gabungkan dengan yang dari luar. Habanero Francisca warnanya agak oranye dan buahnya lebat,” tutur Prof. Syukur.

Hasil persilangan ini menghasilkan cabai dengan karakter unik, baik dari segi bentuk maupun tingkat kepedasan.

Tingkat Kepedasan Jauh di Atas Cabai Rawit
Cabai Magda IPB termasuk dalam spesies Capsicum Chinense, yang memang dikenal memiliki tingkat kepedasan tinggi.

Baca Juga: Awalnya Rp2,25 Juta, Tiba-tiba Jadi Rp250 Ribu! Nasib Gaji PPPK di Wajo Memprihatinkan

Menurut Prof. Syukur, cabai rawit umumnya memiliki tingkat kepedasan maksimal sekitar 100.000 SHU, bahkan banyak yang hanya 50.000 SHU. Sementara itu, Magda IPB mencapai 500.000 SHU.

“Magda itu 500.000. Jadi maksimumnya 1 banding 5. Artinya, 5 sampai 10 kali lebih pedas daripada rawit yang biasa kita konsumsi,” jelasnya.

Selain super pedas, cabai ini juga memiliki tampilan yang berbeda. Warnanya cenderung peach dengan bentuk menyerupai cherry, membuatnya terlihat lebih menarik dibanding cabai pada umumnya.

Baca Juga: Bug Bounty 2026 Resmi Dibuka, Kesempatan Emas Pelajar hingga Dosen Asah Skill Keamanan Siber

Alasan Nama “Magda”
Prof. Syukur mengaku pemberian nama Magda dilakukan secara spontan. Ia terinspirasi setelah bertemu langsung dengan Magdalenaf, yang dinilai konsisten mengangkat tema cabai dalam kontennya.

“Saya lihat dia sangat getol untuk mempopulerkan, mengeksplor tentang cabai-cabai Indonesia. Sehingga menurut saya pas ya untuk diberi nama Magda,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa belum banyak figur publik yang memberi perhatian pada sektor pertanian, sehingga langkah kecil seperti ini diharapkan bisa meningkatkan awareness masyarakat.

Baca Juga: Ledakan Dahsyat Guncang Lapangan Padel di Ciangsana Bogor, Gedung Rusak Parah dan Sekolah SD Kena Imbas

Latar Belakang Pengembangan
Ada beberapa alasan utama di balik pengembangan cabai super pedas ini.

Pertama, kebutuhan cabai yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, sementara lahan pertanian justru semakin terbatas karena alih fungsi menjadi bangunan.

Kedua, budaya konsumsi cabai super pedas sudah lama berkembang di beberapa daerah seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan.

Baca Juga: Ledakan Dahsyat Guncang Lapangan Padel di Ciangsana Bogor, Gedung Rusak Parah dan Sekolah SD Kena Imbas

Ketiga, kandungan capsaicin pada cabai memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama untuk kebutuhan biofarmaka. Negara seperti Korea Selatan membutuhkan capsaicin tinggi untuk produksi hot pack, namun cabai rawit Indonesia dinilai belum memenuhi standar tersebut.

“Mereka pernah impor dari Indonesia tapi ternyata yang rawit itu Capsaicin-nya kurang. Yang diminta adalah 350.000 sampai 500.000 SHU, seperti yang saya rakit ini,” jelas Prof. Syukur.

Meski sudah berhasil dikembangkan, cabai Magda IPB belum sepenuhnya tersedia secara luas. Varietas ini masih harus melalui sejumlah tahapan, termasuk proses pendaftaran resmi ke Kementerian Pertanian sebelum bisa dikomersialkan. ***