POJOKSATU.id - Nama burayot mungkin membuat sebagian orang yang baru pertama kali mendengarnya merasa penasaran.
Makanan apa sebenarnya burayot itu? Nyatanya, kue ini merupakan salah satu kuliner tradisional legendaris dari Garut yang masih bertahan hingga sekarang.
Burayot dibuat dari tepung beras dan gula aren yang diolah dengan teknik penggorengan tradisional.
Bentuknya unik, menyerupai bunga yang masih menguncup. Teksturnya renyah di bagian luar namun tetap lembut di bagian dalam, dengan rasa manis alami dari gula aren yang khas.
Baca Juga: 5 Resep Keripik Pisang Renyah untuk Sajian Lebaran, Mudah Dibuat di Rumah
Secara etimologi, kata “ngaburayot” dalam bahasa Sunda berarti bergayut atau menggantung.
Nama tersebut merujuk pada bentuk burayot yang tampak seperti bergelantungan ketika diangkat dari minyak panas.
Bentuk khas ini dihasilkan dari teknik pengangkatan adonan menggunakan tusuk bambu atau sumpit saat proses penggorengan.
Dalam prosesnya, bagian tengah adonan akan mengembang dan tampak menggantung, sementara permukaannya berubah menjadi cokelat keemasan.
Bentuk unik inilah yang menjadi ciri khas utama burayot dibandingkan kue tradisional lainnya.
Berdasarkan publikasi Media Pendidikan, Gizi dan Kuliner karya Rahmi Fitriani, burayot diyakini berasal dari daerah Sarkanjut di Kecamatan Leuwigoong, Garut.
Konon, kue ini pertama kali dibuat oleh Nyimas Pugerwangi, istri Prabu Kiansantang.
Burayot dibuat untuk memperingati peristiwa sunatan di daerah Salam Nunggal yang berada di wilayah Leles dan Leuwigoong.
Sejak saat itu, burayot sering hadir dalam berbagai acara penting seperti sunatan, hajatan, atau tradisi “pasang panggung” sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Baca Juga: Penting! Simak Aturan Terbaru Sinkronisasi Data Sekolah Agar Server Tetap Stabil!
Seiring berjalannya waktu, burayot menjadi salah satu simbol kuliner khas Garut. Kini, makanan tradisional ini tidak hanya dikenal masyarakat lokal, tetapi juga menjadi oleh-oleh yang banyak diburu wisatawan yang datang ke Garut.
Bagi yang ingin mencoba membuat burayot sendiri di rumah, bahan yang dibutuhkan cukup sederhana, yakni tepung beras, gula aren, air, dan minyak goreng.
Gula aren terlebih dahulu dilelehkan dengan air lalu disaring, kemudian dicampur dengan tepung beras hingga membentuk adonan kental.
Adonan kemudian digoreng dalam minyak panas hingga mengembang. Saat permukaannya mulai mengeras, bagian tengahnya dikait menggunakan tusuk bambu atau sumpit hingga membentuk tampilan khas yang menggantung.
Setelah berwarna cokelat keemasan, burayot diangkat dan ditiriskan.
Agar hasilnya maksimal, gunakan api sedang saat menggoreng dan jangan terburu-buru mengangkat adonan.
Proses pengaitan dengan sumpit harus dilakukan perlahan agar bentuk burayot tetap utuh dan tidak pecah.
Jika ingin menikmati burayot langsung dari daerah asalnya, pengunjung dapat mendatangi sentra burayot di kawasan Leles, Garut.
Di sana, banyak perajin yang masih mempertahankan resep turun-temurun sehingga cita rasa autentik burayot tetap terjaga.
Burayot juga mudah ditemukan di berbagai toko oleh-oleh di pusat Kota Garut. Kue ini paling nikmat disantap saat masih hangat, ditemani secangkir teh atau kopi pada pagi atau sore hari.
Di tengah banyaknya makanan modern yang terus bermunculan, keberadaan burayot menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional menyimpan cerita, sejarah, dan rasa kebersamaan.
Dari dapur-dapur sederhana di Garut, burayot terus bertahan sebagai warisan rasa yang layak dikenang dan dinikmati lintas generasi. ***




