POJOKSATU.id - Pendidikan bermutu bukan hanya soal ruang kelas dan sekolah formal. Di tengah kondisi yang berubah cepat, jalur pendidikan nonformal dan vokasi juga punya peran penting untuk membuka kesempatan belajar sekaligus membangun keterampilan masyarakat.

Hal itu terlihat dari langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menjalankan dua agenda sekaligus. 

Sebanyak 71 lembaga kursus dan pelatihan (LKP) terdampak banjir di Aceh dan Sumatra Utara mendapat bantuan peningkatan mutu, sementara 118 guru SMK dari 11 provinsi mengikuti program upskilling dan reskilling.

Program peningkatan kompetensi guru berlangsung pada 20 Agustus hingga 2 September 2026 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bidang Bangunan dan Listrik (BBL) Medan.

Baca Juga: Akui Melaporkan Ruben Onsu Bukan Opsi Pertama, Ini Alasan Kuasa Hukum Pelapor Akhirnya Menempuh Jalur Hukum

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menilai pendidikan harus dipahami sebagai proses belajar yang bisa berlangsung melalui banyak jalur.

"Education is not only about schooling but the essence of education is learning. Esensi pendidikan itu belajar, tidak hanya sekolah. Undang-Undang Sisdiknas sudah membuat rumusan yang sangat komprehensif mengenai jenis pendidikan itu: ada pendidikan formal, informal, dan nonformal. Semua diwadahi, semua diberikan kesempatan untuk memberikan layanan pendidikan karena tidak semua orang bisa sekolah formal,” jelasnya.

SMK didorong tak hanya mencetak pencari kerja

Penguatan pendidikan vokasi juga diarahkan agar lulusan SMK memiliki keberanian membangun peluang sendiri.

Abdul Mu’ti mendorong kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan soft skills agar menjadi bagian penting dalam pembelajaran. 

Baca Juga: Pemerintah Tak Naikkan Tarif Pajak 2027, Target Penerimaan Capai Rp2.591,4 Triliun

Menurutnya, keterampilan teknis dapat berubah mengikuti perkembangan zaman sehingga siswa perlu dibekali kemampuan yang lebih tahan terhadap perubahan.

“Jangan selalu anak SMK itu didorong kerja kantor pakai lamaran berlapis-lapis, beri mereka visi tentang entrepreneurship. Karena kreativitas dan soft skills-nya itu yang didorong. Kalau hard skills, keterampilan teknis, akan cepat usang,” ungkap Mendikdasmen.

Potensi daerah pun dinilai bisa menjadi kekuatan pendidikan vokasi. 

Komoditas seperti kopi, teh, nilam, hingga sektor perikanan dapat dikembangkan menjadi bidang keahlian yang sesuai dengan karakter wilayah.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar teori atau keterampilan teknis, tetapi juga diarahkan untuk melihat potensi di sekitarnya sebagai peluang ekonomi.

Baca Juga: Film 9 Temples to Heaven Resmi Wakili Thailand di Oscar 2027, Ini Kisahnya

Guru SMK ikut digenjot menghadapi perubahan

Sebanyak 118 guru dari 11 provinsi mengikuti program upskilling dan reskilling dengan tiga bidang keahlian, yakni Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, serta Teknik Komputer dan Jaringan.

Kegiatannya tidak berhenti pada pembelajaran di kelas. 

Para guru mengikuti lokakarya, kunjungan industri, hingga uji kompetensi keahlian agar kemampuan yang dimiliki tetap selaras dengan kebutuhan dunia kerja.

Penguatan juga menyentuh kompetensi pedagogik, kewirausahaan, pembelajaran berbasis projek, pembelajaran mendalam, teknologi digital, coding, dan kecerdasan artifisial.

“Para guru ini memang harus terus meningkatkan kemampuannya. Continuing Professional Development. Upskilling, reskilling, itu ditingkatkan kemudian pelajari skill yang baru," sebutnya.

Abdul Mu'ti mengakui hard skills saja tidak cukup, soft skills harus diperkuat.

"Karena hard skills atau kemampuan teknis itu akan mudah usang sehingga yang harus kita tekankan adalah soft skills, kreativitas, inovasi, kemampuan untuk beradaptasi, menyelesaikan masalah dan lain-lain, AI, koding, dan sebagainya itu juga harus kita berikan,” tuturnya.

Baca Juga: 80 Sekolah Swasta Elite Tak Lagi Dapat MBG, BGN Ungkap Alasannya

LKP terdampak banjir mendapat perhatian

Pada jalur pendidikan nonformal, Kemendikdasmen menyalurkan bantuan peningkatan mutu sebesar Rp4,18 miliar kepada 71 LKP di Aceh dan Sumatra Utara.

