POJOKSATU.id - Ribuan guru madrasah mulai mempertanyakan proses pemanggilan PPG Dalam Jabatan Kemenag Batch IV 2025 setelah banyak laporan bahwa hasilnya tidak mengikuti pola yang jelas.
Di sejumlah grup Facebook, terutama komunitas pendidik madrasah, keluhan terus berdatangan dari guru-guru yang sudah mengabdi bertahun-tahun namun tak juga terpanggil.
Mereka semakin bingung ketika melihat rekan dengan TMT lebih muda justru masuk daftar peserta PPG tanpa hambatan.
Baca Juga: TPG TW 4 Melaju Kencang, TPG TW 3 Masih Tertahan! Ada Apa di Balik Perbedaan Ini?
Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa proses pemanggilan berjalan seperti undian, tanpa indikator yang dapat diprediksi.
Di tengah derasnya keluhan, tuntutan transparansi dari pihak Kemenag kembali menyeruak dengan suara yang lebih keras.
Lonjakan Keluhan dari Guru yang Belum Terpanggil Memunculkan Tanda Tanya Besar
Di banyak forum online, guru mengaku merasa “ditinggalkan” karena namanya tidak muncul meski sudah menunggu sejak batch pertama tahun ini.
Banyak dari mereka merupakan guru senior dengan TMT lama, yang semestinya memiliki prioritas dalam sistem seleksi.
Namun kenyataannya, justru banyak guru baru dengan masa mengajar pendek yang masuk daftar panggilan.
Fenomena ini memunculkan kekecewaan kolektif karena guru merasa tidak ada keadilan yang mempertimbangkan masa pengabdian.
Pertanyaan terbesar pun muncul: apa parameter sesungguhnya dalam pemanggilan Batch IV?
Dugaan Seleksi “Random Seperti Arisan” Mulai Menguat di Kalangan Guru
Istilah “random seperti arisan” bukan sekadar ungkapan emosional, tetapi muncul dari pola nyata yang diamati para guru.
Sejumlah guru dalam satu sekolah melaporkan bahwa nama yang terpanggil sama sekali tidak mengikuti urutan TMT, usia, ataupun linearitas ijazah.
Ada yang memiliki kualifikasi lengkap dan pengalaman lama, tetapi justru dinyatakan tidak memenuhi panggilan.
Sementara itu, guru yang baru masuk mengajar dan belum memiliki pengalaman panjang justru terpanggil lebih dulu.
Ketidakpahaman terhadap pola seleksi membuat guru merasa hanya bisa menunggu keberuntungan jatuh pada mereka.
Ketidakjelasan Parameter Seleksi Membuat Guru Merasa Tidak Dihargai
Beberapa guru mengaku sudah berusaha memperbarui data SIMPATIKA, memastikan linearitas ijazah, dan mengecek beban kerja sesuai ketentuan.
Namun, hal itu tetap tidak menjamin mereka masuk daftar pemanggilan.
Minimnya informasi dari pusat membuat banyak guru merasa tidak memiliki kendali atas proses seleksi yang menentukan masa depan profesinya.
Mereka berharap setidaknya ada indikator jelas seperti bobot TMT, prioritas mapel, atau status kekurangan guru.
Tanpa penjelasan sistemik dari Kemenag, rasa kecewa dan ketidakpastian semakin membesar.
Meski Tidak Terpanggil Batch IV, Faktanya Waktu Cair TPG Tetap Akan Sama
Meski banyak kekecewaan, sejumlah guru yang memahami alur PPG mencoba menenangkan rekan-rekannya.
Mereka menjelaskan bahwa PPG Batch IV baru selesai pada Januari 2026 sehingga TPG seluruh peserta baik Batch IV maupun batch setelahnya tetap akan cair pada tahun 2027.
Artinya, guru yang terpanggil di batch berikutnya sesungguhnya tidak mengalami kerugian apa pun dari sisi waktu pencairan.
Penjelasan ini membuat sebagian guru mulai melihat bahwa ketertinggalan batch tidak selalu berarti tertinggal hak.
Namun tetap saja, ketidakjelasan sistem pemanggilan menjadi masalah yang tidak bisa diabaikan.
Transparansi Jadi Tuntutan Utama agar Guru Tidak Merasa Berjuang dalam Kegelapan
Guru merasa sistem seleksi PPG seharusnya memberikan informasi yang lebih rinci mengenai alasan mereka tidak terpanggil.
Baca Juga: Kolaborasi Lintas Sektor, KAI Daop 3 Cirebon Perkuat Edukasi Keselamatan Kereta Api
Akurasi data, linearitas, usia, masa kerja, dan kuota mapel seharusnya dijelaskan secara terbuka agar guru tahu apa yang harus diperbaiki.
Tanpa transparansi, guru hanya bisa menunggu prinsip “rezeki tidak akan tertukar”, meski dalam praktiknya mereka tetap membutuhkan kejelasan.
Mereka juga berharap Kemenag membuat laporan resmi berisi indikator dan persentase kelulusan per mapel.
Baca Juga: TPG TW 4 Melaju Kencang, TPG TW 3 Masih Tertahan! Ada Apa di Balik Perbedaan Ini?
Dengan begitu, seleksi PPG tidak lagi dianggap acak atau bergantung pada keberuntungan semata.
Kecurigaan bahwa pemanggilan PPG Batch IV Kemenag 2025 terasa seperti “random seperti arisan” muncul bukan tanpa alasan.
Guru senior belum terpanggil, sementara guru baru justru lolos seleksi tanpa hambatan.
Ketidakjelasan parameter pemanggilan membuat banyak pendidik merasa tidak dihargai setelah bertahun-tahun mengabdi.
Meski demikian, dari sisi waktu TPG, baik peserta Batch IV maupun batch berikutnya tetap akan menerima haknya pada tahun yang sama, yakni 2027.
Namun satu hal tetap tidak bisa dipungkiri: guru membutuhkan transparansi, bukan sekadar harapan dan tebakan agar proses PPG tidak lagi menjadi teka-teki yang membuat mereka resah setiap tahun.***




