POJOKSATU.id - Istilah research gap atau celah penelitian sudah sangat akrab di kalangan peneliti berpengalaman.
Namun, bagi mahasiswa yang baru akan mengerjakan skripsi atau menulis publikasi ilmiah pertama, istilah ini sering kali masih terasa asing.
Padahal, memahami research gap menjadi fondasi penting agar penelitian yang dilakukan benar-benar memiliki nilai kebaruan.
Baca Juga: Mahasiswa ITS Ciptakan Sistem Deteksi Dini TBC Lewat Suara Batuk, Akurat dan Terjangkau
Secara sederhana, research gap merupakan celah atau kesenjangan dalam penelitian yang masih belum terjawab secara tuntas oleh riset-riset sebelumnya.
Celah ini bisa muncul karena keterbatasan data, perbedaan temuan, perubahan situasi, hingga munculnya fenomena baru yang belum pernah diteliti.
Mengabaikan research gap bisa berdampak serius. Penelitian berisiko dianggap mengulang karya terdahulu, tidak relevan, bahkan berujung tudingan plagiarisme.
Baca Juga: Ahok Ledek Wacana Pilkada DPRD: Mengambil Hak Rakyat! Sistem Ini Memang Dibuat untuk Curang!
Karena itu, memahami konsep research gap menjadi langkah krusial agar hasil riset memiliki kualitas akademik yang kuat dan kontribusi ilmiah yang jelas.
Pengertian Research Gap
Secara bahasa, research gap berarti celah atau kesenjangan penelitian.
Baca Juga: Panduan Lengkap Download Video TikTok Tanpa Watermark Menggunakan SaveFrom
Dalam konteks ilmiah, research gap merujuk pada ketidaksesuaian antara temuan penelitian terdahulu dengan data terbaru, konsep baru, atau kondisi aktual di lapangan.
Dengan kata lain, research gap adalah pertanyaan, masalah, atau topik yang belum terjawab secara memadai dalam penelitian sebelumnya.
Celah ini bisa muncul karena hasil riset yang saling bertentangan, teori yang belum mampu menjelaskan fenomena tertentu, atau kondisi baru yang membuat hasil penelitian lama menjadi kurang relevan.
Baca Juga: Ahok Blak-blakan Soal Chromebook Nadiem: Kalau Saya Jadi Menteri, Saya Juga Akan Beli!
Research gap juga dapat dipahami sebagai area kajian yang informasinya masih terbatas sehingga kesimpulan ilmiah yang solid belum dapat dirumuskan.
Meski menunjukkan adanya kelemahan dalam teori atau riset terdahulu, research gap justru menjadi peluang emas bagi peneliti untuk menghadirkan pengetahuan baru.
Fungsi Research Gap dalam Penelitian
Research gap muncul akibat adanya kesenjangan antara hasil penelitian terdahulu dengan fakta di lapangan atau laporan riset lain.
Baca Juga: Pendaftaran PPPK KemenHAM 2026 Tidak Perlu SKCK! Tapi Diperlukan di Tahap Ini
Kesenjangan ini menjadi ruang kosong dalam khazanah ilmu pengetahuan yang perlu diisi melalui penelitian baru.
Menemukan research gap berfungsi untuk memastikan penelitian yang dilakukan tidak sekadar mengulang topik lama.
Saat mengajukan proposal skripsi, misalnya, dosen pembimbing hampir selalu menanyakan apa perbedaan penelitian tersebut dengan riset sebelumnya.
Baca Juga: Pendaftaran PPPK KemenHAM 2026 Tidak Perlu SKCK! Tapi Diperlukan di Tahap Ini
Jawaban atas pertanyaan ini akan jauh lebih mudah jika peneliti sudah mengidentifikasi research gap sejak awal.
Secara lebih rinci, fungsi research gap antara lain memicu munculnya pertanyaan penelitian baru, menghindari duplikasi riset, memastikan adanya kebaruan temuan
Baca Juga: Agar Tak Error, Ini Jam Sepi Akses SSCASN Saat Daftar PPPK KemenHAM 2026
Selanjutnya meningkatkan kualitas penelitian, memperluas pemahaman ilmiah, serta memperbesar kontribusi sains bagi masyarakat.
