POJOKSATU.id - Peluang siswa dan lulusan SMK untuk menembus pasar kerja global semakin terbuka pada 2026.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan program magang dan kerja luar negeri bagi siswa SMK.
Direktur SMK Kemendikdasmen Arie Wibowo Khurniawan menyebut sebanyak 2.000 siswa SMK akan mengikuti program magang dan bekerja di luar negeri pada 2026.
Para peserta diarahkan ke sejumlah negara, antara lain Jepang, Korea Selatan, Jerman, serta beberapa negara di Eropa Timur dan Timur Tengah.
Baca Juga: Lulusan SMA-SMK Wajib Tahu! Pelatihan Vokasi Nasional Batch 6 2026 Dibuka, Ada Uang Transport
Informasi tersebut disampaikan Arie saat menerima audiensi Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) KGPAA Paku Alam X di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Senin, 5 Oktober 2026.
Audiensi tersebut membahas penguatan program pemagangan dan kerja luar negeri bagi siswa serta lulusan SMK DIY sebagai salah satu upaya membuka karier internasional sekaligus memperluas penyerapan lulusan SMK.
Arie mengatakan program magang seperti itu pada dasarnya dapat dibentuk oleh sekolah.
Pemerintah mendorong SMK mengembangkan program yang menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan industri dan pasar kerja luar negeri.
"Program magang seperti ini biasanya dibentuk oleh sekolah, dan kami memang mendorong sekolah untuk membuat program-program semacam ini," kata Arie.
Baca Juga: Siswa SMK Bisa Ikut Pertukaran Pelajar ke Tokyo Gratis, Cek Syarat, Video dan Jadwalnya
Bukan Sekadar Diberangkatkan, Siswa Disiapkan dari Sekolah
Program kerja luar negeri bagi siswa SMK tidak hanya berfokus pada keberangkatan.
Sekolah berperan menyiapkan keterampilan siswa, termasuk kursus bahasa dan pengenalan budaya negara tujuan.
Kemendikdasmen juga memberikan dukungan berupa subsidi biaya dan pemeriksaan kesehatan untuk program magang yang dikembangkan sekolah.
"Kami memberikan bantuan berupa subsidi uang dan tes kesehatan. Pihak sekolah yang melakukan persiapan mulai dari pembekalan keterampilan anak, kursus bahasa dan pengenalan budaya," ujar Arie.
Baca Juga: BEM UI Laporkan Kasus Penganiayaan Koorbid Sospol Hafidz Hernanda ke Polda Metro Jaya
Peserta juga didorong tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.
Arie mengatakan siswa yang melakukan magang di luar negeri didorong agar dapat kuliah sambil bekerja untuk mendukung masa depan mereka.
Karena itu, siswa yang ingin membidik karier luar negeri perlu mulai menentukan bidang keahlian dan negara tujuan sejak masih berada di sekolah.
Bagaimana Memilih Negara Tujuan?
Arie sebelumnya menjelaskan bahwa siswa SMK yang ingin membangun karier global perlu mengenali keterampilan yang dimiliki sekaligus negara yang ingin dituju sejak kelas X.
Dengan cara tersebut, siswa memiliki waktu untuk mempersiapkan kompetensi teknis, bahasa dan sertifikasi yang dibutuhkan.
Baca Juga: Jelang Putusan Sidang Gibran di MK Malam Ini Pukul 8 Malam, Terkait Keabsahan Pendidikan
Pilihan negara tidak semestinya hanya didasarkan pada besarnya gaji.
Siswa perlu melihat apakah kompetensi kejuruannya sesuai dengan kebutuhan industri negara tujuan. Kemampuan bahasa juga menjadi faktor penting.
Untuk Jepang, misalnya, kemampuan bahasa Jepang menjadi bagian dari persiapan.
Sementara untuk Jerman, kemampuan bahasa membutuhkan persiapan lebih panjang.
