POJOKSATU.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menjelaskan alasan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) tetap mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027, meski hari pertama belajar para siswanya baru dijadwalkan pada 10 Agustus 2026.
Sebagaimana diketahui, mayoritas sekolah di Indonesia telah memulai tahun ajaran baru 2026/2027 sejak 13 Juli 2026. Sementara itu, proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SNT baru dibuka pada 21 Juli 2026, disusul kegiatan belajar mengajar yang dimulai hampir satu bulan kemudian.
Lantas, mengapa pemerintah tetap menjalankan program tersebut pada tahun ajaran ini?
Kemendikdasmen Ingin SNT Segera Berjalan
Menurut Abdul Mu'ti, pemerintah tidak ingin menunda pelaksanaan Sekolah Nasional Terintegrasi karena seluruh konsep dasar penyelenggaraannya sudah siap untuk dijalankan.
Ia menjelaskan bahwa kurikulum telah disusun sehingga tidak ada alasan untuk menunggu tahun ajaran berikutnya.
Selain itu, terdapat sejumlah daerah yang telah memiliki kesiapan sarana dan prasarana, salah satunya Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN).
Mu'ti mengatakan OIKN sejak awal telah membangun sekolah terintegrasi sehingga dinilai siap memulai penyelenggaraan SNT.
Sebagian Masih Menggunakan Fasilitas UPT Kemendikdasmen
Tidak semua daerah memiliki gedung Sekolah Nasional Terintegrasi yang telah selesai dibangun.
Karena itu, 16 kabupaten/kota lainnya akan memanfaatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen sebagai lokasi pembelajaran sementara atau kelas transit.
Menurut Abdul Mu'ti, skema tersebut serupa dengan pola yang diterapkan pada tahap awal penyelenggaraan Sekolah Rakyat, yakni memulai proses pembelajaran terlebih dahulu sambil pembangunan gedung permanen berlangsung.
Dengan cara tersebut, peserta didik tetap dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa harus menunggu seluruh infrastruktur selesai dibangun.
Baca Juga: TKW Asal Purwakarta Gagal Pulang dari Arab Saudi, Difitnah Mencuri oleh Mantan Majikan
Arahan Presiden Prabowo Agar SNT Segera Dimulai
Abdul Mu'ti mengungkapkan bahwa percepatan pelaksanaan Sekolah Nasional Terintegrasi merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah ingin program strategis tersebut segera berjalan, sementara penyempurnaan berbagai regulasi maupun pembangunan fasilitas dilakukan secara bertahap.
Karena itu, sekolah yang sudah siap diminta memulai kegiatan terlebih dahulu agar manfaat program dapat segera dirasakan oleh peserta didik.
Baca Juga: Bobby Nasution Mendadak Tinggalkan Paripurna DPRD Saat Mau Sahkan Pertanggungjawaban APBD 2025
Anggaran Pembangunan Sudah Disiapkan
Selain kesiapan kurikulum dan regulasi, pemerintah juga telah memastikan dukungan anggaran bagi pengembangan Sekolah Nasional Terintegrasi.
Kemendikdasmen memperoleh Anggaran Belanja Tambahan (ABT) Tahun 2026 sebesar Rp9.125.628.856.000 atau sekitar Rp9,1 triliun.
Anggaran tersebut akan digunakan untuk membangun 100 Sekolah Nasional Terintegrasi pada tahap awal pengembangan program.
Menurut Abdul Mu'ti, karena anggarannya telah tersedia pada tahun ini, pembangunan dan pelaksanaan program juga harus segera dimulai.
Baca Juga: Tiga Korban Tewas Ledakan Gas di Grand Polonia Medan Ditemukan, Polisi Mulai Penyelidikan
Pemerintah Daerah Menyediakan Lahan
Dalam pelaksanaannya, pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Pemerintah daerah berperan menyediakan lahan melalui mekanisme hibah.
Sementara itu, pemerintah pusat bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan, pembangunan fasilitas, hingga pembiayaan operasional sekolah.
Skema tersebut diharapkan dapat mempercepat pemerataan layanan pendidikan berkualitas di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Daftar Rekor Baru di Piala Dunia 2026: Catatan Mbappe, Messi Hingga Ronaldo Sulit Terlampaui
Sebanyak 17 SNT Siap Beroperasi Tahun Ini
Pada tahun ajaran 2026/2027, Kemendikdasmen menyiapkan 17 Sekolah Nasional Terintegrasi jenjang SMP-SMA yang siap menerima peserta didik baru.
Proses penerimaan dimulai melalui SPMB pada 21 Juli 2026, sedangkan kegiatan pembelajaran perdana dijadwalkan berlangsung pada 10 Agustus 2026.
Program ini menjadi tahap awal pelaksanaan Sekolah Nasional Terintegrasi sebelum diperluas secara bertahap ke lebih banyak daerah dalam beberapa tahun mendatang.
Sekolah Nasional Terintegrasi diharapkan tidak hanya berjalan sesuai target, tetapi juga mampu memperluas akses pendidikan bermutu bagi peserta didik tanpa harus menunggu seluruh infrastruktur selesai dibangun. ***




