POJOKSATU.id — Jarak geografis tak seharusnya menjadi penghalang untuk menuntut ilmu. Semangat ini yang dihidupkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Beasiswa Pra-Doktoral.

Program beasis ini diperuntukkan bagi Perguruan Tinggi Terdepan, Terluar, Tertinggal (PT3T) dan Daerah Afirmasi Tahun 2025 Bidang Sains Dasar dan Keteknikan.

Program yang resmi dibuka sejak Kamis, 16 Oktober 2025 dan dilaksanakan secara daring, sebagai bentuk komitmen nyata Kemdiktisaintek untuk memperluas akses pendidikan tinggi berkualitas bagi seluruh lapisan daerah di Indonesia.

Baca Juga: Kemdiktisaintek Naikkan Dana Uji Produk Riset hingga Rp150 Juta per Usulan

Direktur Sumber Daya Kemdiktisaintek, Prof Sri Suning Kusumawardani, menegaskan bahwa program ini menjadi langkah strategis untuk menyiapkan dosen-dosen muda dari wilayah 3T agar siap melanjutkan studi doktoral.

“Program Beasiswa Pra-Doktoral PT3T dan Daerah Afirmasi ini merupakan inisiatif baru yang kami luncurkan tahun ini. Kami menjemput bola ke perguruan tinggi 3T untuk membantu meningkatkan kualifikasi dosen," ungkapnya.

Sri berharap peserta dapat mengikuti proses ini dengan serius, tekun, dan mulai merancang proposal doktoralnya agar terkoneksi dengan program pascasarjana.

Tahun ini, beasiswa difokuskan pada bidang Sains Dasar dan Keteknikan.

Baca Juga: Alih Wahana Cerita Rakyat Lampung Jadi Animasi 3D, Dosen Itera Ajak Generasi Muda Cintai Budaya Lokal

Setelah melalui proses seleksi yang ketat dari 94 pendaftar, terpilih 40 peserta dari 20 perguruan tinggi di 13 provinsi.

Mereka akan menjalani program pra-doktoral selama satu semester—dua bulan secara daring dan dua bulan secara luring—di tiga perguruan tinggi mitra: Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Kepala Subdirektorat Pengelolaan Dosen dan Tenaga Kependidikan, Pauzan, menjelaskan bahwa persebaran peserta sudah merata di tiga kampus besar tersebut.

Baca Juga: Kasus Mahasiswa Unud, Komisi X DPR Desak Kampus Jadi Ruang Aman dari Kekerasan

“Total pendaftar ada 94 orang, dan yang lolos sebanyak 40 peserta dari 13 provinsi. Persebarannya di tiga kampus besar: ITB 12 peserta, ITS 14 peserta, dan UGM 14 peserta,” ungkapnya.

Program ini tidak hanya berfokus pada kesiapan akademik, tetapi juga penguatan riset, kepemimpinan, dan adaptasi sosial-budaya.

Peserta akan dibekali dengan pelatihan metodologi penelitian, penulisan ilmiah, dan penyusunan proposal riset doktoral.

Baca Juga: PKK Cilowong Jadi Inspirasi, Ketua PKK Banten Tinjau Langsung Program Unggulan

Selain itu, mereka juga mendapatkan pendampingan non-akademik, seperti manajemen waktu, pengayaan bahasa Inggris, serta bimbingan untuk beradaptasi di lingkungan akademik baru.

Ketua Tim Kerja Pembinaan Kualifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Juniarti D. Lestari, menyebut program ini sangat strategis karena menjadi jembatan menuju studi doktoral, khususnya bagi bidang sains dan keteknikan.

“Keterbatasan akses ke jenjang doktoral adalah tantangan nyata di wilayah 3T.

Melalui program ini, kita menyiapkan dosen muda agar tidak hanya siap studi lanjut, tapi juga mampu menjadi motor perubahan sosial dan penggerak inovasi sesuai semangat Kampus Berdampak,” ujarnya.

Baca Juga: Tampang Muhammad Kevin Pradana, Kepala SPPG di Bekasi Maki Hingga Pegang-pegang Pegawai Wanita Berujung Pecat Korban

Kemdiktisaintek menegaskan bahwa beasiswa ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang menuju visi Indonesia Emas 2045.

Saat ini, proporsi dosen bergelar doktor di Indonesia baru mencapai 25,7%, bahkan lebih rendah di wilayah tertinggal.

Padahal, dosen dengan gelar doktor berperan besar dalam menghasilkan riset inovatif dan meningkatkan mutu pembelajaran.

Melalui Beasiswa Pra-Doktoral 2025, Kemdiktisaintek ingin memastikan bahwa setiap dosen—tanpa memandang lokasi—memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi.

Baca Juga: Maxim, Redefining Mobility and Delivery Across Indonesia

Program ini menjadi bukti bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pusat kota, melainkan juga oleh sejauh mana seluruh pelosok negeri diberi ruang untuk tumbuh bersama. ***