POJOKSATU.id - Dunia riset perkebunan lagi dapat angin segar. Bukan cuma soal kelapa sawit, tapi juga komoditas lain yang selama ini seolah 'menunggu giliran'.
Lewat program terbaru, Badan Pengelola Dana Perkebunan resmi membuka Grant Riset BPDP 2026 dengan pendekatan yang terasa berbeda: lebih fleksibel dan lebih luas.
Kalau sebelumnya fokus utama ada di kelapa sawit, tahun ini cakupannya diperluas ke kakao dan kelapa.
Perubahan ini bukan tanpa alasan, tapi bagian dari mandat baru BPDP dalam mengembangkan tiga komoditas strategis perkebunan nasional.
Baca Juga: Karawang Half Marathon 2026 Bakal Diikuti 1.587 Pelari, 34 Peserta Asing Ikut Ambil Bagian
Riset Tak Boleh Berhenti di Kertas
Program ini tidak ingin sekadar melahirkan jurnal atau laporan penelitian.
Lebih dari itu, BPDP mendorong lahirnya solusi nyata yang bisa langsung dirasakan dampaknya, terutama bagi pelaku industri dan petani.
"Tahun ini, kami akan melihat riset-riset yang berdampak bagi kakao, kelapa, dan sawit," kata Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah.
Ia menegaskan, BPDP memberi keleluasaan penuh bagi peneliti untuk mengeksplorasi ide tanpa batasan kuota riset per komoditas.
Baca Juga: Iran Klaim Serang 2 Kapal AS di Selat Hormuz, Komando Pusat Militer Amerika Beri Tanggapan
"Kami tidak akan membatasi atau menentukan jumlahnya secara spesifik. Yang terpenting adalah bagaimana hasil riset tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal hingga menuju tahap komersialisasi," jelasnya.
Kunci Utama: Dampak Nyata dan Bisa Direplikasi
Fokus utama program ini bukan sekadar inovasi, tapi kebermanfaatan.
Artinya, hasil riset harus bisa diimplementasikan dan memberi nilai tambah bagi produk perkebunan Indonesia di pasar global.
Komite Penelitian dan Pengembangan BPDP, Dr. Tony Liwang, menekankan pentingnya output yang aplikatif.
"Output yang diharapkan adalah replicable, sehingga siapa saja dapat menggunakan dan masyarakat bisa langsung mengaplikasikannya," ujarnya.
Riset yang bisa direplikasi dinilai menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium.
Tapi cepat diadopsi oleh pelaku usaha, terutama sektor usaha kecil dan menengah (UKM) di berbagai daerah.
Portal Resmi dan Jadwal Penting
Pendaftaran dilakukan secara online melalui portal resmi BPDP di:
https://program-riset.bpdp.or.id/
Batas akhir pengajuan proposal ditetapkan pada 30 Juni 2026.
Seluruh tahapan seleksi dilakukan secara bertahap, mulai dari seleksi administrasi, evaluasi substansi, hingga penilaian kelayakan implementasi.
Baca Juga: CPNS 2026 Segera Dibuka, Bea Cukai Siapkan 380 Formasi Lulusan SMA!
Syarat Peserta Grant Riset BPDP 2026
Agar bisa mengikuti program ini, ada beberapa ketentuan utama yang wajib dipenuhi:
Peserta berasal dari lembaga resmi, seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian, atau institusi pemerintah/swasta
Proposal diajukan melalui institusi, bukan perorangan
Setiap proposal harus memiliki ketua peneliti yang bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan riset
Ketua peneliti diperbolehkan mengajukan lebih dari satu proposal, namun tetap harus sesuai aturan yang berlaku
Tim peneliti dapat terdiri dari lintas disiplin ilmu untuk memperkuat kualitas riset
Ketentuan Proposal yang Wajib Dipatuhi
Agar lolos seleksi awal, proposal harus memenuhi standar berikut:
- Disusun secara ringkas, jelas, dan sistematis
- Maksimal 20 halaman (proposal inti)
- Mengacu pada roadmap atau peta jalan penelitian BPDP
- Menjelaskan secara konkret tujuan, metode, hingga potensi implementasi hasil riset
- Memiliki output yang terukur, seperti prototipe, model bisnis, atau teknologi siap pakai
Bidang Riset yang Bisa Dipilih
BPDP membuka peluang penelitian di berbagai bidang strategis, di antaranya:
- Bioenergi dan energi terbarukan berbasis perkebunan
- Biomaterial dan oleokimia
- Pangan, pakan, dan kesehatan
- Budidaya, lahan, dan kesuburan tanah
- Pascapanen dan teknologi pengolahan
- Pengelolaan limbah dan lingkungan
- Sosial ekonomi, bisnis, pasar, serta teknologi digital
Semua bidang ini diarahkan untuk mendukung hilirisasi dan peningkatan daya saing komoditas sawit, kakao, dan kelapa.***




