POJOKSATU.id, JAKARTA—Siswa baru 2025 jenjang SMP dan SMA akan menjalani asesmen literasi dan numerasi selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini.

Asesmen literasi membaca dan numerasi dilakukan selama 60 menit sebagai bagian dari rangkaian kegiatan MPLS Ramah pada jenjang pendidikan SMP dan SMA di Indonesia tahun 2025 ini.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti usai Peluncuran MPLS Ramah bersama Penerima Beasiswa ADEM di Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (11/7) mengatakan, tujuan asesmen untuk mengetahui kemampuan membaca dan menulis siswa SMP dan SMA saat ini.

Baca Juga: Sosok Luluk Nuril, TikToker Dituding Gelapkan Uang Artis Rp130 Juta Lewat Investasi Bodong

Asesmen ini berangkat dari temuan langsung serta video yang beredar terkait beberapa siswa SMP dan SMA yang belum dapat membaca atau berhitung.

Abdul Mu'ti mengingatkan pelaksanaan asesmen literasi dan numerasi pada MPLS Ramah tahun ajaran 2025/2026 bukan menjadi alat penentu kelulusan para murid.

Ia menegaskan hasil asesmen tersebut tidak memberikan pernyataan status lulus atau tidak lulus kepada para murid baru sehingga tidak akan mempengaruhi kelulusan mereka pada jenjang berikutnya.

“Asesmen literasi-numerasi jangan dimaknai sebagai tes ya, asesmen ini lebih kepada semacam preliminary saja untuk mengetahui kemampuan membaca menulis mereka itu setingkat apa," katanya.

Baca Juga: DOWNLOAD SOAL Latihan Masuk STIS Tahun 2025, Lengkap, GRATIS, Dibuat dengan SISTEM GUGUR, Siapkan dan Simak Materi dan Jadwal

Sebaliknya, ia menerangkan hasil asesmen tersebut akan digunakan para guru untuk memetakan kemampuan membaca dan berhitung siswa di tahap awal pendidikan pada jenjang yang baru.

Hasil asesmen akan menjadi masukan bagi guru untuk mengorganisasi metode pembelajaran agar materi yang diberikan sesuai dengan tingkat kemampuan sekaligus memastikan para siswa tidak ada yang tertinggal.

"Itu menjadi input bagi guru untuk nanti mengorganisasi pembelajaran, yang kurang mungkin perlu nanti ada semacam bridging untuk mereka siap supaya nanti tidak tertinggal," imbuhnya.

"Ada kritikan yang seringkali kita dengar, kita juga terima videonya, misalnya SMP belum bisa baca, SMA belum bisa berhitung yang itu kadang-kadang memang menjadi kesulitan tersendiri bagi guru ketika memulai mengajar," katanya.

Asesmen literasi membutuhkan ketelitian dalam menyimak teks bacaan. Sementara itu, asesmen numerasi adalah tes yang memerlukan ketelitian terkait angka dan data.***