POJOKSATU.ID - Peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) akan diminta menuliskan pengalaman nyata atau studi kasus terkait pembelajaran di kelas.
Penulisan studi kasus umumnya dibatasi maksimal 500 kata untuk menjawab seluruh pertanyaan.
Salah satu masalah yang kerap dihadapi guru peserta PPG adalah "Menghadapi Siswa Pendiam di Kelas".
Berikut contoh studi kasus untuk PPG tahun 2025, untuk jenjang SMA maksimal 500 kata.
Baca Juga: Warga Plawad Karawang Timur Gotong Royong Bersihkan Saluran Air
Masalah: Menghadapi Siswa Pendiam di Kelas
Sebagai guru Bahasa Indonesia di salah satu SMA negeri, saya pernah menghadapi tantangan saat membimbing seorang siswa kelas X, sebut saja namanya Aulia.
Sejak awal semester, Aulia tampak sangat tertutup. Ia selalu duduk di pojok belakang, jarang terlibat dalam diskusi kelas, bahkan tidak pernah bertanya ataupun mengungkapkan pendapatnya ketika diberi kesempatan.
Awalnya saya berpikir mungkin Aulia belum beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru. Namun setelah beberapa bulan, sikapnya tetap sama.
Ia hanya berbicara seperlunya, tampak tidak percaya diri, dan sering menghindari kontak mata saat diajak bicara. Hal ini tentu menjadi tantangan, apalagi pelajaran Bahasa Indonesia menuntut siswa untuk aktif berdiskusi, mengemukakan pendapat, serta berlatih berbicara di depan umum.
Saya mulai melakukan observasi dan menggali informasi dari wali kelas serta guru BK. Dari hasil diskusi, diketahui bahwa Aulia berasal dari keluarga sederhana dan pernah mengalami perundungan saat di jenjang SMP.
Hal tersebut memengaruhi kepercayaan dirinya, membuatnya menarik diri dari lingkungan sosial. Untuk mengatasi hal ini, saya mengambil beberapa langkah.
Baca Juga: Heboh! Oknum ASN Bogor Diduga Selingkuh Saat Jam Kerja, Publik Minta Sanksi Tegas
Pertama, saya coba membangun kepercayaan Aulia secara personal. Saya ajak dia berdiskusi ringan di luar jam pelajaran, bukan soal pelajaran, melainkan tentang hal-hal yang ia sukai. Ternyata Aulia menyukai musik instrumental dan suka menulis lirik lagu.
Mengetahui hal ini, saya mulai melibatkan Aulia secara tidak langsung dalam pembelajaran. Misalnya, ketika membahas puisi atau cerpen, saya izinkan dia memilih karya sendiri dan menyampaikan hasilnya melalui tulisan, bukan lisan.
Untuk tugas presentasi kelompok, saya beri peran yang sesuai seperti menjadi penata materi atau visual, agar dia tetap terlibat namun tidak merasa terpaksa tampil di depan umum.
Baca Juga: Imbas Anjloknya KA Argo Bromo Anggrek: Rangkaian Perjalanan Kereta Api Terganggu
Perlahan-lahan Aulia menunjukkan perubahan. Ia mulai aktif mengumpulkan tugas tepat waktu, mengobrol dengan beberapa teman, dan sesekali bertanya saat pelajaran berlangsung.
Di akhir semester, ia bahkan memberanikan diri membaca puisi ciptaannya saat ada kegiatan kelas. Meskipun suaranya pelan, seluruh kelas memberi tepuk tangan - momen yang sangat emosional dan membahagiakan bagi saya sebagai gurunya.
Pengalaman ini memberikan pelajaran penting bahwa setiap siswa memiliki cara tumbuh yang berbeda. Peran guru bukan hanya mentransfer ilmu, tapi juga menjadi jembatan agar siswa merasa aman untuk berkembang.
Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:
Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov
Kesabaran, empati, dan pendekatan yang disesuaikan dengan karakter siswa sangat dibutuhkan untuk menggali potensi mereka yang tersembunyi. ***




