POJOKSATU.id – Banyak orang mengira ahli gizi, dietisien, dan dokter gizi itu sama. Padahal ketiganya punya peran dan kewenangan berbeda, lho.
Perbedaan ketiganya mulai dari yang fokus edukasi masyarakat sampai yang menangani masalah medis secara langsung.
Nah, biar tidak salah paham lagi, yuk kita kupas satu per satu secara lengkap.
Baca Juga: Berapa Lama Kuliah Ahli Gizi? Durasi Lengkap, Rincian Mata Kuliah, Praktikum, dan Prospek Kerja
Peran Ahli Gizi atau Nutritionist (Nutrisionis)
Ahli gizi atau nutrisionis adalah tenaga spesialis yang memberi edukasi tentang pola makan sehat, gizi seimbang, dan pencegahan masalah kesehatan lewat perbaikan asupan.
Mereka biasanya bekerja di lembaga pemerintah, komunitas, organisasi kesehatan masyarakat, atau secara mandiri lewat layanan konsultasi.
Seorang nutrisionis umumnya menempuh pendidikan Sarjana Gizi (S.Gz.) atau Magister Gizi (M.Gz.) di perguruan tinggi terakreditasi. Namun, tidak semua ahli gizi otomatis terdaftar atau memiliki akreditasi formal sebagai tenaga kesehatan klinis.
Dalam praktiknya, nutrisionis;
memberi saran pola makan untuk mencegah penyakit,
membuat program edukasi gizi,
menyusun materi kampanye kesehatan,
serta terlibat dalam penelitian atau industri pangan.
Mereka tidak berwenang menangani pasien dengan kondisi medis di rumah sakit. Ruang kerja mereka lebih ke pencegahan dan pemberdayaan masyarakat.
Untuk penanganan klinis, ada profesi yang khusus berwenang, yaitu dietisien atau Registered Dietitian (RD).
Peran Ahli Diet atau Dietisien (Registered Dietitian)
Dietisien adalah ahli gizi yang menjalani pendidikan profesi gizi dan lulus uji kompetensi sehingga mendapatkan gelar RD (Registered Dietitian). Di Indonesia, seorang dietisien dapat berasal dari:
Akademi Gizi (B.Sc Gizi)
Diploma III Gizi (Ahli Madya Gizi)
Diploma IV Gizi (Sarjana Terapan Gizi)
Strata Satu Gizi (S.Gz.)
Setelah lulus, mereka wajib mengikuti pendidikan profesi gizi dan menjalani uji kompetensi nasional sesuai regulasi kesehatan.
Dietisien memiliki kewenangan klinis, di antaranya:
mendiagnosis masalah gizi,
merancang diet medis,
memberi konsultasi kepada pasien,
bekerja sama dengan tim kesehatan lain untuk mendukung terapi pengobatan,
mengatur diet khusus pasien, misalnya kanker, HIV/AIDS, gagal ginjal, hingga diabetes.
Dietisien biasanya bekerja di rumah sakit, fasilitas kesehatan, lembaga pemerintahan, industri makanan, hingga lembaga kemanusiaan.
Baca Juga: 7 Fakta Tragedi Bullying Siswa SMPN Tangsel yang Meninggal Setelah Dirawat
Mereka juga berperan dalam penyusunan kebijakan publik terkait gizi dan kesehatan masyarakat.
Singkatnya, semua dietisien adalah ahli gizi, tetapi tidak semua ahli gizi adalah dietisien.
Peran Dokter Spesialis Gizi (SpGK)
Meski sering disamakan, dokter gizi berbeda dari nutrisionis dan dietisien. Mereka adalah tenaga medis yang menempuh pendidikan kedokteran, menjalani profesi dokter, kemudian melanjutkan program pendidikan dokter spesialis gizi klinik (SpGK).
Sebagai dokter, mereka memiliki wewenang medis yang tidak dimiliki profesi gizi lainnya, seperti:
Memberikan diagnosis medis terkait gangguan gizi,
Meresepkan obat-obatan dan suplemen,
Melakukan tindakan medis termasuk terapi gizi enteral dan parenteral (misalnya pemasangan NGT).
Mengawasi terapi gizi untuk pasien dengan kondisi akut maupun kronis.
Ilmu gizi klinik mempelajari pengaruh makanan, zat gizi, penyakit akut/kronis, serta penanganan dari pencegahan hingga rehabilitasi.
Dokter spesialis gizi juga sering bekerja sama dengan dietisien untuk penanganan pasien di rumah sakit, serta berkolaborasi dengan nutrisionis untuk edukasi di masyarakat.
Mana yang Harus Anda Datangi?
Secara garis besar:
Nutrisionis fokus pada edukasi, pencegahan, dan pola makan sehat untuk masyarakat umum.
Dietisien (RD) menanganinya di ranah klinis dan berwenang menyusun diet medis untuk pasien.
Dokter Spesialis Gizi (SpGK) menangani masalah gizi sekaligus kondisi medis dengan wewenang pemberian resep dan tindakan medis.
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Janji Kejar Uang Hasil Korupsi untuk Pendidikan di Era Smartboard Nasional
Dengan memahami perbedaan ini, Anda bisa memilih tenaga profesional yang tepat sesuai kebutuhan—mulai dari konsultasi pola makan, penanganan masalah gizi, hingga terapi medis yang lebih kompleks.
Masing-masing memiliki peran, tentu bukan karena arogansi. Kadang mereka bekerja bersama, tapi perannya tetap jelas dan saling melengkapi.
Semoga membantu memahami dunia gizi yang ternyata luas dan menarik ini, ya. ***




