POJOKSATU.id – Penghargaan Anugerah Riset kembali menegaskan peran penting inovasi teknologi kesehatan karya anak bangsa.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah bandana terapi insomnia yang berhasil meraih Gold Winner dalam ajang bergengsi tersebut.
Penghargaan diserahkan dalam acara penganugerahan di Gedung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta.
Baca Juga: Sawit di Pasaleman Dipastikan Dicabut! Bupati Cirebon Pilih Ganti Jadi Mangga Gincu
Acara ini turut dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., bersama para peneliti dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi.
Peraih Gold Winner Anugerah Riset, Rudi Setiawan, menjelaskan bahwa bandana terapi insomnia ini dikembangkan melalui kolaborasi dosen Universitas Muhammadiyah Malang dengan tiga mahasiswa Teknik Biomedis Institut Teknologi Sumatera (Itera).
Riset ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan terapi gangguan tidur yang praktis dan mudah diakses.
Baca Juga: Jejak Panjang Rieke 'Oneng', Dari Aktivis hingga Penasehat Bupati Bekasi yang Kini Disorot KPK
“Perangkat tersebut dirancang sebagai alternatif terapi insomnia yang noninvasif, aman, dan mudah digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari penderita gangguan tidur hingga pekerja dengan sistem kerja bergilir,” katanya, dilansir dari Itera, Minggu (4/1/2025).
Bandana terapi ini memadukan pemantauan aktivitas otak melalui teknologi EEG dengan stimulasi suara binaural beats.
Kombinasi keduanya membantu pengguna mencapai kondisi rileks, sehingga kualitas tidur dapat meningkat tanpa ketergantungan obat.
Seluruh fungsi monitoring dan terapi terintegrasi dalam satu perangkat yang bisa digunakan secara mandiri.
Menariknya, perangkat ini berbeda dengan EEG konvensional yang umumnya rumit dan kurang nyaman.
Bandana terapi insomnia hanya menggunakan satu kanal EEG dengan elektroda berbahan kuningan berlapis emas. Desain tersebut membuatnya lebih ringan, ergonomis, dan tetap nyaman dipakai saat tidur.
Proses terapi dikendalikan melalui aplikasi seluler. Pengguna dapat mengatur durasi terapi, memilih frekuensi suara binaural beats, hingga memantau hasil sinyal otak secara real time.
Pendekatan ini menjadikan teknologi kesehatan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Rudi berharap inovasi yang telah memperoleh paten sederhana atas nama Itera ini mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas tidur masyarakat.***