Bantuan ini menjadi penting karena banjir tidak hanya merusak bangunan. 

Peralatan praktik dan fasilitas pembelajaran juga ikut terdampak sehingga kegiatan kursus bagi masyarakat terancam terganggu.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan keberlangsungan pembelajaran tetap harus dijaga meski lembaga pendidikan menghadapi situasi sulit.

“Kalau kita review ke sebelumnya, bencana alam di wilayah Aceh dan Sumatra Utara berdampak merusak bangunan dan merendam alat praktik serta menguji keberlangsungan proses belajar di LKP," jelasnya.

Baca Juga: Harga Tiket BIGBANG Jakarta 2027 Mulai Rp1,55 Juta, Ini Jadwal Presale

Namun LKP, lanjutnya, bukan sekadar fisik bangunan saja yang terkena, melainkan juga ruang harapan bagi anak bangsa untuk meraih keterampilan.

"Dalam kondisi sulit apa pun tentu kita harus tetap memastikan pendidikan bermutu untuk semua, dan Kemendikdasmen menyalurkan bantuan peningkatan mutu sebesar Rp4,18 miliar kepada 71 lembaga kursus dan pelatihan,” tutur Dirjen Tatang.

Dari jumlah tersebut, 49 LKP berada di Aceh. 

Rinciannya meliputi 21 LKP di Kabupaten Bireuen, 12 LKP di Kabupaten Aceh Tamiang, 10 LKP di Kota Langsa, dan 6 LKP di Kota Lhokseumawe.

Sementara di Sumatra Utara terdapat 22 LKP penerima bantuan. 

Sebanyak 17 berada di Kabupaten Langkat dan 5 lainnya di Kabupaten Deliserdang.

Baca Juga: Polisi Amankan 322 Orang Terkait Demo 27 Agustus, Sebanyak 160 Orang Kategori Anak-anak

Bantuan tersebut diarahkan untuk memulihkan sarana belajar, memperkuat tata kelola, serta menghadirkan kembali media pembelajaran yang dapat menyesuaikan kebutuhan peserta didik.

“Penyaluran ini merupakan modal nyata untuk memulihkan sarana belajar sekaligus memperkuat tata kelola dan menghadirkan kembali media pembelajaran yang adaptif sejalan dengan kebijakan pemerataan mutu dan pendidikan karakter berbasis vokasi,” jelasnya.

Dari bangkit setelah banjir hingga membuka peluang mandiri

Dampak bantuan itu mulai dirasakan lembaga penerima. 

LKP Sakinah, misalnya, sempat mengalami kerusakan akibat banjir pada November 2025.

Mesin jahit serta peralatan tata busana dan kecantikan ikut terendam. 

Baca Juga: Wujudkan Pembangunan Merata hingga Pelosok, 2 Jembatan Gantung di Jember Diresmikan Gus Fawait Bersama PSMTI dan PT Pegadaian

Padahal, lembaga tersebut menjadi salah satu tempat belajar bagi masyarakat, termasuk anak putus sekolah yang ingin memiliki keterampilan untuk dikembangkan menjadi usaha.

Pimpinan LKP Sakinah, Samsinar, menyebut bantuan tersebut membuat lembaganya perlahan dapat kembali menjalankan kegiatan kursus.

“Alhamdulillah dengan adanya bantuan dari Kemendikdasmen, kami hari ini sudah pelan-pelan bangkit kembali untuk menjalankan kursus ini, yang selama ini anak-anak, terutama anak putus sekolah, sangat membutuhkan lembaga kursus ini tetap berjalan,” jelas Samsinar.

Hal serupa dirasakan LKP Rita di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. 

Lembaga tersebut mendapat bantuan Rp50 juta untuk mengganti mesin dan menunjang kegiatan pelatihan masyarakat setelah sejumlah fasilitasnya terdampak banjir.

Baca Juga: Rupiah Menguat Memang Usai Gubernur BI Terpilih, Namun Masih di Level Rp 17.693 per Dolar AS

Pimpinan LKP Rita, Dewi Rita, berharap bantuan tersebut dapat mengembalikan sarana pembelajaran sekaligus menjaga semangat lembaganya dalam mendidik masyarakat.

"Semoga dengan bantuan ini kami dapat meningkatkan dan mengembalikan kembali sarana sebagai penunjang dalam melaksanakan program kami, dan terus semangat mendidik murid sehingga dapat meningkatkan SDM yang bermanfaat di masyarakat,” jelasnya.

Bagi Dewi, keberadaan LKP membuka jalan bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan tanpa harus selalu menempuh pendidikan tinggi.

“Dengan adanya LKP mereka mampu berkarya walaupun tidak harus dengan berkuliah (sehingga) mereka mampu berusaha sendiri,” tutupnya. ***