POJOKSATU.ID - Di tengah sorak gembira pencairan BLT Kesra Rp900 ribu bulan November ini, terselip rasa cemas di hati banyak warga.

Bukan karena takut kehilangan uang bantuan, melainkan kekhawatiran mereka tak akan lagi terdaftar tahun depan.

Program Bantuan Langsung Tunai Kesejahteraan Rakyat (BLT Kesra) dari pemerintah memang disambut suka cita.

Tapi di balik antrian panjang di Kantor Pos dan notifikasi saldo yang masuk ke rekening, ada realitas menumbuhkan harapan bagi penerimanya.

Baca Juga: Purbaya Wanti-Wanti Bank Pelaksana KUR, Jangan Jadikan Program Rakyat Ladang Cuan!

Banyak penerima BLT Kesra di Bandung, Garut, hingga Cianjur yang mengaku bantuan ini jadi penyambung hidup di tengah harga kebutuhan yang terus naik.

Fenomena ini menunjukkan efek psikologis baru di masyarakat kelas bawah yaitu munculnya rasa ketergantungan dan ketakutan kehilangan bantuan.

Bansos seperti BLT Kesra tidak hanya berdampak ekonomi, tapi juga membentuk perilaku sosial baru.

Bantuan tunai menciptakan rasa aman semu. Warga merasa dijamin pemerintah, tapi tanpa kepastian keberlanjutan.

Baca Juga: Wisata Alam Terindah di Indonesia! Ini Dia 10 Surga Dunia yang Bikin Kamu Bangga Jadi Anak Negeri

Akibatnya muncul kecemasan sosial setiap kali bantuan mau berakhir.

Perlu pendekatan yang lebih manusiawi dalam komunikasi publik pemerintah agar warga tidak merasa digantung.

Bantuan seharusnya disertai edukasi dan pemberdayaan, bukan sekadar penyaluran uang.

Berdasarkan data Kementerian Sosial, program BLT Kesra triwulan IV 2025 menyasar 35.046.783 keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.

Setiap keluarga menerima Rp900 ribu sekaligus untuk periode Oktober–Desember 2025, dengan total anggaran Rp31,5 triliun.

Namun di balik angka itu, muncul data menarik sekitar 58% penerima mengaku belum memiliki sumber penghasilan tetap.

Artinya, mayoritas keluarga penerima BLT Kesra masih sepenuhnya bergantung pada bantuan negara untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Banyak Masyarakat mengaku takut hilang dari daftar karena adanya ketidakpastian sampai kapan mereka menjadi penerima bantuan tersebut.

Baca Juga: Tinawati Andra Soni Dorong Sinergi CSR dan Posyandu untuk Percepat Pemberdayaan Keluarga di Banten

Menurut warga, bantuan ini seperti hidup dalam undian yaitu hari ini dapat, besok bisa hilang tanpa tahu alasannya.

Meski penuh kecemasan, warga tetap berharap pemerintah bisa melanjutkan program bantuan serupa di tahun depan.

Namun dengan data yang lebih jelas dan komunikasi yang transparan.

Warga meminta diberi tahu jika tidak mendapatkan bantuan ini tahun depan, jangan diam-diam nama mereka dihapus dari sistem.

Baca Juga: TPA Jatiwaringin Disulap Jadi Sumber Energi, Andra Soni Pimpin Transformasi Lingkungan Banten

Pemerintah Kabupaten Bandung sendiri berjanji akan membantu proses verifikasi dan pembaruan data agar tidak ada warga miskin yang terlewat.

BLT Kesra memang menjadi penyelamat bagi jutaan keluarga di akhir tahun ini.

Namun di balik rasa lega saat menerima uang, ada kegelisahan sosial yang tak bisa diabaikan.

Baca Juga: Potongan BPJS dan Pajak TPG, Berapa Kisaran Besarnya?

Bantuan bukan hanya tentang nominal rupiah, tapi juga tentang rasa dihargai dan diperhatikan.

Saat warga mulai menggantungkan harapan hidupnya pada daftar penerima bantuan, pemerintah punya tanggung jawab moral untuk memastikan harapan itu tidak berubah menjadi rasa takut.***