POJOKSATU.id - Deretan bencana banjir bandang dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di penghujung November lalu menyisakan duka panjang.

Ratusan warga meninggal, ribuan rumah terendam, dan infrastruktur porak-poranda.

Namun para ahli mengingatkan, bencana kali ini bukan sekadar akibat hujan ekstrem semata. Hujan deras tanpa henti memang memicu banjir bandang di tiga provinsi tersebut.

Baca Juga: Mengapa SKTP 11 November Sudah Cair? Tapi SKTP 27 Oktober Belum! Begini Penjelasan Teknisnya

Menurut Pakar Hidrologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr.Ing. Ir. Agus Maryono, skala kerusakan yang terjadi menunjukkan adanya faktor lain yang memperparah situasi.

Ia menilai kombinasi meteorologi, geografi, geologi, hingga kondisi hidrolik ikut menyumbang terjadinya bencana besar tersebut.

“Kalau hanya faktor cuaca ekstrem, dampaknya tidak akan sepanjang ini. Tapi yang kita lihat sekarang luar biasa,” kata Agus, dikutip Rabu (3/12/2025).

Baca Juga: Vokal Bicara tentang Bencana Banjir Sumatra hingga 'Diserang' Buzzer, Chiki Fawzi Heran Dicap Belum Move On sebagai Pendukung Anies

Dijelaskannya, struktur lahan di beberapa titik memang rentan. Namun masalah terbesar justru muncul dari saluran hidrolik yang tersumbat dan meningkatnya limpasan air (run off) akibat pembalakan hutan.

Tebing-tebing sungai yang longsor dan kondisi hutan yang gundul membuat air hujan tak punya ruang meresap.

“Dipicu dengan adanya hutan yang sudah gundul, run off naik. Ditambah longsoran dan penyumbatan alam, jadilah banjir besar,” ujarnya.

Baca Juga: Publik Syok! Dunia Hiburan Berduka! Epy Kusnandar Meninggal Mendadak, Dimakamkan Besok di Jeruk Purut

Menurut Agus, banjir bandang umumnya terjadi saat hujan sangat lebat mengguyur daerah aliran sungai kecil atau menengah.

Namun kali ini, kombinasi limpasan besar dan kondisi alam yang rusak membuat aliran air berubah menjadi gelombang banjir yang jauh lebih menghancurkan.

Untuk penanganan saat ini, Agus menegaskan pemerintah harus menaruh seluruh tenaga pada evakuasi dan pencarian warga yang masih hilang.

Baca Juga: Mengapa Guru di Daerah TPP Tidak Dapat Tambahan TPG? Begini Penjelasan Kebijakan Nasional!

“Tenaganya full untuk korban. Mereka yang hidup harus diselamatkan, yang hilang harus segera ditemukan.”

Setelah fase darurat lewat, pemerintah perlu memperbaiki fasilitas publik, jembatan, dan perumahan warga yang terdampak. Namun yang lebih penting, langkah pencegahan jangka panjang tidak boleh lagi ditunda.

Agus menilai pembangunan ramah lingkungan menjadi kunci. Ekohidrolik, memulihkan sungai dan lanskap dengan vegetasi yang tepat, harus diterapkan agar bencana serupa tidak terus berulang.

“Sungai yang melebar harus ditanami tanaman cepat tumbuh untuk menahan sedimen dan menstabilkan lereng,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Haru Chiki Fawzi Terjun Langsung ke Lokasi Banjir di Sumut, Ajak Teman Sesama Artis Turut Tergerak Hatinya

Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar kembali membuka kenyataan pahit, kerusakan alam yang dibiarkan terus berjalan pada akhirnya kembali ke manusia dalam bentuk banjir mematikan.

Cuaca ekstrem adalah pemicu. Tapi kondisi alam yang lemah membuat dampaknya berubah menjadi tragedi nasional. ***