POJOKSATU.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat kemajuan dalam pengembangan kendaraan listrik otonom.
Setelah melalui proses riset selama sekitar dua setengah tahun, lembaga tersebut kini telah menghasilkan prototipe generasi keempat yang mampu bermanuver secara mandiri dengan stabil.
Kemampuan tersebut diperoleh berkat integrasi sistem penerimaan data sensor, pengolahan informasi, navigasi, hingga pengendalian arah yang bekerja dalam satu sistem komputasi tertanam.
Dengan teknologi tersebut, kendaraan dapat merespons kondisi di sekitarnya secara otomatis tanpa bergantung pada kendali pengemudi.
Baca Juga: Pebalap Muda Astra Honda Melesat Raih Double Podium IHTTC 2026 Sepang
"Seluruh komponen kendaraan telah terintegrasi dalam sistem komputasi yang tertanam sehingga kendaraan dapat merespons kondisi lingkungan secara otomatis," kata Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) BRIN, Arief Suryadi Satyawan.
"Capaian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan sumber daya manusia di bidang riset," lanjutnya.
Pengembangan kendaraan listrik otonom ini sebenarnya telah dimulai sejak 2021-2022 melalui pendanaan riset.
Fokus penelitian tidak hanya pada kendaraan, tetapi juga mencakup sistem komunikasi, teknologi transportasi, serta pengembangan sistem pendukung agar kendaraan dapat beroperasi secara aman.
Baca Juga: 10 Universitas Terbaik di Surabaya Versi EduRank, Kampus Favorit dengan Reputasi Akademik Tinggi
Kendaraan yang dikembangkan berupa kendaraan listrik roda tiga dengan kapasitas satu penumpang dan kecepatan rendah.
Penggunaannya ditujukan untuk kawasan dengan mobilitas terbatas, seperti lingkungan kampus, kawasan perkantoran, kawasan industri, hingga bandara.
Agar mampu bergerak secara mandiri, kendaraan tersebut dibekali berbagai perangkat pendeteksi yang bekerja secara bersamaan.
Dijelaskan, kendaraan tersebut memanfaatkan integrasi berbagai sensor, seperti LiDAR, kamera 360 derajat, radar, kamera thermal, dan kamera visual.
Dimana, seluruh sensor bekerja secara terpadu untuk mendeteksi serta mengenali objek di sekitar kendaraan, kemudian diproses melalui sistem komputasi yang tertanam sehingga kendaraan mampu melakukan navigasi dan bergerak secara mandiri.
"Tantangan yang masih terus kami kembangkan hingga saat ini adalah pada aspek sistem komunikasi, terutama ketika kendaraan menggunakan basis pengumpulan data secara terpusat. Diperlukan sistem komunikasi yang andal agar pergerakan dan perilaku kendaraan dapat dipantau secara real-time," ujar Arief.
Menurutnya, pengembangan sistem komunikasi menjadi pekerjaan penting yang masih terus dilakukan.
Sistem tersebut dibutuhkan agar seluruh aktivitas kendaraan dapat dipantau secara langsung ketika nantinya diterapkan dalam jaringan kendaraan otonom yang saling terhubung.
Selain memperkuat teknologi kendaraan, BRIN juga mengembangkan teknologi super resolution untuk meningkatkan kualitas citra dari data visual yang terbatas.
Teknologi ini diharapkan mampu membantu proses pemantauan maupun pengiriman informasi visual dengan hasil yang lebih jelas.
Arief menilai percepatan pengembangan kendaraan otonom juga memerlukan dukungan teknologi, infrastruktur, hingga model pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Baca Juga: Novel Baswedan Apresiasi Polri Ungkap Kasus Febrie Adriansyah, Jangan Buat Publik Kecewa
Menurutnya, aspek tersebut akan sangat menentukan keberhasilan implementasi kendaraan di kawasan industri maupun fasilitas produksi.
Dari sisi desain, kendaraan dirancang dengan ukuran yang ringkas namun tetap mengutamakan kekuatan konstruksi dan fleksibilitas penggunaan.
Pendekatan ini membuka peluang pemanfaatan kendaraan, tidak hanya sebagai sarana transportasi penumpang, tetapi juga untuk distribusi logistik dan pengiriman barang di area tertentu.
"Dari segi desain, kendaraan tetap mempertimbangkan aspek kekuatan, ukuran yang kompak, serta fleksibilitas penggunaan. Hal ini membuka peluang pemanfaatan kendaraan, termasuk untuk mendukung sistem distribusi maupun pengiriman barang di area tertentu," jelasnya.
Baca Juga: Festival Adu Layangan Bupati Cup Purwakarta Diserbu Peserta dari Jatim, DKI Jakarta hingga Banten
BRIN juga menilai kendaraan listrik otonom memiliki potensi meningkatkan efisiensi energi karena mampu beroperasi dengan pola berkendara yang lebih stabil.
Agar manfaat tersebut maksimal, pengembangan konstruksi berbasis lokal terus didorong sehingga proses desain dan produksi lebih mudah menyesuaikan kebutuhan di lapangan.
Tak hanya menghasilkan inovasi teknologi, riset ini juga menjadi sarana pengembangan sumber daya manusia.
Hingga kini sekira 45 mahasiswa telah terlibat dalam penelitian tersebut, termasuk melahirkan satu lulusan program doktor yang menyelesaikan disertasi mengenai kendaraan listrik otonom.
Ke depan, BRIN akan terus meningkatkan performa, keandalan, serta kesiapan implementasi kendaraan agar dapat dimanfaatkan di lebih banyak sektor.
"Tim peneliti akan terus menyempurnakan sistem kendaraan listrik otonom dari berbagai sisi performa, keandalan, serta kesiapan implementasi. Dengan demikian, kendaraan ini dapat dimanfaatkan secara lebih luas di berbagai sektor dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tutup Arief.
Baca Juga: Pidato Berapi-api, Prabowo Sebut akan Balikkan Kekayaan Bangsa Indonesia yang Disedot ke Luar Negeri