Karena itu, siswa yang sudah memiliki target negara dapat mulai mengejar kemampuan bahasa dan sertifikasi sejak kelas X atau XI.
Ada Program SMK 3+1
Kemendikdasmen juga mengembangkan Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 sebagai salah satu model penyiapan lulusan menuju pasar kerja global.
Melalui konsep ini, siswa mengikuti pendidikan SMK selama tiga tahun, kemudian memperoleh tambahan satu tahun pembelajaran untuk mematangkan kesiapan bekerja di luar negeri.
Pembelajaran tambahan diarahkan pada penguatan kompetensi kejuruan, bahasa asing, budaya kerja, kesiapan fisik dan mental, serta pemahaman mengenai aspek hukum dan keuangan.
Artinya, peluang bekerja di luar negeri mulai dipersiapkan dari lingkungan sekolah, bukan baru ketika siswa telah lulus.
Ada Juga SMK Go Global, Pendaftarannya Sampai 31 Oktober
Selain program Kemendikdasmen, pemerintah melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memiliki program SMK Go Global.
Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kapasitas calon pekerja migran agar kompetensinya sesuai kebutuhan pasar kerja luar negeri.
Menteri P2MI Mukhtarudin menyebut SMK Go Global merupakan program direktif Presiden untuk menyiapkan calon pekerja migran yang kompeten, siap kerja dan siap ditempatkan sesuai kebutuhan pasar kerja global.
Untuk 2026, pemerintah menargetkan 40.000 calon pekerja migran mendapatkan peningkatan kapasitas melalui program tersebut.
Baca Juga: Kronologi Penyerangan Koorbid Sospol BEM UI, Sempat Diteriaki Maling Usai Bergumul 5 Menit
Target itu dibagi dalam Batch 1 sebanyak 12.000 peserta dan Batch 2 sebanyak 28.000 peserta.
Yang perlu diketahui, SMK Go Global tidak hanya untuk lulusan SMK.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama KP2MI Sukarman mengatakan masyarakat umum, termasuk lulusan D3, S1 dan S2, juga dapat mendaftar.
"SMK Go Global bukan hanya untuk SMK, tapi bisa untuk umum. Bahkan kalau ada lulusan D3, S1, maupun S2 mau mendaftar, silakan mendaftar," ujar Sukarman.
Pendaftaran Batch 2 Masih Dibuka
Per 6 Oktober 2026, pendaftaran SMK Go Global Batch 2 masih berlangsung hingga 31 Oktober 2026.
Program ini menyediakan dua kelompok pelatihan, yaitu pelatihan bahasa dan pelatihan kompetensi sesuai sektor pekerjaan.
Bidang kompetensi yang disiapkan antara lain:
-
kesehatan;
-
hospitality;
-
pertanian;
-
transportasi.
Selama mengikuti pelatihan, biaya akomodasi dan konsumsi peserta ditanggung pemerintah.
Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta diarahkan mengikuti proses penempatan berdasarkan kebutuhan atau job order perusahaan pengguna.
Baca Juga: Kredit Bank Tembus Rp9.178 Triliun, OJK Ungkap Segmen yang Tumbuh Paling Kencang
KP2MI juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan pelatihan yang telah diverifikasi melalui sistem E-Vokasi.
Bagaimana Kompetensi dan Penempatannya?
SMK Go Global tidak berhenti pada pelatihan.
Mukhtarudin menjelaskan peserta mendapatkan peningkatan kapasitas berupa bahasa, keterampilan teknis dan sertifikasi kompetensi.
Durasi pelatihan disesuaikan dengan jenis kompetensi dan kebutuhan pekerjaan.
Peserta yang telah menyelesaikan pembinaan dan memenuhi persyaratan selanjutnya difasilitasi mengikuti job matching sesuai kebutuhan pasar kerja luar negeri.
Baca Juga: Jelang Putusan Sidang Gibran di MK Malam Ini Pukul 8 Malam, Terkait Keabsahan Pendidikan
Setelah mendapatkan kecocokan pekerjaan, proses dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan, kelengkapan dokumen, pengurusan visa dan persyaratan lain sesuai negara tujuan.
