POJOKSATU.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merancang STEM Innovation Ecosystem Laboratory Governance Framework, yakni kerangka tata kelola laboratorium sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) berbasis ekosistem inovasi untuk mendukung transformasi pendidikan di Sekolah Unggul Garuda.

Kerangka ini dirancang agar laboratorium tidak hanya menjadi fasilitas praktik, tetapi juga ruang pembelajaran berbasis penelitian, pengembangan inovasi, peningkatan kompetensi guru, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi dan industri.

Peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN, Suharman Halawa, mengatakan model tersebut mengintegrasikan enam komponen utama.

Baca Juga: Siap-Siap War Formasi! BRIN Buka 500 Kuota CASN 2026 Dari Lulusan D3 Hingga S3!

"Model tersebut mengintegrasikan enam komponen utama, yaitu tata kelola dan kepemimpinan, pembelajaran berbasis inkuiri serta proyek atau desain, penelitian dan pengembangan solusi inovatif, peningkatan profesionalisme guru, kemitraan multisektor, serta diseminasi praktik baik," kata Suharman dalam keterangan di Jakarta.

Enam Komponen Tata Kelola Laboratorium STEM

Enam komponen tersebut meliputi tata kelola dan kepemimpinan, pembelajaran berbasis inkuiri serta proyek atau desain, penelitian dan pengembangan solusi inovatif, peningkatan profesionalisme guru, kemitraan multisektor, serta diseminasi praktik baik.

Melalui pembelajaran berbasis inkuiri dan proyek, siswa didorong mengajukan pertanyaan, menguji gagasan, menggunakan bukti, serta merancang solusi. Sementara itu, kemitraan membuka ruang kerja sama sekolah dengan perguruan tinggi dan industri.

Hasil penelitian maupun inovasi yang dikembangkan di laboratorium juga diarahkan untuk dibagikan melalui diseminasi praktik baik sehingga manfaatnya dapat diperluas.

Baca Juga: BRIN Ungkap 14 Zona Megathrust di Indonesia, Ada Potensi Gempa hingga M9,2

Keterampilan Guru Masih Menjadi Tantangan

Salah satu perhatian BRIN adalah kesenjangan keterampilan atau skills gap guru dalam menerapkan pembelajaran STEM.

Survei yang dilakukan di Jawa Barat, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku menunjukkan antusiasme guru terhadap STEM cukup tinggi, tetapi mayoritas guru merasa keterampilan teknis mereka belum memadai untuk menerapkannya di kelas.

"Hasil survei riset kami di lima provinsi, Jawa Barat, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku, menunjukkan adanya kesenjangan keterampilan (skills gap)," jelasnya.

"Meskipun persepsi dan antusiasme guru terhadap penerapan STEM sangat tinggi, mayoritas guru merasa keterampilan teknis mereka belum memadai untuk mengimplementasikannya di kelas," ucap Suharman.

Baca Juga: Ekskul Korps Kadet Kurang Tenar, Pemahamannya Belum Merata, Ini yang Perlu Diketahui Sekolah dan Siswa

Temuan ini membuat peningkatan profesionalisme guru menjadi bagian penting dalam tata kelola laboratorium. 

Fasilitas yang lengkap perlu diikuti kemampuan guru dalam merancang eksperimen, proyek, dan penelitian yang sesuai dengan pembelajaran.

BRIN Studi Lima Sekolah

Perancangan kerangka tersebut dilakukan melalui studi pada lima sekolah dengan karakteristik berbeda.

BRIN mengkaji SMA Unggul Garuda Timor di Nusa Tenggara Timur sebagai representasi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T); MAN Insan Cendekia Gorontalo untuk melihat tata kelola lintas kementerian; serta SMA Del di Sumatera Utara untuk mempelajari pola kemitraan berbasis yayasan dan swasta.

Baca Juga: Kasus BGN Bergulir, Sudah 11 Tersangka, Pesawat Terbang, Heli, Uang Rp24,9 M Disita

Kajian juga dilakukan di SMAN Unggulan MH Thamrin Jakarta dan SMA Taruna Nusantara sebagai representasi sekolah negeri dengan karakteristik transformasi yang berbeda.

Keragaman tersebut digunakan untuk melihat bagaimana tata kelola laboratorium STEM dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

"Melalui keberagaman konteks ini, kami menyusun rekomendasi tata kelola yang inklusif agar laboratorium STEM di Sekolah Garuda dapat benar-benar berfungsi sebagai ekosistem inovasi yang memperkuat kompetensi guru dan mencetak generasi unggul berdaya saing global," ujar Suharman.

Siswa Tidak Hanya Belajar Teori

Melalui laboratorium STEM, siswa diharapkan memahami bagaimana pengetahuan dibangun dan digunakan untuk menyelesaikan persoalan.

Kegiatan dapat diarahkan pada perumusan pertanyaan penelitian, pengumpulan dan pengujian bukti, analisis hasil, hingga perancangan solusi. 

Baca Juga: Naik Transjakarta, MRT, LRT hingga Transjabodetabek Gratis Selama JRF 2026, Catat Syaratnya

Proses tersebut memberi pengalaman dalam berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, dan penelitian.

Karena itu, laboratorium tidak berhenti sebagai tempat praktikum, tetapi dapat menjadi ruang bagi siswa dan guru untuk mengembangkan proyek serta solusi berdasarkan persoalan nyata.

Kemitraan Jadi Bagian Penting

Kerja sama dengan perguruan tinggi dan industri menjadi salah satu komponen dalam kerangka BRIN. 

Kemitraan tersebut dapat memperluas pengalaman belajar siswa sekaligus membuka akses terhadap pendampingan, pengetahuan, dan praktik penelitian maupun inovasi.

Sementara itu, diseminasi praktik baik memungkinkan pengalaman dan hasil inovasi dari laboratorium dibagikan agar dapat dipelajari dan dikembangkan lebih luas.

Baca Juga: Urai Kemacetan Pasar Tanjung, Uji Coba Arus Baru Jalan Diponegoro Jember Dimulai Senin Pagi

Dengan pendekatan tersebut, BRIN mengarahkan tata kelola laboratorium STEM agar disesuaikan dengan kapasitas guru, fasilitas, karakteristik siswa, serta peluang kemitraan setiap sekolah. ***