POJOKSATU.id — Kemajuan teknologi kecerdasan buatan membuat banyak penulis memanfaatkannya saat menyusun artikel ilmiah.
AI mampu membantu mencari referensi, memperbaiki grammar, hingga menyusun kerangka tulisan.
Namun, muncul pertanyaan mengenai aturan penggunaan AI pada jurnal, mengingat setiap penerbit memiliki kebijakan berbeda.
Baca Juga: Rutan Balikpapan Gagalkan Penyelundupan Narkoba dalam Bungkus Permen
Artificial Intelligence (AI) merupakan sistem yang dirancang untuk meniru kecerdasan manusia dalam memproses informasi dan memberikan respons.
Teknologi ini banyak digunakan di dunia pendidikan karena dapat mengefisienkan waktu dan sumber daya dalam proses penulisan karya ilmiah.
Meski begitu, tetap ada batasan etika agar integritas karya tetap terjaga.
Baca Juga: Rayakan Semangat Membaca Perpusnas RI Selenggarakan Festival Literasi 2025
Penggunaan AI sebagai alat bantu sah-sah saja selama tidak menggantikan kemampuan berpikir, analisis, serta kontribusi ilmiah penulis.
Di sinilah pentingnya memahami kebijakan penerbit jurnal.
Kebijakan Penggunaan AI pada Penerbit Elsevier
Elsevier memperbolehkan penggunaan AI, namun menetapkan sejumlah aturan yang harus dipatuhi penulis:
Baca Juga: INFO Terbaru Jadwal Pencairan TPG Triwulan 3 Bagi Guru SKTP 15 Oktober 2025!
1. AI sebagai alat bantu
AI hanya diperbolehkan untuk membantu, bukan menggantikan penulis dalam menyusun artikel ilmiah. Misalnya untuk menggali topik dan menyusun outline.
2. Wajib memverifikasi kebenaran respons AI
Informasi yang dihasilkan AI perlu diverifikasi agar akurat dan berbasis sumber kredibel.
3. Penulis wajib memastikan orisinalitas
Tulisan tetap harus orisinil dan bebas plagiarisme meskipun menggunakan bantuannya untuk parafrase.
Baca Juga: Temuan Sumur Ilegal di Depo Air Isi Ulang, DPRD Depok Serukan Pengawasan Lintas Sektor
4. Wajib menyatakan penggunaan AI
Pemanfaatan AI harus diakui secara transparan, misalnya dicantumkan dalam bagian daftar pustaka atau catatan etika penelitian.
5. Tidak melanggar hak cipta dan privasi
Penulis perlu memastikan platform AI yang digunakan aman dan tidak menampilkan data yang melanggar etika.
6. Artikel tetap merupakan buah pikiran penulis
Ide, analisis, dan kesimpulan akhir harus sepenuhnya berasal dari penulis.
Perbedaan Kebijakan di Penerbit Lain
Kebijakan ini bisa berbeda di penerbit atau jurnal lainnya.
Karena itu penulis wajib membaca pedoman masing-masing jurnal sebelum melakukan submit.
Jika dilarang, maka penggunaan AI harus dihentikan sejak awal proses penulisan untuk menghindari penolakan publikasi.
Baca Juga: Ditjen Risbang Luncurkan 6 Program Riset Prioritas 2026 untuk Dosen dan Perguruan Tinggi
Hal yang Harus Diperhatikan saat Menggunakan AI
Selain aturan penerbit, ada beberapa kendala yang perlu dipahami:
1. AI belum sepenuhnya mampu memilih sumber relevan dan terbaru
Ada risiko informasi yang diberikan sudah tidak mutakhir atau keluar konteks topik penelitian.
2. Potensi kemiripan dengan karya lain
Jika tidak diedit, ada kemungkinan hasil AI menjiplak secara tidak sengaja.
Baca Juga: Hakim PN Karawang: Permohonan Pengalihan Tahanan Neni Ibu Menyusui Diputus Kamis
3. Respons AI bisa keliru atau error
Tanpa verifikasi, konten yang salah dapat menurunkan kualitas artikel sekaligus kredibilitas penulis.
AI memberi banyak manfaat dalam penyusunan artikel ilmiah, tetapi bukan pengganti kontribusi ilmiah manusia.
Penulis tetap harus bekerja secara mandiri dan bertanggung jawab agar karya yang dipublikasikan terjamin orisinalitas dan akuntabilitasnya. ***




