POJOKSATU.ID - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, dalam pidatonya menekankan pentingnya literasi sebagai bekal peradaban bangsa. Ia menjelaskan bahwa literasi jauh melampaui kemampuan dasar membaca dan menulis.

Literasi yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk menafsirkan gagasan, berpikir secara kritis, dan memahami realitas di tengah derasnya informasi dan hoaks dari kemajuan teknologi.

Menurutnya, generasi muda harus dibekali dengan pendidikan literasi sejak dini agar tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menghargai karya orang lain dan berani melahirkan pemikiran baru.

Ia menambahkan, generasi yang literat adalah generasi yang cerdas, beradab, dan siap menghadapi tantangan global.

Baca Juga: Kemendikdasmen Berikan Pendampingan Digital untuk Guru, Cek Link Login LMS di Sini!

Senada dengan pandangan tersebut, Stephanie Riyadi, penasihat ahli Kemendikdasmen dan Executive Director Pelita Harapan Group, turut menyoroti pentingnya literasi dan pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) sebagai literasi abad ke-21.

Ia mengungkapkan keprihatinannya atas hasil PISA 2022 yang menunjukkan rendahnya capaian Indonesia, dan hal ini menjadi panggilan bagi Indonesia untuk mereformasi pendidikan STEM.

Menurut Stephanie, pendidikan STEM bukan hanya tentang rumus atau robot, tetapi lebih kepada pola pikir yang mengajarkan keberanian untuk bertanya, mencari solusi, dan berkolaborasi.

Dengan bersatu membangun ekosistem pendidikan ini, Indonesia dapat mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap untuk menjadi pemimpin di kancah dunia.***