POJOKSATU.ID - Sastra bandingan pernah menjadi salah satu pendekatan bergengsi dalam kajian ilmu sastra.

Ia hadir sebagai metode yang menjembatani teks lintas budaya, lintas ruang, bahkan lintas waktu.

Namun, dalam perjalanannya, disiplin ini dinilai mengalami pergeseran bahkan kemunduran.

Manneke Budiman dalam sejumlah pemikirannya mengungkap bagaimana sastra bandingan perlahan kehilangan eksistensinya sebagai institusi akademik yang kokoh.

Baca Juga: Bolehkah Ibu Menyusui Puasa? Ini 6 Tips Aman agar ASI Tetap Lancar dan Bayi Sehat

Fenomena ini bukan sekadar perubahan tren akademik, melainkan juga cerminan dinamika ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat sastra bandingan meredup?

Sastra Bandingan, Dari Lintas Budaya hingga Interdisipliner

Secara konseptual, sastra bandingan merupakan pendekatan yang mengkaji teks secara lintas budaya (across cultural).

Kajian ini tidak hanya membandingkan dua karya sastra, tetapi juga membuka kemungkinan perbandingan antara teks sastra dan nonsastra.

Baca Juga: Guru Non ASN Bertanya-Tanya Soal THR 2026, Apakah Termasuk Penerima? Ini Penjelasan Regulasi dan Skenario yang Mungkin Terjadi

Dalam sejarahnya, sastra bandingan mulai dikenal pada abad ke-19.

Gagasan awalnya dikaitkan dengan Sainte-Beuve yang menulis tentang pendekatan komparatif dalam sastra.

Sejak saat itu, sastra bandingan berkembang sebagai disiplin interdisipliner yang memerhatikan hubungan karya sastra dengan konteks sejarah, wilayah geografis, bahkan bidang lain seperti filsafat dan politik.

Fokus utama sastra bandingan terletak pada relasi bagaimana dua teks atau lebih saling berhubungan, saling memengaruhi, serta bagaimana pola pengaruh itu bekerja dalam lintas ruang dan waktu.

Tidak terbatas pada novel atau puisi, teks yang dibandingkan dapat berupa film, musik, seni rupa, hingga fenomena budaya yang lebih luas.

Namun, justru keluasan inilah yang di kemudian hari memunculkan persoalan identitas keilmuan.

Ketika Sastra Bandingan Dianggap “Musiman”

Salah satu faktor yang menyebabkan meredupnya sastra bandingan adalah meluasnya pusat kajian disiplin ini.

Baca Juga: Tes Urine AKBP Didik Putra Negatif tapi Hasil Tes Rambut Positif Narkoba, Bagaimana dengan Istrinya

Banyak institusi yang sebelumnya tidak mengakui sastra bandingan sebagai bidang serius, tiba-tiba menjadikannya bagian dari kurikulum akademik.

Akibatnya, karya-karya yang dibandingkan semakin beragam, termasuk karya-karya pinggiran.

Di satu sisi, hal ini tampak progresif.

Namun di sisi lain, sastra bandingan justru dianggap kehilangan fokus.

Baca Juga: Idulfitri 2026, BGN Tetap Salurkan MBG Meski Libur, Dibagikan Sekaligus dalam Paket Bundling

Ia dinilai menjadi pendekatan yang “musiman”, mengikuti tren tanpa fondasi metodologis yang kuat.

Di ranah akademik, sastra bandingan juga terlalu terpaku pada pendekatan ilmiah yang ketat.

Teori dan metode menjadi pusat perhatian, sementara pengalaman estetik kerap terpinggirkan.

Tidak semua orang yang membandingkan karya sastra bisa disebut komparatis, karena dibutuhkan landasan teori yang jelas.

Masalah muncul ketika teori-teori yang digunakan dalam sastra bandingan ternyata dapat pula dipakai oleh disiplin lain.

Di sinilah sastra bandingan mulai kehilangan keunikannya sebagai institusi akademik yang berdiri sendiri.

Terdesak Cultural Studies dan Studi Terjemahan

Kemunculan cultural studies menjadi tantangan besar bagi sastra bandingan.

Cultural studies mengkaji budaya melalui berbagai teks, tanpa memberikan keistimewaan khusus pada sastra.

Sastra diperlakukan setara dengan film, iklan, media massa, dan fenomena budaya populer lainnya.

Baca Juga: Kenapa Batam Tak Punya Jalan Tol? Ternyata Ini Alasannya, Kota Industri Tanpa Tol

Pendekatan teoritis yang digunakan cultural studies sering kali mirip dengan kajian sastra.

Bedanya, teori tersebut diterapkan secara luas pada fenomena nonsastra.

Akibatnya, ruang gerak sastra bandingan menjadi semakin sempit.

Tak hanya itu, studi terjemahan juga turut mengambil sebagian wilayah kajian sastra bandingan.

Baca Juga: Resmi Dibuka! Mudik Gratis PELNI untuk 800 Orang, Cuma Butuh NIK Aktif dan Akun PELNI Mobile

Terjemahan tidak lagi sekadar memindahkan bahasa, tetapi juga memindahkan gagasan, budaya, tradisi, sejarah, hingga sistem nilai suatu masyarakat.

Penerjemah memiliki kebebasan untuk menyesuaikan teks dengan konteks budaya pembacanya.

