POJOKSATU.id - Jauh dari wilayah perkotaan dan perjalanan yang menantang, SMP Prawira Lembang harus ditempuh para murid dengan berjalan kaki melalui hutan bambu.
Tak ada angkutan umum dan rendahnya kesadaran orang tua siswa terhadap pentingnya pendidikan, membuat sekolah di bawah naungan Yayasan Pendidikan Achmad Prawiradikusumah ini banyak ditinggalkan siswa yang putus sekolah atau menikah muda.
Menyaksikan kondisi nyata di sekolahnya itu, tiga orang siswa yaitu Dedeh Sarinah, Cila, dan Kaila merasa resah dan berusaha memecahkan masalah ini.
Dedeh dan tiga temannya menyadari, putus sekolah dan menikah muda bisa menjadikan masa depan teman-temannya semakin buruk.
Jika saja proses pemikiran hingga kreativitas mereka tidak dihadirkan dan ditampilkan ke khalayak, tentu saja esensi nilai perjuangan mereka tak akan sampai di masyarakat.
Bagaimana mereka beraksi dan mengentaskan persoalan itu melalui karyanya? Bagaimana agar keinginan bersekolah bisa terinternalisasi? Bagaimana agar cara komunikasinya dapat diterima?
Dalam rangkaian kampanye bulan pendidikan bertagline #FilantropiuntukIndonesia bersama Perhimpunan Filantropi Indonesia, Yayasan Guru Belajar mengadakan talkshow bertajuk “Dukung Anak Mengukur Diri, Berkarya, dan Berkontribusi” pada Jumat (17/05/2024) secara daring.
Untuk menggali persoalan itu, talkshow menghadirkan Marsaria Primadonna, ketua Kampus Guru Cikal, dan Dedeh Sarinah, murid dari SMP Prawira Lembang sebagai narasumber.
Talkshow ini memberi catatan penting bahwa pameran karya ternyata penting untuk anak karena menjadi asesmen yang otentik.
Marsaria Primadonna menyarankan agar murid belajar dengan berkarya untuk meningkatkan kompetensi ini.
Menurut Marsaria, di era Kurikulum Merdeka, belajar dengan berkarya sudah difasilitasi melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
“Ada pepatah kan ya, kalau di sekolah kita belajar dulu baru ujian, kalau di dunia nyata kita ujian dulu baru belajar. Kenapa tidak sejak sekolah saja, anak terbiasa terjun ke masyarakat untuk belajar?” ujar perempuan yang akrab disapa Pima itu.
Pentingnya Murid Memiliki Karya yang Dipamerkan
Pima melanjutkan, anak penting untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi karena akan mempengaruhi bagaimana mereka siap terjun ke masyarakat.
Melalui proses membuat karya, murid akan belajar melihat masalah, mengelola banyaknya informasi, dan merancang solusi yang bisa mengatasinya.
Anak juga belajar untuk gagal dan belajar dari kesalahannya tersebut. Proses ini sangat mengasah kemampuan literasi dan numerasi.
Setelah murid membuat karya, mereka juga perlu bergabung dengan pameran karya.
Pameran karya, imbuh Pima, adalah cara otentik untuk anak bisa mengetahui kemampuan dirinya.
Melalui pameran karya, anak akan menerima umpan balik bahkan dari orang yang sebelumnya tidak pernah terlibat sama sekali dalam proses pembuatan karya.
“Maksudnya otentik itu adalah benar-benar dari orang-orang di luar kelas, mereka akan kasih umpan baliknya, ibaratnya mereka ini punya fresh eye jadi umpan baliknya segar. Ini akan jadi pengalaman berharga untuk anak untuk bisa mengukur kompetensi dirinya,” ujar Pima.
Meski begitu, Pima juga mengingatkan untuk jangan sampai terjebak miskonsepsi pameran karya.
Saat ini setiap sekolah biasanya mengadakan pameran karya di akhir semester tapi esensinya tidak sampai karena hanya berlomba agar terlihat keren dan mengedepankan kemewahan.
