POJOKSATU.id - Cuaca ekstrem yang kembali menghantam Sumatera Barat membuat Pemprov Sumbar menetapkan status tanggap darurat bencana hingga 29 November 2025.

Demi keamanan peserta didik, guru, dan tenaga pendidikan lainnya, aktivitas belajar pun langsung dilakukan penyesuaian agar semua tetap aman.

Mulai 27 sampai 29 November 2025, pembelajaran tatap muka dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) lewat berbagai platform digital.

"Kebijakan tersebut merupakan langkah perlindungan terhadap keselamatan seluruh pihak di sekolah seiring meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang di sejumlah daerah," terang Gubernur Sumbar Mahyeldi di sela kunjungannya ke lokasi bencana, Kamis (27/11/2025).

Baca Juga: Rincian Insentif Bagi Guru Honorer yang Diterima Tahun 2026! Ada Kenaikan Nominal!

Menurut Mahyeldi, keselamatan harus jadi acuan utama. Jika kondisi tidak mendukung, ya pembelajaran boleh ditunda atau dialihkan ke metode yang lebih aman.

"Dalam situasi seperti ini, keselamatan adalah prioritas utama. Kewajiban kita memastikan seluruh masyarakat berada dalam kondisi aman," jelasnya.

Ia menambahkan, penetapan status Tanggap Darurat Bencana memberi ruang bagi daerah untuk lebih adaptif dalam melindungi masyarakat.

Setiap kebijakan juga harus memastikan tidak menambah beban baru bagi warga yang sedang berjuang menghadapi cuaca ekstrem.

Gubernur turut mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, waspada, dan mengikuti arahan resmi pemerintah maupun petugas di lapangan.

Pemprov Sumbar memastikan terus memantau perkembangan situasi, dan jika kondisi belum kondusif, penyesuaian pembelajaran bisa saja diperpanjang sesuai kebutuhan.

Baca Juga: PPG Guru Tertentu Tahap 5 Dipercepat untuk Kerja Pencairan TPG di Bulan Maret 2026? Begini Penjelasannya!

Dinas Pendidikan Sumbar juga sudah mengedarkan Surat Edaran Nomor 300.2.1/7371/SEK/DISDIK-2025 kepada seluruh SMA, SMK, dan SLB. Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Habibul Fuadi menegaskan bahwa meski tatap muka ditiadakan, sekolah tetap wajib melaksanakan PJJ.

Ia memberi fleksibilitas kepada kepala sekolah untuk memperpanjang masa PJJ bila kondisi daerah masing-masing masih berisiko.

"Keputusan kepala sekolah sangat menentukan, karena merekalah yang paling memahami situasi dan kondisi di lapangan," kata Habibul. Ia berharap seluruh guru tetap memberikan layanan pembelajaran yang terstruktur dan proporsional, sembari menjaga keselamatan diri dan keluarga.

Aceh Sesuaikan Aktivitas Sekolah

Tidak hanya Sumbar, Aceh juga menghadapi kondisi serupa. Plt Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyampaikan bahwa keputusan libur bagi sekolah terdampak banjir diserahkan sepenuhnya kepada kepala sekolah dan dewan guru.

"Kami sampaikan kepada Cabdin dan staf kami bahwa terkait libur sekolah di daerah bencana, kita serahkan kepada kepala sekolah dan dewan guru, karena mereka lah yang tahu situasi untuk meliburkan atau tidak," ujarnya pada Jumat (28/11/2025).

Untuk sekolah yang masih dalam kondisi normal, baik listrik maupun jaringan, Dinas Pendidikan menganjurkan agar pembelajaran tetap berlanjut. Namun jika tidak memungkinkan, ya bisa dilakukan secara daring.

Sejumlah sekolah di Aceh pun terpaksa meliburkan diri sementara waktu. Di Kabupaten Pidie, Sekolah Sukma Bangsa Pidie misalnya, memutuskan menghentikan pembelajaran hingga akhir pekan.

“Benar, sekolah sementara kami liburkan hingga akhir pekan ini dengan kondisi cuaca ekstrem yang memengaruhi hampir semua wilayah di Aceh, termasuk Kabupaten Pidie,” ujar Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari.

Keputusan itu juga mempertimbangkan banyaknya guru dan wali murid yang terdampak banjir. Namun, ada harapan proses belajar bisa kembali berjalan normal awal pekan depan. “Jika tidak ada kendala dan kondisi membaik, Insyaallah Senin, 1 Desember, sekolah akan kembali aktif,” jelasnya. ***