Dalam proses itu, terjemahan bukan hanya membandingkan dua bahasa, tetapi juga memperkenalkan pola pikir dan kebudayaan yang berbeda.

Peran ini sebelumnya menjadi salah satu kekuatan sastra bandingan.

Dengan berkembangnya studi terjemahan sebagai disiplin tersendiri, sastra bandingan kembali kehilangan sebagian wilayah otoritasnya.

Terjebak pada Pertanyaan “Apa”, Bukan “Bagaimana”

Manneke Budiman menyoroti bahwa salah satu kelemahan sastra bandingan adalah kecenderungannya berhenti pada pertanyaan “apa” dalam sebuah karya.

Pertanyaan tersebut sering kali dapat dijawab secara tersurat melalui teks.

Padahal, yang lebih penting adalah pertanyaan “bagaimana” bagaimana relasi itu terbentuk, bagaimana pengaruh bekerja, bagaimana konteks sosial dan historis memengaruhi penciptaan karya.

Jika hanya berfokus pada isi teks, kajian sastra berisiko menjadi kurang ilmiah.

Baca Juga: TPG 2025 Belum Cair di Banyak Daerah, Padahal Pusat Sudah Transfer? Ini Fakta Lapangan, Penyebab Tertahan, dan Langkah Aman Guru Agar Tidak Dirugikan

Sebaliknya, jika terlalu terikat pada metode dan teori tanpa menyentuh pengalaman estetik, kajian menjadi kering.

Idealnya, sastra bandingan mampu menggabungkan dua pendekatan tersebut mendalami pengalaman karya secara intens, sekaligus mengaitkannya dengan metodologi yang jelas dan sistematis.

Keseimbangan inilah yang seharusnya menjadi kekuatan sastra bandingan.

Tantangan Nasionalisme dan Keragaman Budaya

Kerja sastra bandingan sangat dipengaruhi oleh keberagaman bahasa dan kebangsaan.

Baca Juga: Kenapa Ada Daerah Sudah Cair 100 Persen, Sementara Lainnya Masih Nihil? Ini Peta Masalah Administrasi TPG 2025 yang Perlu Dipahami Guru

Di tengah fenomena nasionalisme yang menguat di berbagai negara, karya sastra sering menjadi representasi identitas bangsa.

Paradigma dan orientasi yang berbeda-beda ini menciptakan tantangan tersendiri.

Komparatis harus memahami konteks historis, politik, dan budaya dari setiap karya yang dibandingkan.

Semakin banyak keragaman yang dipahami, semakin luas pula kemungkinan perbandingan yang dapat dilakukan.

Namun, kompleksitas ini juga menuntut kepekaan dan kedalaman analisis yang tinggi.

Di era globalisasi dan digitalisasi, batas antarnegara semakin kabur.

Sastra tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan film, musik, fotografi, hingga media sosial.

Inilah ruang baru yang seharusnya dapat dimanfaatkan sastra bandingan untuk memperluas relevansinya.

Jalan Keluar, Membuka Diri pada Media Baru

Agar tidak semakin terpinggirkan, sastra bandingan perlu memperluas cakupan objek kajiannya.

Baca Juga: THR 2026 Dikabarkan Cair Awal Ramadan, Benarkah ASN dan Guru Bisa Terima Lebih Cepat? Simak Sinyal RAPBN dan Indikator Resmi yang Wajib Ditunggu

Tidak hanya teks sastra konvensional, tetapi juga teks nonsastra seperti film, musik, seni lukis, bahkan teknologi dan politik yang berkaitan dengan budaya.

Komparatis perlu diberi keleluasaan untuk mengembangkan teori secara kreatif, tanpa terkungkung batasan metodologis yang kaku.

Pada saat yang sama, tetap diperlukan pembatas yang jelas agar kajian tidak kehilangan arah.

Sastra bandingan pada hakikatnya bersifat terbuka, historis, dan interpretatif.

Baca Juga: Anggaran THR 2026 Disiapkan Rp55 Triliun, Apa Artinya Bagi Guru dan ASN? Ini Dampaknya pada Stabilitas Belanja Negara dan Jadwal Pencairan

Ia tidak dapat dikekang sepenuhnya oleh pertimbangan teoritis yang sempit.

Justru keterbukaan inilah yang menjadi peluang untuk kembali menemukan relevansinya.

Jika mampu memanfaatkan media baru dan fenomena budaya kontemporer sebagai ruang kajian, sastra bandingan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai disiplin yang adaptif terhadap zaman.

Menjaga Relevansi di Tengah Perubahan

Meredupnya sastra bandingan bukan berarti ia kehilangan makna.

Justru di tengah arus globalisasi, migrasi budaya, dan pertukaran gagasan lintas negara, kebutuhan akan pendekatan komparatif semakin besar.

Yang diperlukan adalah pembaruan cara pandang dari sekadar membandingkan isi teks, menjadi memahami dinamika relasi budaya yang melatarinya.

Dari sekadar teori yang kaku, menuju pendekatan yang fleksibel namun tetap ilmiah.

Sastra bandingan akan tetap relevan selama ia mampu menjawab tantangan zaman dan berani melampaui batas-batas lama.

Dalam konteks itulah pemikiran Manneke Budiman menjadi refleksi penting bagi dunia akademik bahwa sebuah disiplin ilmu harus terus bertransformasi agar tidak sekadar menjadi catatan sejarah.***