POJOKSATU.id - Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan eksistensinya di kancah global. 

Dalam pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026, prodi ini berhasil naik ke posisi 501–550 dunia, dari sebelumnya di peringkat 551–600 pada 2025.

Capaian ini sekaligus menempatkan Biologi UGM sebagai yang terbaik di Indonesia. 

Di bawahnya, menyusul Universitas Indonesia, kemudian Universitas Airlangga (peringkat 551–600), dan Institut Pertanian Bogor (peringkat 601–650).

Baca Juga: 30 Prompt ChatGPT untuk Belajar Lebih Cepat dan Paham Materi Sekolah

Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi Setiadi Daryono, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil dari komitmen dalam menjalankan tri dharma perguruan tinggi secara konsisten. 

Mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat, semuanya dijalankan dengan berlandaskan nilai Pancasila dan kekayaan biologi tropika Indonesia.

Ia juga mengingatkan bahwa peringkat dunia perlu dilihat secara proporsional. 

Baca Juga: Gaji ke-13 2026 Segera Cair Lebih Awal, Tapi 2 Kategori ASN Ini Dipastikan Tidak Dapat, Cek Sekarang Disini

Dengan ribuan program studi biologi di seluruh dunia, posisi UGM di rentang 501–550 sudah menunjukkan kualitas yang cukup baik. 

Bahkan, pada posisi tersebut, UGM sejajar dengan berbagai universitas dari negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Austria, dan Denmark. 

“Tentu bangga dan bersyukur walau sekali lagi itu bonus. Ranking ini adalah sebuat motivasi untuk menuju tujuan utama kita bekerja dengan benar,” ungkapnya.

Baca Juga: Iran Anggap Tuntutan AS Berlebihan, Islamabad Talk Berakhir Tanpa Kesepakatan Apapun

Strategi Jaga Reputasi Akademik

Dalam menjaga dan meningkatkan reputasi, Fakultas Biologi UGM terus memperkuat ekosistem akademik. 

Ada tiga unsur utama yang ditekankan, yakni komunikasi, kolaborasi, dan kepercayaan (trust). 

Ketiganya menjadi fondasi penting dalam membangun sinergi di lingkungan akademik.

Berbagai program juga terus didorong, mulai dari pendanaan penelitian, pengabdian masyarakat, hingga kolaborasi antara dosen dan mahasiswa. 

Baca Juga: Heboh Pengadaan Motor MBG! Komisaris Perusahaan Ternyata Pernah Diperiksa KPK, Publik Mulai Bertanya

Tujuannya jelas, meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas luaran akademik. 

“Ketika trust muncul akan ke kolaborasi dan semua itu bersinergi melalui komunikasi, kolaborasi, sinergi,” jelasnya.

Produktivitas dan Integritas Jadi Kunci

Budi juga menyoroti pentingnya melihat produktivitas akademik secara rasional. Dengan sekitar 68 dosen, Fakultas Biologi mampu menghasilkan ratusan publikasi internasional setiap tahun. 

Jika dihitung, rata-rata satu dosen hampir menghasilkan tiga karya dalam setahun.

Baca Juga: Heboh Pengadaan Motor MBG! Komisaris Perusahaan Ternyata Pernah Diperiksa KPK, Publik Mulai Bertanya

Menurutnya, penilaian tidak seharusnya hanya berpatokan pada jumlah total publikasi, tetapi juga rasio terhadap jumlah sumber daya manusia.

Di sisi lain, integritas menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Ia menegaskan bahwa capaian akademik harus diraih melalui proses yang benar tanpa praktik kecurangan. 

Nilai ini diterapkan dalam seluruh aktivitas akademik, mulai dari perkuliahan hingga praktikum di laboratorium.

Baca Juga: Golden Ticket Unesa 2026 Dibuka, Kuliah Gratis Tanpa Tes hingga 8 Semester! Ini Syarat dan Jadwalnya

Continuous Improvement dan Potensi Biodiversitas

Lebih lanjut, konsep continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan menjadi kunci dalam menjaga reputasi internasional. 

Ia mengibaratkan proses evaluasi akademik seperti mekanisme “recovery” dalam makhluk hidup yang membutuhkan tahapan adaptasi dan regenerasi.

Indonesia sendiri memiliki posisi strategis dalam kajian biologi global. 

Baca Juga: Kabar Baik Guru PPPK Jakarta, Gaji Dijamin APBD Sampai 2027, Ini Lengkapnya

Dengan kekayaan biodiversitas terbesar kedua di dunia setelah Brasil, serta dominasi wilayah laut, potensi riset biologi di Tanah Air sangat besar untuk terus dikembangkan.

Fakultas Biologi UGM pun menyadari tantangan besar untuk menjaga kekayaan tersebut. Namun di balik itu, ada dorongan kuat untuk terus berkarya dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. ***