"Pameran karya yang sesuai esensi kembali pada tujuan yakni mengukur kompetensi diri anak. Sehingga dalam pameran karya, yang penting adalah anak punya ruang untuk berefleksi," tegasnya.
Selain itu, mereka berlatih mengkomunikasikan proses karyanya dan menerima umpan balik.
Aksi Dedeh dan Kawan-kawan
Salah satu aksi yang berhasil dilakukan Dedeh dan kawan-kawannya yang merasa resah mendapati teman-temannya putus sekolah dan menikah muda.
Dalam proses itu, ketiganya sepakat membuat projek yang dapat membangun kesadaran pentingnya sekolah.
Baca Juga: Temu Pendidik Nusantara Masih Berkesan di Hati Guru, Dampak TPN X Jadi Ruh Semangat Merdeka Belajar
“Dari hasil riset kami bertiga, putus sekolah akan memiliki dampak buruk untuk teman-teman saya, oleh karenanya, saya dan teman-teman memutuskan masalah ini jadi topik projek profil,” ungkap Dedeh.
Dedeh Sarinah dan kedua temannya lalu membuat projek “Ayo Sekolah” sebagai salah satu jalan keluar yang mereka temukan menyaksikan kondisi di sekolahnya.
“Akhirnya kami memutuskan untuk membuat video-video sederhana yang memperlihatkan suasana menyenangkan dan pentingnya sekolah, lalu kami distribusikan ke teman-teman. Lalu saat kami melihat ada teman yang mulai tidak semangat sekolah, mulai membolos, kami yang beri semangat,” kata Dedeh.
Memang bukan hal mudah. Dedeh pun mengaku menghadapi banyak tantangan saat memikirkan solusinya.
Salah satunya mencari cara agar bisa mengena ke teman-teman dan orangtua dan bisa berdampak panjang. Dia juga menghadapi kekhawatiran jika komunikasinya kurang diterima.
Namun usaha Dedeh dan kawan-kawannya perlahan berhasil. Karya video Dedeh dan kedua temannya ini mendapat kesempatan untuk dipamerkan di pameran karya puncak Temu Pendidik Nusantara X, yang dihadiri oleh ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Saat tampil di pameran karya puncak Temu Pendidik Nusantara X tahun lalu itu, Dedeh bertutur banyak mendapatkan respon yang sangat baik dari para pengunjung.
Ia dan teman-temannya mengatakan sangat senang dapat bergabung karena dirinya belajar mempresentasikan ide tersebut dan menerima beragam umpan balik.
Selain itu juga berkenalan dengan murid dari sekolah lain dan para pengunjung yang sangat memperhatikan dunia pendidikan.
Perjuangan Dedeh pun tak lepas dari pendampingan Yayasan Guru Belajar sebagai lembaga philanthropic intermediary yang memberdayakan guru menjadi penggerak perubahan melalui kolaborasi beragam organisasi penggerak: keguruan, kepemimpinan, jaringan sekolah/madrasah.
Yayasan Guru Belajar ini bergerak melalui Kampus Guru Cikal (KGC), Kampus Pemimpin Merdeka (KPM), dan Cerita Guru Belajar (CCB), serta berkolaborasi aktif dengan Teach First Indonesia.
Perjuangan kolaboratif ini juga tak sia-sia. Tercatat pada tahun ajaran 2022/2023, pendaftar sekolah mulai meningkat 1,5%.
Bahkan, permasalahan internal seperti kepegawaian bisa tercapai menjadi lebih efektif dan efisien. Para guru yang awalnya masih sampingan, kini sudah memperoleh status full time sehingga bisa fokus mengajar di sana.
Tak hanya itu, komunikasi antara sekolah dan yayasan juga mulai dibangun dengan baik.
Kondisi ini memberikan penyadaran, bahwa sekolah yang bagus tentu tidak hanya dilihat dari gedung atau hebatnya fasilitas, tetapi bagaimana sekolah berhasil memfasilitasi pengembangan potensi murid menjadi kompetensi yang berdampak positif, seperti halnya Dedeh dan kedua temannya, Cila, dan Kaila. ***