Jenis-Jenis Research Gap
Philip Adu dan Anthony Miles dalam buku Dissertation Research Methods: A Step-by-Step Guide to Writing Up Your Research in the Social Sciences (2023) menjelaskan bahwa terdapat tujuh jenis research gap yang umum ditemukan dalam penelitian ilmiah.
1. Celah Teoritis (Theoretical Gap): Celah ini muncul ketika teori yang ada belum mampu menjelaskan fenomena yang diamati. Kondisi ini mendorong peneliti untuk mengembangkan teori baru atau memperluas teori yang sudah ada.
Baca Juga: Begini Cara Daftar PPPK KemenHAM 2026 di SSCASN! Dari Login, Upload Dokumen, Hingga Cetak Kartu
2. Celah Bukti (Evidence Gap): Evidence gap terjadi saat bukti empiris yang ditemukan tidak selaras dengan teori atau belum cukup kuat untuk mendukungnya. Peneliti perlu mengumpulkan data baru atau menggunakan pendekatan analisis yang berbeda.
3. Celah Populasi (Population Gap): Celah ini muncul karena sampel penelitian terdahulu belum mewakili populasi secara menyeluruh. Akibatnya, hasil penelitian sulit digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas.
4. Celah Empiris (Empirical Gap): Empirical gap berkaitan dengan ketidakkonsistenan hasil penelitian. Perbedaan temuan bisa disebabkan oleh metodologi, sampel, atau konteks penelitian yang berbeda.
5. Celah Pengetahuan (Knowledge Gap): Celah ini terjadi ketika suatu fenomena belum pernah diteliti sama sekali. Biasanya muncul akibat adanya fenomena baru atau topik lama yang sebelumnya sulit dikaji.
6. Celah Pengetahuan Praktis (Practical-Knowledge Gap): Celah ini muncul ketika hasil penelitian belum mampu diterapkan secara nyata dalam praktik profesional. Penelitian lanjutan dibutuhkan agar temuan ilmiah bisa diterjemahkan ke dalam kebijakan atau tindakan praktis.
7. Celah Metodologis (Methodological Gap): Celah metodologis terjadi ketika metode penelitian sebelumnya dinilai kurang tepat atau tidak memadai untuk menjawab pertanyaan riset. Perbaikan metodologi menjadi kunci untuk menghasilkan temuan yang lebih valid.
Baca Juga: Kontrak Kinerja Perguruan Tinggi Berdampak 2026, Arah Baru Kampus Menuju Indonesia Emas 2045
Tips Cara Menemukan Research Gap
Menemukan research gap merupakan langkah awal yang menentukan kualitas penelitian.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain mengamati fenomena baru yang belum memiliki penjelasan ilmiah, menelaah konsep yang terabaikan dalam penelitian terdahulu, serta menganalisis hasil riset yang masih menyisakan pertanyaan.
Membaca jurnal ilmiah secara mendalam juga sangat penting, terutama pada bagian abstrak, kesimpulan, dan saran penelitian lanjutan.
Baca Juga: Masih Jam Kerja, ASN di Aceh Barat Kepergok Nongkrong di Warung Kopi Saat Razia Satpol PP
Selain itu, kajian literatur sejenis, penggunaan basis data ilmiah, serta membaca jurnal review atau systematic literature review dapat membantu peneliti menemukan celah penelitian dengan lebih efisien.
Pemilihan kata kunci yang tepat juga berperan besar dalam proses pencarian literatur. Dengan kata kunci yang spesifik, peneliti dapat lebih mudah memetakan topik dan mengidentifikasi area yang masih minim kajian.
Contoh Research Gap
Sebagai contoh, sebuah penelitian tentang pembelajaran online selama pandemi menemukan bahwa banyak peserta didik kesulitan memahami materi.
Baca Juga: TPG untuk Guru Lulusan PPG Tahun 2025: Ini Bocoran Jadwal dan Alur Pencairannya
Namun, di sisi lain, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kesulitan memahami materi juga terjadi pada pembelajaran tatap muka.
Perbedaan ini memunculkan research gap yang menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Penelitian berikutnya dapat menggali apakah kesulitan belajar disebabkan oleh metode pembelajaran online itu sendiri atau faktor lain seperti strategi pengajaran dan karakteristik peserta didik.
Baca Juga: Perubahan Info GTK Awal 2026, Sinyal TPG Guru Segera Cair Bulanan
Celah penelitian semacam ini membuka peluang lahirnya temuan yang lebih komprehensif dan relevan. ***




