POJOKSATU.id — Asrama memang bukan rumah. Dindingnya mungkin rapi, kasurnya bersih, dan makannya teratur. Tapi bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang baru pertama kali meninggalkan rumah, semuanya bisa terasa asing —dan kadang membuat mereka ingin kabur.

Inilah yang coba dicegah oleh Sekolah Rakyat Palangka Raya, yang akan mulai beroperasi pada September 2025 dengan menampung 75 siswa SD dari keluarga kurang mampu.

“Jangan sampai siswa tidak betah, lalu lari tanpa pamit. Itu yang kami antisipasi sejak awal,” ujar Kepala Dinas Sosial Palangka Raya, Riduan (6/8/2025).

Sebagai bagian dari program Kementerian Sosial untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan, Sekolah Rakyat menyediakan layanan berbasis asrama, lengkap dengan fasilitas makan, tempat tinggal, pakaian, laptop, hingga pengawasan penuh.

Baca Juga: Gaji Pensiunan Taspen Cair Setiap Tanggal 1 hingga 10 Awal Bulan, Bisa Pilih Ambil di Bank atau Kantor Pos, Begini Caranya

Target utamanya adalah anak-anak dari desil 1 dan 2, yaitu kelompok masyarakat dengan pendapatan terendah.

Namun, seiring berjalan program serupa di daerah lain, masalah baru muncul: siswa merasa tidak betah dan mencoba kabur.

"Kami belajar dari pengalaman di daerah lain, seperti di Jawa Tengah. Ada siswa yang pulang diam-diam karena rindu rumah. Maka dari itu, sejak awal kami siapkan pendekatan yang lebih humanis," jelas Riduan.

Langkah-langkah antisipatif mulai diterapkan. Seleksi penerimaan siswa hanya dibuka untuk anak kelas 3–5 SD—bukan kelas 1–2—agar memudahkan adaptasi usia.

Setiap siswa akan didampingi wali asrama, guru pendamping, dan memiliki sesi rutin untuk bercerita atau mengungkapkan perasaan mereka.

Baca Juga: NEGARA Mengatur ASMARA, Jika PNS Menikah, Cerai hingga Poligami Harus IZIN ATASAN

“Kami ingin memastikan anak-anak merasa aman dan tidak tertekan. Ini bukan sekadar program belajar, tapi pengalaman hidup yang harus menyenangkan,” tambah Riduan.

Pihak sekolah juga melakukan pendekatan intensif kepada orang tua, agar mereka tidak merasa khawatir meninggalkan anaknya.

Banyak orang tua awalnya ragu, apalagi karena anak-anak masih kecil, namun akhirnya bersedia setelah diberi pemahaman dan jaminan keamanan.

Kegiatan sehari-hari di asrama akan diisi bukan hanya dengan pelajaran, tetapi juga kegiatan sosial, bermain, ibadah bersama, dan olahraga.

Hal ini dirancang untuk membangun rasa kebersamaan antar-siswa dan memperkuat dukungan emosional.

“Kalau anak betah, semangat belajarnya pasti tumbuh. Tapi kalau tidak nyaman, mau sepintar apa pun, mereka bisa stres dan menolak belajar,” ujar seorang pengelola asrama yang ikut mempersiapkan fasilitas.

Belajar dari kasus sebelumnya di Temanggung dan Sragen, beberapa siswa di Sekolah Rakyat sempat meninggalkan asrama karena alasan emosional: rindu ibu, khawatir dengan keluarga di rumah, atau belum siap hidup mandiri.

Baca Juga: Purna Paskibra Pangenan Tuntut Hukuman Mati Pelaku Rudapaksa Diva Febriani, Gelar Aksi Solidaritas dan Kibarkan Bendera Setengah Tiang

Pengelola Sekolah Rakyat Palangka Raya berupaya menjadikan itu pelajaran untuk mencegah kejadian serupa.

Melalui program Sekolah Rakyat, pemerintah ingin menciptakan ruang pendidikan yang berpihak pada anak miskin, memberi mereka harapan, akses, dan masa depan yang lebih layak.

Tapi pendekatan teknis saja tidak cukup, harus ada sentuhan psikologis dan kemanusiaan.

Kini, saat 75 siswa bersiap memasuki asrama, para pendamping bersiap bukan hanya dengan buku pelajaran, tetapi juga dengan empati.***

Baca dan komentari artikel lainnya melalui aplikasi kami berikut ini:

Versi Android

Versi iOS

Saluran WhatsApp

Halaman Penggemar Edugov