Dengan pola tersebut, pilihan negara dan pekerjaan tidak semata-mata ditentukan peserta.
Kompetensi peserta harus dipertemukan dengan kebutuhan nyata perusahaan dan negara tujuan.
Untuk SMK Go Global, peserta mendapatkan dukungan akomodasi dan konsumsi selama pelatihan dari pemerintah.
Namun, setelah masuk tahap penempatan, calon pekerja tetap harus memperhatikan seluruh ketentuan biaya dan isi kontrak kerja.
Baca Juga: Korban Ledakan Ruko Pakuwon City Surabaya, Empat Warga Dirawat Intensif, 41 Bangunan Rusak
Jangan membayar pungutan kepada pihak yang tidak memiliki dasar resmi.
Sementara untuk penghasilan, tidak ada satu angka yang berlaku bagi seluruh peserta.
Gaji pekerja migran bergantung pada negara tujuan, sektor pekerjaan, jabatan, kompetensi, pengalaman, jam kerja, tunjangan dan fasilitas yang diberikan pemberi kerja.
Karena itu, calon pekerja sebaiknya tidak hanya bertanya, "Berapa gajinya?"
Hal yang juga perlu diperiksa adalah berapa biaya hidup, apakah mendapat tempat tinggal, bagaimana jaminan kesehatan, bagaimana perlindungan kecelakaan kerja, berapa jam kerja, serta apa saja hak yang tercantum dalam kontrak.
Paku Alam X Minta Pendampingan Jangan Berhenti di Penempatan
Masih dalam konteks audiensi dengan Direktur SMK Kemendikdasmen pada 5 Oktober 2026, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan siswa dan lulusan SMK yang bekerja di luar negeri.
Ia meminta pendampingan dilakukan sejak awal persiapan hingga peserta menyelesaikan masa magang atau bekerja di negara tujuan.
"Pendampingan ini sebagai bentuk tanggung jawab kita terhadap mereka. Saya inginnya tidak hanya soal mendapat pekerjaan saja, tapi bagaimana jaminan kesehatan dan kecelakaan kerja mereka selama di sana. Mereka ini juga anak-anak kita," kata Paku Alam X.
Menurutnya, proses verifikasi dan validasi tenaga kerja perlu diperkuat. Jenis pekerjaan yang ditawarkan juga perlu disaring agar keselamatan pekerja muda lebih terjamin.
Baca Juga: Komite Madrasah Boleh Galang Dana, Tapi Bukan Berarti Bebas Pungut Uang, Ini Aturannya
Selain keterampilan dan bahasa, calon pekerja juga perlu mendapatkan edukasi mengenai pentingnya legalitas.
"Kami mohon bantuannya, karena apapun yang terjadi, mereka anak kami, mereka memang butuh pekerjaan, tapi pekerjaan bukan segalanya. Kami selalu berupaya untuk berhati-hati pada setiap program pengiriman tenaga kerja ke luar negeri," ujarnya.
Dengan adanya program magang dan kerja luar negeri Kemendikdasmen serta SMK Go Global dari KP2MI, siswa dan lulusan SMK memiliki semakin banyak jalur untuk memasuki pasar kerja internasional.
Namun, peluang tersebut tetap harus diikuti persiapan yang matang.
Baca Juga: Sekolah Garuda Terus Diperluas, Pendidikan STEM Jadi Kunci, Ini 6 Manfaatnya untuk Siswa
Kompetensi kejuruan, bahasa asing, sertifikasi, kesehatan, pemahaman budaya kerja, legalitas pekerjaan dan perlindungan tenaga kerja harus menjadi satu kesatuan.
Bagi yang ingin mengikuti SMK Go Global Batch 2, kesempatan pendaftaran masih tersedia sampai 31 Oktober 2026 melalui kanal resmi KP2MI dan BP3MI. ***




