POJOKSATU.id, UNIVERSITAS Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mencuri perhatian dunia akademik internasional. Ini setelah beberapa dosennya berhasil masuk dalam jajaran Top 2% Ilmuwan Berpengaruh Dunia.
Diantara dosen UMY yang masuk jajaran itu adalah Prof. Agus Setyo Muntohar, Dr. Udin, dan Dr. Ir. Iswanto. Dan, teranyar Dr. apt. Muhammad Thesa Ghozali, M.Sc.
Dr. Ghozali dari Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY, yang turut mengharumkan nama kampus.
Prestasi membanggakan itu ia raih setelah namanya tercatat dalam daftar Top 2% Scientist Network yang dirilis oleh Stanford University bekerja sama dengan penerbit Elsevier.
Pengakuan ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga bukti bahwa riset farmasi UMY telah berkontribusi nyata di level global.
Dr. Ghozali mengaku tak menyangka bisa menembus daftar bergengsi tersebut.
“Awalnya saya bingung, ini maksudnya apa dan pengaruhnya apa. Karena semangat riset saya baru tumbuh setelah lulus doktoral tahun 2021.
Tapi alhamdulillah, ini menjadi kebahagiaan tersendiri karena baru pertama kali nama saya masuk daftar Top 2%,” ujarnya.
Ia menambahkan, penghargaan itu menjadi bentuk apresiasi atas kerja kerasnya dalam dunia penelitian.
“Alhamdulillah, ini menjadi kebanggaan tersendiri, terutama karena bisa berkontribusi untuk Muhammadiyah, khususnya UMY,” imbuhnya dengan senyum bangga.
Menurutnya, capaian internasional itu tak lepas dari kekuatan tema riset yang ia tekuni: Farmasi Informatika — bidang yang memadukan ilmu farmasi, teknologi informasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Baca Juga: KDM Tegaskan Komitmen Jabar Bangun Iklim Investasi Aman dan Ramah Investor
Ghozali melihat bahwa integrasi teknologi merupakan langkah penting untuk menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 dan masyarakat 5.0.
“Kita hidup di era Revolusi Industri 4.0 dan Civil Society 5.0, jadi pemanfaatan teknologi informasi itu sudah menjadi kebutuhan mutlak,” jelasnya.
Fokus penelitian Ghozali meliputi dua hal utama, yaitu edukasi pasien (patient education) dan penemuan obat baru berbasis AI.
Dengan teknologi kecerdasan buatan, apoteker dapat memberikan edukasi yang lebih personal kepada pasien, sekaligus mempercepat proses penemuan obat-obatan baru.
Baca Juga: Tren Prodi Keperawatan, Jurusan Humanis yang Kini Jadi Incaran Banyak Calon Mahasiswa
Beberapa riset inovatif yang mengantarkannya ke jajaran ilmuwan dunia antara lain:
* Kotak Obat Terintegrasi IoT, alat yang bisa mengingatkan pasien untuk meminum obat secara otomatis dan dikendalikan jarak jauh.
* Aplikasi Seluler untuk Penderita Asma, yang membantu pasien memantau kondisi dan pengobatan mandiri.
* Machine Learning untuk Prediksi Resistensi Antibiotik, sistem yang mampu memprediksi kemungkinan resistensi antibiotik terhadap jenis infeksi tertentu.
“Biasanya, uji resistensi bakteri memakan waktu minimal 24 jam. Tapi dengan machine learning, prediksi bisa dilakukan segera berdasarkan data yang sudah terkumpul,” ungkapnya.
Baca Juga: Menlu Sugiono Tanggapi Santai Bocornya Percakapan Pribadi Prabowo dengan Donald Trump
Menurut Ghozali, inovasi seperti ini tidak hanya mempercepat diagnosis, tetapi juga meningkatkan efisiensi layanan kesehatan.
Ke depan, ia tak ingin berhenti hanya di publikasi jurnal ilmiah. Ghozali memiliki visi besar untuk membawa hasil risetnya ke tahap hilirisasi, agar dapat diterapkan secara nyata di rumah sakit Muhammadiyah.
“Kami ingin hasil penelitian ini bisa diterapkan di rumah sakit Muhammadiyah, seperti PKU Klaten atau rumah sakit Ibu dan Anak Aisyiyah, dengan mengintegrasikan kotak obat berbasis IoT ke sistem instalasi farmasi mereka,” ujarnya penuh semangat.
Langkah ini diharapkan bisa menjadi awal dari transformasi digital layanan farmasi di rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah, serta memperkuat peran institusi pendidikan Islam dalam inovasi teknologi kesehatan.
Baca Juga: Info GTK Tarik Data Tahap 3: Siap Cair Tunjangan Sertifikasi Guru Triwulan 3
Menutup perbincangan, Dr. Thesa Ghozali menyampaikan pesan sederhana namun bermakna kepada dosen muda di seluruh Indonesia.
“Mulailah riset dari hal yang simpel dan sesuai passion. Kalau terlalu tinggi kadang justru bingung sendiri.
Yang penting kita cinta dulu dengan bidang yang kita tekuni,” katanya dengan rendah hati. ***




