POJOKSATU.id - Bagaimana kalau belajar matematika tidak dimulai dari deretan angka di papan tulis, tetapi dari permainan jual-beli?
Cara itulah yang dikembangkan Ibu Zakiyah, S.Pd. dari SLB Negeri Seduri Mojokerto melalui inovasi bernama Media Beberan Jual Beli.
Media pembelajaran tersebut dibuat dalam bentuk karpet beberan berukuran besar dengan tampilan warna-warni.
Di atasnya terdapat gambar berbagai barang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, lengkap dengan nama serta nominal harga.
Bagi siswa tunarungu, pendekatan visual seperti ini menjadi penting karena informasi dapat disampaikan melalui sesuatu yang konkret dan mudah diamati.
Alih-alih sekadar menghafalkan angka, siswa diajak seolah-olah benar-benar sedang berada di sebuah tempat jual-beli.
Dari bermain, siswa belajar menghitung
Dalam permainan tersebut, siswa dapat mengambil peran sebagai penjual maupun pembeli.
Mereka belajar mengenali nama barang, membaca harga, memilih benda yang ingin dibeli, kemudian menghitung uang yang harus dibayarkan hingga menentukan kembaliannya.
Dengan simulasi seperti ini, konsep literasi dan numerasi menjadi lebih dekat dengan aktivitas yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar menghitung pun tidak terasa seperti tugas yang monoton.
Ada gerakan, percakapan, pilihan, dan interaksi antarsiswa yang membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup.
Tak hanya soal angka
Media Beberan Jual Beli juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi.
Dalam proses permainan, mereka didorong untuk berinteraksi dengan teman.
Siswa dapat berlatih membaca gerak bibir, memperhatikan lawan bicara, serta mengekspresikan maksudnya secara langsung.
Satu permainan bisa mengasah beberapa kemampuan sekaligus.
Selain kemampuan literasi dan numerasi, aktivitas bergerak di atas media beberan juga dapat menjadi bagian dari latihan motorik kasar dan kemampuan berpikir logis.
Rasa jenuh yang terkadang muncul ketika mempelajari hitungan pun dapat dikurangi karena siswa belajar dalam suasana bermain.
Pembelajaran dibuat dekat dengan keseharian
Pendekatan kreatif di sekolah juga terlihat dari berbagai pembiasaan yang melibatkan siswa dalam kegiatan bersama.
Aktivitas seperti DEKAT (Sedekah Jumat), JUSIH (Jumat Bersih), MEKAH (Jumat Berkah), senam pagi, hingga salat berjamaah menjadi bagian dari kegiatan yang membantu siswa belajar melalui pengalaman langsung.
Pola pembelajaran seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal dan kaku.
Justru, pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat membantu anak memahami sesuatu dengan lebih mudah.
Dalam permainan Beberan Jual Beli, misalnya, uang tidak hanya dipelajari sebagai angka.
Siswa memahami bahwa uang digunakan untuk membeli sesuatu, ada harga yang harus dibayar, dan ada kemungkinan menerima uang kembalian.
Konsep yang tampak sederhana itu menjadi pengalaman belajar yang konkret.
Keberanian tumbuh bersama teman
Permainan yang dilakukan secara berkelompok juga memberikan ruang bagi siswa untuk membangun keberanian.
Mereka belajar menunggu giliran, berinteraksi, menjalankan peran, dan merespons teman.
Dari sana, rasa percaya diri perlahan dapat tumbuh.
Pembelajaran menjadi bukan hanya tentang apakah siswa mampu menghitung dengan benar, tetapi juga bagaimana mereka berani mencoba, berkomunikasi, dan terlibat dalam aktivitas bersama.
Inovasi seperti Media Beberan Jual Beli memperlihatkan bahwa ketika metode belajar disesuaikan dengan kebutuhan siswa, materi yang sebelumnya dianggap sulit bisa terasa jauh lebih menyenangkan.***




